Recent

Syeikh Abul Hasan Asy Syadzili : Tentang "Siksaan"

Siksaan itu terdiri dari empat macam : 1. Siksaan melalui adzab. 2. Siksaan melalui hijab. 3. Siksaan melalui pengekangan , dan 4. Siksaan ...

Gus Dur : Tentang tasawuf dan Wihdatul Wujud (Manunggaling kawula lan Gusti)

Di dalam sebuah buku, Alwi Shihab pernah memaparkan bahwa penyebaran Islam di Negeri ini dilakukan antara lain oleh kaum Ulama pesantren.

Dari Mujahadah ke Muraqabah, sampailah pada Musyahadah

Mujahadah : Berjihad menumpas hawa nafsu yang menghalangi jiwa untuk dekat kepada Allah Ta’ala. Muraqabah : Memperhatikan gerak-gerik hati,...

Kita sering merasa yakin, tahukah apa itu "Yakin"?

Dan diantara tanda-tanda Ulama’ Akhirat itu ialah sangat bersungguh-sungguh menguatkan keyakinan. Karena keyakinan itu adalah modal Agama....

Menjadi Manusia Yang Manusiawi

Maksud dari kalimat "Manusia yang manusiawi" adalah menjadi manusia yang baik dan benar, serta manusia yang benar dan baik.

Thursday, April 21, 2011

Mari berjalan-jalan di dunia nafsu (Musuh yang dicintai kebanyakan manusia)


Seperti yang telah dijelaskan dalam catatan sebelumnya, dari sebuah buku yang berjudul “Insan Kamil”, saya mendapati ada empat pembagian nafsu (Muthmainnah, Supi’ah, Amarah, Lawwaamah). Salah satu dari keempat nafsu itu adalah nafsu untuk menuju kebaikan (Muthmainnah). Dari sini kita pasti tahu jika satu melawan tiga, jelas sulit untuk menang, kecuali dengan bantuan Allah Ta’ala.

Jika sudah begitu, hendaklah kita selalu berhati-hati terhadap nafsu yang senantiasa mengajak berbuat jelek. Karena hafsu adalah musuh yang paling berat balaknya, paling sulit merawatnya, paling pelik penyakitnya, dan paling sulit pengobatannya.

Keharusan berhati-hati terhadap nafsu ini disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:
- Nafsu adalah musuh yang datang dari dalam diri sendiri. Ibarat pencuri, apabila pencuri itu ada di dalam rumah itu sendiri, tentu akan sangat sulit disiasati, amat menyusahkan dan yang pasti meresahkan.
Benar sekali pa yang dikatakan oleh orang-orang kuno dulu:
“Nafsuku selalu mengajakku berbuat yang merugikan diriku, memperbanyak penyakitku. Bagaimana daya upayaku menghadapi musuh yang berada diantara tulang-tulang igaku?”.

- Nafsu itu musuh yang disukai dan (mungkin) dicintai. Kebanyakan manusia biasanya buta terhadap cela dirinya sendiri, malah hampir tidak melihat cela atau aib dirinya.
Sebagaimana yang juga dikatakan oleh orang-orang terdahulu:
“Engkau tidaklah melihat cela orang yang dicintai, juga tidak dapat melihat sebagian dari apa yang ada padanya (orang yang dicintai) apabila engkau sudah senang. Mata yang senang tentu tumpul (tidak dapat melihat) terhadap setiap cela, tetapi mata yang benci akan menampakkan berbagai keburukan”.

Kalau begitu, manusia cenderung menganggap baik setiap kejelekan yang datang dari nafsunya dan hampir-hampir tidak dapat melihat celanya, karena kebanyakan manusia sangat mencitai dirinya sendiri, padahal nafsu selalu memusuhi dan membuat madlarat kepada manusia. Tidak perlu memakan waktu lama bagi nafsu untuk menjerumuskan manusia kedalam keterbukaan aib dan kerusakan, sedangkan manusia sering tidak merasa, kecuali jika Allah Ta’ala menjaganya dan menolongnya mengalahkan nafsu, dengan Anugerah dan Rahmat-Nya.

Kemudian, mari kita renungkan satu faedah penting yang dapat memuaskan kita, yaitu : Apabila kita au memperhatikan, kita akan mengetahui bahwa asal semua fitnah, terbukanya aib, kehinaan, kerusakan dan dosa yang terjadi pada makhluk Allah Ta’ala (sejak permulaan makhluk sampai hari Qiamat), sumbernya adalah dari nafsu. Terkadang disebabkan oleh nafsu itu sendiri dan terkadang juga sebab bantuan nafsu.

Permulaan maksiat kepada Allah Ta’ala adalah dari iblis, sedangkan sebab maksiat iblis itu (sesudah Qadla’ Allah Ta’ala yang telah ditentukan) adala hawa nafsu. Dengan kesombongan dan kedengkian, nafsu menjerumuskan manusia kedalam lautan kesesatan, sehingga tenggelam selamanya. Karena, seperti yang telah dikatakan oleh Imam Ghazaly dalam kitab beliau bahwa di akhirat nanti tidak ada dunia, tidak ada makhluk dan tidak setan, namun nafsu (dengan kesombongan dan kedengkiannya) memperlakukan iblis dengan apa yang ia lakukan.

Mari kita mengingat kembali peristiwa Adam dan Hawa –‘Alaihimas salam— yang dikeluarkan dari surga Firdaus lantaran menuruti nafsu. Renungkan juga peristiwa Qabil dan Habil, penyebab Qabil membunuh Habil adalah kedengkian dan pelit. Kemudian peristiwa Harut dan Marut, penyebab Harut dan Marut turun derajatnya dan disiksa adalah karena menuruti hawa nafsu.
Demikian seterusnya sampai hari Qiamat.

Timbulnya fitnah, terbukanya aib di kalangan masyarakat, timbulnya kesesatan atau maksiat, pasti berasal dari nafsu dan kesenangan nafsu. Seandainya tidak nafsu, tentu semua manusia akan baik dan selamat.
Semoga Allah Ta’ala memberikan petunjuk dan pertolongan kepada kita semua, dan juga memberikan kita kekuatan untuk meredam, melawan dan mencegah hawa nafsu.

Tuesday, April 19, 2011

Tujuh langkah tipuan setan (seri pertempuran hati : Iblis VS manusia yang terjaga imannya)


Berikut adalah langkah-langkah setan dalam melancarkan tipuannya kepada manusia, langkah-langkah setan tersebut tergantung pada manusia yang digoda. Andai manusia yang digoda itu lemah imannya, maka serangan setan tidak akan sampai pada tujuh tahap.
Here we go.!!!

- Pertama, setan mencegah seseorang dari berbuat tha’at. Apabila orang itu dijaga oleh Allah Ta’ala, maka ia akan menolak bisikan iblis itu dengan mengatakan : “Hai iblis!!! Aku ini sangat membutuhkan tha’at kepada Allah Ta’ala, karena aku harus mempunyai bekal dari dunia yang fana ini untuk menuju akhirat yang kekal”.

- Kemudian setan menyuruhnya agar menunda. Jika orang itu dijaga oleh Allah Ta’ala, maka ia akan menolak dengan mengatakan : “Batas umurku tidaklah berada dalam kekuasaanku. Disamping itu, kalau aku menunda amal hari ini sampai besok, lalu kapan harus aku kerjakan amal itu jika umurku tidak sampai besok? Karena, setiap hari pasti ada amal yang harus aku kerjakan”.

- Lalu setan menyuruhnya untuk segera bermal. Setan membisikkan : “Baiklah, cepat-cepatlah beramal, agar segera selesai dan dapat mengerjakan amal yang lain”.
Apabila orang itu dijaga oleh Allah Ta’ala, maka ia bisa menolak dengan mengatakan : “Amal sedikit tapi sempurna adalah lebih baik dari pada amal banyak yang tidak sempurna”.

- Kemudian setan menyuruhnya supaya menyempurnakan amal dengan menampak-nampakkan kepada orang lain (riyaa’). Jika orang itu dijaga oleh Allah Ta’ala, maka ia akan menolak dengan mengatakan : “Apa perlunya aku beramal dengan memperlihatkannya kepaa orang lain? Bukankah sudah cukup bagiku bila dilihat oleh Allah Ta’ala?”.

- Lalu setan ingin menjerumuskan orang itu ke dalam ujub (mengagumi amal sendiri). Setan berbisik : “Betapa agung engkau! Betapa waspada engkau! Dan betapa mulia engkau!”. Jika orang itu dijaga oleh Allah Ta’ala, ia akan menolak dengan mengatakan : “Aku mampu beramal baik ini juga karena anugerah dari Allah Ta’ala. Aku tidak bisa apa-apa, aku hanyalah lalu lintas takdir Allah Ta’ala. Allah Ta’ala juga lah yang memberikan anugerah istimewa kepadaku dengan pertolongan-Nya dan juga yang menjadikan amalku bernilai dengan anugerah-Nya. Seandainya tidak ada anugerah Allah Ta’ala, apalah harganya amal ini dibandingkan dengan nikmat Allah Ta’ala yang diberikan kepadaku dan disejajarkan dengan maksiatku kepada Allah Ta’ala?”.

- Kemudian setan datang lagi dengan cara keenam yang merupakan tipu daya paling besar (paling sulit dihindari oleh kebanyakan orang) dan hanya bisa diketahui oleh orang yang benar-benar waspada. Setan berbisik : “Rajinlah engkau beribadah disaat tidak diketahui orang lain, maka Allah Ta’ala bakal menonjolkan dirimu di lain waktu”. Setan berbisik demikian dengan maksud agar amal itu sedikit bercampur dengan riyaa’. Jika orang itu dijaga oleh Allah Ta’ala, maka ia bisa menolak dengan mengatakan : “Wahai makhluk terkutuk!!! Sampai saat ini engkau selalu datang untuk merusak amalku. Dan sekarang kau datang lagi, pura-pura ingin membaguskan amalku, padahal sebenarnya hendak merusak. Aku hanyalah hamba Allah Ta’ala dan DIA lah Tuanku. Jika DIA berkehendak bisa saja DIA menonjolkan diriku kapan saja. Sebaliknya, DIA pun kuasa menyembunyikan. Kalau DIA berkehendak bisa saja menjadikanku sebagai orang yang berharga. Tetapi, DIA juga kuasa menjadikanku sebagai orang yang hina. Itu semua terserah kepada Allah Ta’ala. Aku tidak peduli, apakah akan ditonjolkan pada orang lain atau tidak. Orang lain tidak akan dapat berbuat apa-apa”.

- Kemudian setan itu kembali datang kepada orang itu dengan cara yang ketujuh, dia berbisik : “sesungguhnya engkau tidak perlu melakukan amal semacam ini. Karena, kalau memang engkau ditakdirkan menjadi orang yang beruntung, maka tidak beramal pun tidak apa-apa. Dan jika engkai ditakdirkan menjadi orang yang celaka, maka amalmu tidak akan ada gunanya”.
Apabila orang itu dijaga oleh Allah Ta’ala, maka ia akan menolak dengan mengatakan : “Aku hanyalah hamba!! Hamba wajib melaksanakan perintah karena sifat penghambaannya. Tuhan lebih mengetahui dengan sifat keTuhanan-Nya. DIA berwenang mengenakan hukum apa yang DIA kehendaki. DIA bisa berbuat apa saja yang DIA kehendaki. Disamping itu, suatu amal tetap bermanfaat bagiku, bagaimanapun keadaanku. Sebab, jika aku orang yang beruntung, maka aku membutuhkan amal agar ganjaranku bertambah banyak. Dan jika aku orang yang celaka, aku pun membutuhkan amal supaya aku mencela diriku. Selain itu, Allah Ta’ala tidak akan menyiksaku atas ketha’atanku kepada-Nya dalam keadaan bagaimanapun dan amal itu tidak akan merugikanku. Selain itu juga, seandainya aku dimasukkan ke neraka dalam keadaan tha’at itu lebih aku senangi dari pada aku dimasukkan ke neraka lantaran aku maksiat. Bagaimana tidak, sedangkan janji Allah Ta’ala pasti terwujud dan firman-Nya tentu benar. Allah Ta’ala menjanjikan ganjaran kepada orang-orang yang benar, Allah Ta’ala telah menjanjikan ganjaran kepada orang-orang yang tha’at. Jadi, barangsiapa menghaap Allah Ta’ala dalam keadaan beriman dan membawa ketha’atan, niscaya tidak akan masuk neraka dan pasti masuk surga. Bukan karena ia berhak masuk surga karena amalnya, melainkan sebab janji Allah Ta’ala yang benar”.

Perlu kita ketahui bahwa semua percakapan-percakapan diatas adalah berupa gerakan hati. Karena itu, mari kita waspada. Hati-hati dengan hati kita.
Tiada kekuatan untuk menyingkir dari maksiat dan tiada kekuatan untuk mengerjakan ibadah, jika tidak ada pertolongan Allah Ta’ala yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

“Khatir” --gerak hati-- (Malaikat Mulhim VS Setan Waswas)


Adapun asal timbulnya khatir, yaitu Allah Ta’ala menugasi di hati anak turun Adam, satu Malaikat yang mengajak berbuat kebaikan. Malaikat itu bernama Mulhim dan ajakannya biasa kita sebut “Ilham”.

Untuk mengimbangi Malaikat Mulhim ini, Allah Ta’ala juga memberi kuasa setan yang mengajak anak turun Adam untuk berbuat kejelekan. Setan itu bernama setan waswas dan ajakannya disebut waswasah. Jadi, Malaikat Mulhim pasti mengajak manusia kepaa kebaikan, sedangkan setan waswas tentu mengajak manusia berbuat kejelekan.
Demikian menurut kata sebagian besar Ulama’ kita.

Diceritakan dari seorang Guru Besar –Abu Bakr Al-Warraq- Rahimahullah :
Bahwa setan itu kadang-kadang mengajak manusia berbuat baik tetapi maksudnya jelek. Misalnya : setan mengajak manusia untuk melakukan perbuatan utama yang masih berada dibawah tingkatan perbuatan yang lain, atau mengajak manusia berbuat baik dengan maksud menarik manusia tersebut kedalam dosa besar --dimana kebaikannya tidak seimbang dengan kejelekan yang diperbuat--, seperti : ujub, riyaa dan sebagainya.

Dua makhluk halus ini (Malaikat Mulhim dan setan waswas) selalu bertempat dihati manusia. Sementara itu, manusia bisa merasakan pendengaran hatinya terhadap ajakan-ajakan tersebut. Hal ini sesuai dengan hadits-hadits yang diriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda :
“Apabila anak turun Adam dikaruniai anak, maka Allah Ta’ala menyertakan pada anak itu satu malaikat dan juga satu setan. Setan bertengger pada telingga hati manusia sebelah kiri dan malaikat bertengger pada telinga hati manusia sebelah kanan. Lalu keduanya selalu mengajak manusia tersebut”.
“Setan itu mempunyai tempat di hati anak turun Adam dan Malaikat juga mempunyai tempat”.

Kemudian Allah Ta’ala mengisikan pada ragangan manusia, watak yang condong kepada kesenangan-kesenangan dan memperoleh kelezatan-kelezatan bagaimanapun bentuknya, baik (halal) atau buruk (haram). Watak inilah yang disebut hawa nafsu yang selalu memalingkan manusia kepada berbagai kerusakan. Jadi, di dalam ragangan manusia terdapat tiga unsur yang selalu mengajak (satu diantaranya kita sendiri yang harus mengendalikannya, yaitu hawa nafsu –telah diterangkan dalam catatan sebelumnya--).

Selanjutnya, perlu kita tahu bahwa gerak-gerak hati itu adalah bekas-bekas yang timbul di dalam hati seseorang, yang mendorongnya dan mengajaknya untuk melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan.
Bekas-bekas inilah yang disebut “khatir”, karena berubah-ubahnya hati. Semua khatir yang timbul di hati seseorang itu sebenarnya dari Allah Ta’ala. Hanya saja, khatir itu dibagi menjadi empat bagian, yaitu :
1. Khatir yang ditimbulkan oleh Allah Ta’ala di dalam hati pada permulaan. Khatir ini semacam ini disebut “Khatir” saja.
2. Khatir yang diadakan Allah Ta’ala sesuai dengan watak manusia, khatir ini dinamakan “hawa nafsu” dan digolongkan kepada nafsu tersebut.
3. Khatir yang diwujudkan Allah Ta’ala sesudah adanya ajakan Malaikat Mulhim. Khatir ini dinamakan “Khatir Ilham” atau “Khatir Malakiy”, atau biasa juga kita sebut sebagai “Ilham” saja.
4. Khatir yang ditimbulkan oleh Allah Ta’ala sesudah adanya ajakan setan. Khatir ini disebut "Khatir syaithaniy” atau “waswasah”. Dinamakan demikian, sebab waswasah itu gerak hati yang datang dari setan tetapi sebenarnya khatir ini timbul sesudah adanya ajakan dari setan, sehingga seolah-olah khatir ini datang dari setan.

Sementara itu, khatir yang datang dari hawa nafsu selalu (cenderung) mengajak manusia kepada kejelekan demi mencegah kebaikan dan agar orang menyimpang.
Seperti itulah macam-macam gerak hati dan kehadiran Malaikat Mulhim dengan setan waswas dalam hati kita. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari godaan-godaan setan, serta menguatkan iman kita kepada Allah Ta’ala, Rasul-Nya, malaikat-malaikat-Nya, Kitab suci Al-qur’an, Hari Kiamat serta Qada’ dan Qadar-Nya.

Jadi, seperti itukah setan itu.?


Tentu benar ketika Yahya Bin Mu’adz Ar-Razie berkata : “Setan itu menganggur, sedangkan engkau sibuk (dengan berbagai pekerjaan). Setan itu dapat melihatmu, sedangkan engkau tidak dapat melihatnya. Engkau selalu lupa kepadanya, sedangkan setan tidak pernah lupa kepadamu. Dan setan punya banyak pembantu dalam dirimu”.

Jika memang demikian kedudukan setan, maka kita harus senantiasa memeranginya dan harus bisa mengalahkannya. Kalau tidak, maka kita tidak akan keluar dari kerusakan.
Seandainya kita bertanya : dengan apa kita memeranginya? Dengan apa kita bisa mengalahkan dan menolaknya?
Perlu kita tahu bahwa para Ulama’ yang ahli memerangi setan itu mempunyai cara-cara sebagai berikut :
1. Memohon perlindungan Allah Ta’ala, tidak ada jalan lain. Karena, setan itu bagaikan anjing yang diberi kuasa oleh Allah Ta’ala kepada kita. Jika kita sibuk memeranginya tanpa meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala, kita akan payah dengan sendirinya dan justru setan akan dengan mudah mengalahkan kita. Karena itu, melapor kepada pemilik anjing (Allah ta’ala) agar menyingkirkan setan dari kita adalah lebih utama.
2. Berjuang dan selalu mengawasinya (waspada), dan menolak segala ajakannya.
3. Kekalkan ingatan kita kepada Allah Ta’ala dengan lisan dan hati.
Seperti sabda Rasulullah SAW : “Dzikir kepada Allah Ta’ala itu bagi setan adalah sama dengan penyakit menular di tubuh anak turun Adam”.

Menurut pendapat Imam Ghazaly, cara yang benar dalam memerangi setan adalah dengan menggabungkan usaha-usaha tersebut. Jadi, pada awal usaha kita sudah seharusnya memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari kejahatan setan. Sebagaimana telah diperintahkan oleh Allah Ta’ala, karena hanya Allah Ta’ala sajalah yang berkuasa membereskan kejahatan setan. Jika kita melihat setan mengalahkan kita (ketika seseorang khilaf), maka kita harus menyadari bahwa kemenangan setan itu merupakan ujian dari Allah Ta’ala bagi kita, agar kita bersungguh-sungguh dalam memerangi dan memeras kekuatan dalam melaksanakan perintah Allah Ta’ala, serta agar kita benar-benar bersabar. Hal ini sama dengan perintah Allah Ta’ala dalam perang melawan orang-orang kafir. Padahal tanpa kita, Allah Ta’ala sangatlah mudah jika hanya membinasakan mereka. Maksudnya tidak lain adalah agar kita mendapatkan amal dalam perang, amal dari sabar, bisa bersih dari dosa dan bisa memperoleh syahadah (menjadi orang-orang yang mati syahid).
Sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala :
“Apakah kalian menyangka bahwa kalian akan masuk surga, sedangkan kalian belum membuktikan iman kalian dengan berperang dan belum bersabar menghadapi ujian Allah?”.

Selanjutnya, mungkin kita bertanya lagi : Bagaimana kita dapat mengetahui (mewaspadai) tipu daya setan dan bagaimana cara mengetahui hal itu?

Perlu kita tahu, bahwa setan itu mempunyai kelakukan suka menggoda yang disebut waswas. Waswas ini seperti panah yang ditembakkan kepada kita. Yang demikian itu dapat dimengerti sejelas-jelasnya dengan ilmu yang dipergunakan untuk mengenal berbagai gerak hati.
Yang kedua, setan itu memiliki reka daya yang bisa disamakan dengan jaring yang dipasang untuk menjerat anak turun Adam. Hal ini akan menjadi jelas, bila kita mengetahui tipuan-tipuan setan, sifat-sifatnya dan jalan-jalannya.

Saturday, April 9, 2011

Keutamaan diam dan macam-macam kerusakan lidah


Rasulullah SAW bersaba :
“Shalat adalah tiang agama, sedangkan diam itu Ibadah yang lebih utama. Bersedekah dapat mereda murka Allah SWT sedangkan diam itu ibadah yang lebih utama. Puasa dapat menjadi perisai dari api neraka sedangkan diam itu ibadah yang lebih utama. Jihad adalah puncaknya agama sedangkan diam itu ibadah yang lebih utama”.

“Diam adalah perhiasan bagi orang yang berilmu dan penutup bagi orang yang bodoh”.

“Diam adalah akhlak yang paling mulia”.

“Diam adalah perkara yang banyak manfaatnya tetapi sedikit sekali orang yang mau melakukannya”.

“Barangsiapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir maka lebih baik berkatalah dengan kebaikan atau (jika tidak bisa) diamlah”.

“Jagalah lidahmu kecuali untuk berbuat (berkata) kebaikan, sesungguhnya dengan menjaganya kamu telah mengalahkan syaithan”.


Macam-macam kerusakan lidah:

1. Membicarakan sesuatu yang tidak bermanfaat.
2. Berlebihan dalam berbicara dan melebihi dari kebutuhannya sekaligus tidak ada kemanfaatannya.
3. Membicarakan perkara bathil yaitu membicarakan perihal kemaksiatan misalnya membicarakan tingkah laku wanita, menceritakan beberapa tempat yang digunakan bermabuk-mabukan, tempat-tempat nongkrong orang fasiq, perilaku orang-orag yang sombong, tanda-tandanya orang yang dicela atau menceritakan perangai orang yang tidak disenangi.
4. Perdebatan dan perbantahan (mengunggulkan diri sendiri dan tidak mau mengalah).
5. Bermusuhan, bertengkar dan bercekcok.
6. Meyakinkan dalam berbicara agar didengar dan dipercaya.
7. Berbicara melampaui batas, yaitu berkata buruk, kei, kotor, jorok, makian, cacian, dan penghinaan.
8. Mengutuk, melaknat, dan mengharapkan seseorang akan keburukan dengan kata-katanya.
9. Bersyair dengan lidahnya secara berlebihan, mengajak berbuat hal-hal yang diharamkan misalnya menceritakan siat-sifat orang lain, tertawa, berbicara yang menyerupai wanita (bagi kaum laki-laki), membicarakan hal-hal yang bisa enarik syahwat, dll.
10. Mengejek, mencemooh, dan memperolok seseorang.
11. Menyebarluaskan rahasia (berkhianat).
12. Janji palsu (tidak menepati janji).
13. Berbohong dalam berkata dan bersumpah (terlebih lagi bersumpah dengan nama Allah SWT).
14. Ghibah (menggunjing), yaitu menceritakan aib orang lain.
15. Memitnah atau mengadu domba.
16. Halam Dzil Wajhaini (bermuka dua), yaitu orang yang mempunyai dua lidah (orang munafik yang lebih jelek daripada pengadu domba).
17. Pujian yang mengakibatkan enam kerusakan yaitu empat dari pihak (orang) yang memuji):
- Pujian dapat mendatangkan sifat sombong.
- Merasa paling unggul.
- Pujian dapat menimbulkan kesenangan dan kemalasan.
- Percaya diri (ini adalah sifat yang paling rumit untuk di nalar kerusakannya, padahal percaya pada diri sendiri adalah sebuah kesalahan –Insya Allah akan dibahas dalam artikel berikutnya-).
- Bisa mengakibatkan ketidak ikhlasan seseorang dalam beribadah.
- Pujian hanya untuk Allah SWT, jika itu datang dari mulut seseorang, bedakah itu dengan menyekutukan-Nya.??
18. Kesalahan pada tiap-tiap tutur kata yang lemah lembut.
19. Menimbulkan pertanyaan dari orang-orang yang bodoh tentang perkara-perkara yang rumit (janganlah bertanya sebelum dijelaskan/merasa kritis akan sesuatu hal).

Monday, April 4, 2011

Percakapan Rossi-Stoner usai balapan, motoGP Jeres, 03 April 2011 (gambaran dari Keburukan sebuah ambisi)


JEREZ – Casey Stoner harus mengubur ambisinya menjuarai GP Spanyol, Jerez, setelah terjatuh akibat menyenggol motor Valentino Rossi. Stoner tidak bisa melanjutkan balapan, sementara Rossi tetap menyelesaikan balapan hingga finis di posisi kelima.

Stoner yang memulai balapan dari posisi pertama, sebenarnya langsung memimpin balapan. Tapi, rider Honda Repsol dilewati Marco Simoncelli dan harus bersaing dengan Valentino Rossi yang sukses menyodok ke posisi tiga.

Petaka buat keduanya, The Doctor coba mengambil Stoner dari dalam di lap 8. sayang Rossi terlalu cepat mengambil keputusan dalam menyalip dan terlambat saat berbelok. Rider Ducati itu tergelincir dan membuat Stoner tidak sempat menghindari motor Rossi yang jatuh di depannya.

Seusai balapan, Rossi sendiri langsung mencari dan menghampiri Stoner untuk meminta maaf. Keduanya terlihat berjabat tangan.

Inilah petikan percakapan keduanya, seperti dilansir Crash.

Stoner (tersenyum): “Bagaimana bahumu? Apakah baik-baik saja?”
Rossi (dengan helm yang belum terlepas): “Saya sangat menyesal dan minta maaf.”
Stoner: “Okay. Kau punya masalah dengan cedera bahu itu?”
Rossi: “Saya membuat kesalahan besar”
Stoner: “Yeah. Sejujurnya, ambisi kamu mengalahkan talentamu.”
Rossi: “Eh?”
Stoner: “Ambisi yang ada lebih besar daripada bakat.”
Rossi: “Saya minta maaf”
Stoner: “Tidak masalah.”

Saat Rossi akan melintas di garis finis pada posisi lima, Stoner menyempatkan diri berlari ke pinggir sirkuit dan bertepuk tangan. Entah apa maksud dari tepuk tangan Stoner ini. Apakah bentuk kekecewaan atau memang ucapan selamat buat Rossi yang bisa menyelesaikan balapan?
Sumber : http://sports.okezone.com/read/2011/04/04/38/441912/percakapan-rossi-stoner-seusai-balapan

Satu pelajaran yang mungkin perlu kita tahu, bahwa ambisi itu penuh dengan hawa nafsu. Ambisi yang kuat akan kedudukan, jabatan, kekayaan atau apapun tentang duniawi, bisa saja meluluh tantahkan iman seseorang.

Saturday, April 2, 2011

Burgerkill


Ini merupakan sebuah cerita pendek dari 12 tahun perjalanan karier bermusik dari sebuah band super keras yang telah menjadi fenomena di populasi musik keras khususnya di Indonesia. Burgerkill band asal Ujungberung, tempat orisinil tumbuh dan berkembangnya komunitas Death metal / Grindcore di daerah timur kota Bandung. Burgerkill berdiri pada bulan Mei 1995 berawal dari Eben, scenester dari Jakarta yang pindah ke Bandung untuk melanjutkan sekolahnya. Dari sekolah itulah Eben bertemu dengan Ivan, Kimung, dan Dadan sebagai line-up pertamanya. Band ini memulai kariernya sebagai sebuah side project yang tidak punya juntrungan, just a bunch of metal kids jamming their axe-hard sambil menunggu band orisinilnya dapat panggilan manggung. Tapi tidak buat Eben, dia merasa bahwa band ini adalah hidupnya dan berusaha berfikir keras agar Burgerkill dapat diakui di komunitasnya. Ketika itu mereka lebih banyak mendapat job manggung di Jakarta melalui koneksi Hardcore friends Eben, dari situlah antusiasme masyarakat underground terhadap Burgerkill dimulai dan fenomena musik keras tanpa sadar telah lahir di Indonesia.

Alhasil line-up awal band ini pun tidak berjalan mulus, sederet nama musisi underground pernah masuk jajaran member Burgerkill sampai akhirnya tiba di line-up solid saat ini. Ketika dimulai tahun 1995 mereka hanya berpikir untuk manggung, pulang, latihan, manggung lagi dst. Tidak ada yang lain di benak mereka, tapi semuanya berubah ketika mereka berhasil merilis single pertamanya lewat underground phenomenon Richard Mutter yang merilis kompilasi cd band-band Bandung pada awal 1997. Nama lain seperti Full Of Hate, Puppen, dan Cherry Bombshell juga bercokol di kompilasi yang berjudul "Masaindahbangetsekalipisan" tersebut. Memang masa itu masa indah musik underground. Everything is new and new things stoked people! Tidak tanggung lagu Revolt! dari Burgerkill menjadi nomor pembuka di album yang terjual 1000 keping dalam waktu singkat ini. dan ini adalah sepenggal sejarah tentang band ini.

Berikut adalah sebagian dari musik yang telah meraka ciptakan, silahkan klik untuk mendownloadnya (jika berkenan) :

Burgerkill - Atur Aku.mp3

Burgerkill - Anjing Tanah.mp3

Burgerkill - Laknat.mp3

Burgerkill - Sadow Of Soroow.mp3

Burgerkill - Gelap Tanpa Akhir.MP3

burgerkill - terlilit asa.mp3

Burgerkill - 05 Angkuh.mp3

BurgerKill - Tinggalkan Aku Terdiam.mp3

Burgerkill - berkarat.mp3

Pertanyaan orang yang berilmu tentang ilmu

Ada baiknya kita menetap pada ilmu, belajar dan mengulang-ulangnya. Semoga Allah Ta’ala memberikan petunjuk pada kita, kepada orang-orang yang menempuh jalan akhirat, semoga Allah Ta’ala memberikan Taufik kepada kita semua, dengan karunia dan rahmat-Nya.

Telah tetap dalam sebuah hadits dari Rasulullah SAW bahwa “Menuntut ilmu itu fardlu atas setiap muslim”.
Mungkin timbul pertanyaan dari dalam diri kita, begini :
“Ilmu apakah yang dianggap fardlu itu? Dan seauh mana batasan-batasan ilmu yang wajib didapatkan oleh seseorang dalam masalah ibadah?”

Perlu kita tahu, bahwa ilmu yang fardlu untuk dituntut itu secaraglobal ada tiga, yaitu:
1. Ilmu Tauhid
2. Ilmu Sirri (Ilu yang berhubungan dengan gerak hati)
3. Ilmu Syari’ah

Adapun batasan kewajiban mempelajari tiga ilmu tersebut adalah sebagai berikut :
1. Ilmu Tauhid
Sekedar bisa mengetahui pokok-pokok agama, bahwa kita mempunyai Tuhan yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa berkehendak, hidup dan berfirman, mendengar dan melihat, Maha Esa tanpa ada yang menyekutui-Nya, mempunyai sifat-sifat kesempurnaan, bersih dari sifat kekurangan dan kemusnahan, bersih dari tanda-tanda kebaruan, menyendiri dengan sifat Qidam dari setiap yang baru. Kita juga mengerti bahwa Nabi Muhammad SAW adalah hamba Allah Ta’ala dan utusan-Nya, yang benar tentang semua yang beliau terangkan mengenai akhirat, kemudian ada tanda sunnah Rasulullah SAW yang harus kita ketahui. Hati-hati, jangan sampai kita membuat bid’ah dalam agama Allah Ta’ala tanpa berdasarkan pada Al-qur’an atau Atsar (Hadits Nabi atau perkataan para sahabat beliau), yang bisa mengakibatkankita berada dalam keduduka yang mengkhawatirkan di hadapan Allah Ta’ala.
Semua dalil ilmu Tauhid, asal atau pokoknya sudah disebutkan dalam Kitab Allah Ta’ala (Al-qur’an), dalil-dalil itu telah dituturkan para guru dalam kita-kitab yang mereka susun dalam menerangkan pokok-pokok menjalankan agama.
Secara umum dapat dikatakan bahwa Segala hal yang tidak kita mengerti, lalu kita merasa tidak aman dari kerusakan dengan ketidaktahuan kita, maka hukumnya fardlu ‘ain menuntut ilmu untuk mengetahuinya dan kita tidak boleh meninggalkannya.

2. Ilmu Sirri
Yang termasuk fardlu ‘ain mempelajarinya adalah mengetahui mana yang wajib dikerjakan dan mana yang waib ditinggalkan, agar kita dapat benar-benar mengAgungkan Allah Ta’ala, niat yang benar dan selmatnya iman.

3. Ilmu Syari’ah
Yang dianggap fardlu ‘ain mempelajarinya adalah mengetahui seluk beluk perbuatan yang dufardlukan kepada kita, agar kita dapat mengerjakan dengan benar. Misalnya bersuci dan shalat. Adapun haji, zakat dan jihad, jika memang telah menjadi fardlu ‘ain bagi kita, maka mengetahui ilmunya juga fardlu ‘ain, agar kita dapat mengerakannya dengan benar. Jika dari ketiganya (haji, zakat dan jihad) belum wajib untuk kita, maka belajarnya pun tidak (belum) wajib.

Inilah batas-batas ilmu yang wajib didapatkan dan diketahui oleh seseorang. Semoga Allah Ta’ala memberikan Taufik kepada kita semua, amin.

Thursday, March 31, 2011

Memahami peran budaya Pondok Pesantren

Orang sering melihat pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan. Ada juga yang memperlakukannya sebagai entitas politik karena para Kiai yang memimpin pondok pesantren memang memiliki pengaruh yang kuat di masyarakat.

Sangat menarik melihat peranan politik yang sekarang dijalankan secara bertentangan diantara para Kiai dari pondok pesantren yang berbeda-beda. Peranan ini akan menunjukkan “model” yang akan diikuti para pemilih. Memang ada perbedaan aspirasi politik diantara mereka. Ada yang sekedar menggunakan pengaruh yang mereka miliki untuk kepentingan “mendekat” kepada para pejabat tertentu. Namun, ada pula yang lebih mementingkan kemaslahatan umat dan memelihara kepentingan masyarakat lebih luas.

Jarang sekali orang melihat pondok pesantren sebagai medium budaya dalam kehidupan masyarakat. Dilihat dari peranan ini, itulah sebenarnya salah satu fungsi pondok pesantren yang (untuk sementara) diredupkan peranan politiknya. Dari hal itu timbul pertanyaan, dapatkah pondok pesantren (setelah melalui pertentangan dahsyat sebagai akibat pelaksanaan politik itu) akan utuh kembali (minimal sebagai lembaga yang membawakan peranan budaya) di masa-masa mendatang? Dapatkah pula pondok pesantren mempertahankan “kemurnian” yang dimilikinya?

Penjelasan singkatnya begini :
Kalau memang pondok pesantren mengalami proses politisasi sedemikian jauh sehingga kehilangan fungsi-fungsi lainnya kecuali fungsi politik, “hak hidup” yang dimiliki akan hilang dengan sendirinya karena ia akan mementingkan hubungan baik dengan sistem kekuasaan yang ada.

Dengan mengetahui peranan budaya yang dilakukan pondok pesantren, kita sebagai anggota masyarakat mendapatkan kekayaan pengetahuan tentang fungsi pondok pesantren. Jika peranan utama ini hilang dari kehidupan masyarakat, kita (termasuk saya pribadi yang juga alumni pondok pesantren) juga yang akan mengalami kerugian.

Peranan yang semula berdimensi budaya tidak dapat digantikan dengan peranan yang materialistis. Perkecualiannya adalah jika ada pergantian fungsi budaya oleh “peranan-peranan baru” yang tentu saja tidak dapat ditukar oleh sekedar keakraban dengan para pejabat dan penguasa-penguasa negara.
Dengan mengenal peranan pondok pesantren seperti yang telah disebutkan diatas, kita sampai pada sebuah kesimpulan yang sangat penting. Akan kita biarkan sajakah pergantian peranan budaya pondok pesantren seperti yang diuraikan diatas oleh peranan materialistis dari sebuah pendekatan politis? Tentu saja jawabnya tidak. Karenanya, kita justru harus memperkuat bentuk-bentuk budaya baru yang hingga saat ini belum dikenal oleh warga pondok pesantren sendiri.

Contoh proses itu adalah munculnya formalisasi penggunaan kata-kata bahasa arab untuk nama pondok pesantren. Jika dahulu pondok pesantren dikenal berdasarkan nama daerahnya, seperti Pondok Pesantren Tebu Ireng (Jombang) dan Pondok Pesantren Krapyak (Yogyakarta), sekarang menjadi Pondok Pesantren Salafiyah dan Al-Munawwir. Penggunaan bahasa arab ini tidak mengganggu proses budaya yang seharusnya berlangsung. Memang mudah mengatakan perubahan, tetapi yang lebih susah adalah melaksanakannya, bukan?

Monday, March 28, 2011

Permulaan gerakan hati dan pikiran menuju Ibadah

Pada permulaannya, di hati seseorang tergerak begini :
"Kita ini selalu dikaruniai berbagai nikmat oleh Allah SWT (seperti nikmat hidup, dapat berbuat berbagai macam hal, diberi akal, bisa berbicara, serta semua sifat mulia dan diberi berbagai kelezatan, disamping tersingkirnya aneka urusan dan penyakit yang merugikan diri kita) Dzat Yang Maha Memberikan kenikmatan yang beragam ini tentu menuntut kepada kita, agar kita bersyukur dan melayani-Nya. jika kita lalai dari melayani dan bersyukur kepada-Nya, pasti Dia akan menghilangkan nikmat-nikmat itu dari diri kita dan sebaliknya akan menghukum kita. Allah SWT yang menganugerahi segala rupa nikmat itu telah mengutus seorang hamba kepada kita, yaitu Nabi Muhammad SAW yang dikukuhkan dengan mukjizat luar biasa yang tidak bisa dialami oleh manusia lain. utusan ini sudah menceritakan kepada kita bahwa kita mempunyai Tuhan yang Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Mengetahui, hidup, berkehendak, berFirman, memerintah dan melarang, Tuhan yang kuasa menghukum kita bila kita berbuat maksiat dan kuasa memberi pahala kepada kita bila kita tha'at. Tuhan yang Maha Mengetahui segala apa yang kita sembunyikan dan gerak-gerik pikiran kita. Dia telah memberikan janji dan ancaman, serta memerintahkan agar kita senantiasa melaksanakan peraturan-peraturan agama Islam".

Jika di hati seseorang ada gerak-gerik semacam ini, maka di hatinya tentu ada rasa bahwa tuntutan agar bersyukur dan melayani-Nya itu merupakan suatu hal yang mungkin. Karena, akal manusia tidak menganggap mustahil akan permulaan datangnya gerakan hati tersebut.

Sesudah itu, seseorang akan merasa takut, mengkhawatirkan dirinya, bagaimana nanti seandainya ada tuntutan dari Allah SWT. keadaan seperti ini disebut Khatir Faza' (gerakan hati yang menimbulkan rasa takut), yaitu gerak hati yang mengingatkan dan mendesak seseorang dengan hujjahnya, serta menolak semua alasan. juga mendorongnya agar berfikir dan mendatangkan dalil.

Kalalu sudah begitu, hamba tersebut akan tentu bergerak, hatinya selalu resah memikirkan bagaimana supaya selamat, aman, tenteram dari apa yang terjadi di hatinya, atau apa yang didengar telinganya.

Akhirnya, jalan yang kita temukan hanyalah merenungkankan dalil dan membuat dalil tentang ciptaan (makhluk) Allah Ta'ala yang dapat menunjukkan kepada kita adanya Dzat Pencipta, supaya bisa memiliki ilmul-yaqien, mengetaui apa yang tidak terlihat oleh mata kepala dan mengetahui bahwa kita mempunyai Tuhan yang memberi tugas, memerintah dan mencegah diri kita. ini adalah permulaan jalan rumit yang akan kita hadapi pada perjalanan Ibadah kepada Allah Ta'ala, yang disebut "Aqabatul 'Ilmi wal Ma'rifat" (jalan Ibadah berupa ilmu dan ma'rifat).

Jalan ini harus dilalui agar dalam urusan Ibadah senantiasa waspada. kita mulai melangkah untuk menempuh 'Aqabah ilmu ini yang mesti dilewati dengan baiknya perenungan terhadap dalil-dalil dan sempurnanya pemikiran, belajar serta bertanya kepada Ulama' yang mengurus kepentingan hidup di akhirat yang menjadi penunjuk jalan, pelita dan penuntun umat, juga mengambil faedah (manfaat) dan meminta do'a yang baik dari Ulama' akhirat.
Semoga kita mendapatkan kemudahan dan pertolongan Allah Ta'ala untuk bisa melampaui jalan-jalan yang rumit dalam suatu Ibadah, amin.

Dengan begitu, kita akan memperoleh keyakinan terhadap keadaan yang samar, yakni bahwa kita mempunyai Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan yang tidak sesuatupun menyekutui-Nya. akhirnya, kita dapat menemukan dan mengenal Tuhan, setelah sebelumnya bodoh dan tidak mengetahui apa-apa.

Saturday, March 26, 2011

27 Nasehat dalam Kitab Taurat

Wahab Bin Munahib RA berkata :
Di dalam kitab Taurat terdapat 27 nasehat:
1. "Barangsiapa mau memperbanyak bekal di dunia (untuk perjalanan menuju akhirat dengan ketaqwaan) maka kelak di hari qiamat ia akan menjadi kekasih Allah SWT."
2. "Barangsiapa mau menahan amarahnya maka ia akan di tempatkan disisi Allah SWT."
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
"Barangsiapa mampu menahan amarahnya maka Allah SWT akan melindunginya dari siksaan."
3. "Barangsiapa tidak mencintai kesenangan hidup di dunia maka kelak di hari Qiamat akan selamat dari siksa Allah SWT."
4. "Barangsiapa meninggalkan sifat hasud maka kelak di hari Qiamat ia akan dipuji oleh para makhluk."
5. "Barangsiapa meninggalkan rasa cinta menjadi penguasa (mencintai kedudukan) maka kelak di hari Qiamat akan dimuliakan disisi Dzat yang merajai lagi Maha Perkasa."
6. "Barangsiapa meninggalkan kebiasaan berlebih-lebihan maka ia akan mendapat keluasan rizki bersama orang-orang yang baik."
7. "Barangsiapa meninggalkan sifat bakhil maka kelak ia akan disebut namanya didepan para malaikat."
8. "Barangsiapa di dunia meninggalkan bersantai=-santai maka kelak di hari Qiamat akan mendapatkan kebahagiaan di surga."
9. "Barangsiapa meniggalkan hal-hal yang diharamkan maka kelak di hari Qiamat dijadikan tetangga para Nabi AS."
10. "Barangsiapa di dunia meninggalkan penglihatan dalam hal-hal yang diharamkan maka kelak di hari Qiamat Allah SWT akan membahagiakanmatanya di surga."
11. "Barangsiapa di dunia meninggalkan hidup kaya dan memilih hidup faqir maka di hari Qiamat Allah SWT akan membangunkannya bersamaan dengan para Wali dan para Nabi."
12. "Barangsiapa di dunia mau membantu memenuhi kebutuhan manusia, niscaya Allah SWT akan mencukupi segala kebutuhannya di dunia dan di akhirat."
13. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
"Barangsiapa mau mencukupi kebutuhan saudaranya yang muslim maka ia mendapatkan pahala sebagaimana pahalanya orang yang baru haji dan umrah."
14. "Barangsiapa mau mencukupi kebutuhan saudaranya yang muslim maka ia mendapatkan pahala sebagaimana pahalanya orang yang baru beribadah kepada Allah SWT seumur hidup."
15. "Barangsiapa mengharapkan ketenangan di alam kubur maka hendaknya ia bangun di waktu malam kemudian mengerjakan shalat sunnah meskipun kiranya satu rakaat."
16. "Barangsiapa mengharapkan tempat di bawah naungan Arsy-Nya Dzat yang Maha Penyayang maka berlakulah hidup zuhud (hatinya berpaling dari nikmat duniawi)."
17. "Barangsiapa mengharapkan hisabnya diperingan maka lebih baik ia mau menasehati dirinya dan saudaranya."
18 "Barangsiapa mengharapkan para malaikat mau menziarahinya maka lebih baik ia memiliki sifat wara'."
19. "Barangsiapa mengharapkan dirinya berada di tengah-tengah surga maka lebih baik berdzikir kepada Allah SWT di waktu malam dan siang hari."
20. "Barangsiapa mengharapkan masuk surga dengan tanpa hisab maka lebih baik bertaubatlah kepada Allah SWT dengan taubat yang sebenar-benarnya (nasuha)."
21. ""Barangsiapa mengharapkan kekayaan maka lebih baik ia ridla terhadap sesuatu yang telah diberikan oleh Allah SWT kepadanya dan orang lain baik berupa harta, jabatan dan lain sebagainya."
22. "Barangsiapa mengharapkan menjadi orang yang ahli ilmu fiqh (agama) maka lebih baik ia senantiasa bersikap khusu' dalam menghadapi masalah agama (orang yang mau mengikuti dan mau menerima kebenaran yang diucapkan oleh siapapun)."
23. "Barangsiapa mengharapkan menjadi orang ahli hikmah maka lebih baik ia terlebih dahulu menjadi orang yang berilmu."
"Barangsiapa mengharapkan keselamatan dari kejelekan orang lain maka janganlah menyebut salah satu dari mereka kecuali dengan kebaikan dan lebih baik berfikirlah tentang dirimu sendiri darimana dirimu dibuat dan untuk apa dirimu diciptakan."
24. "Barangsiapa mengharapkan derajat luhur di dunia dan akhirat maka lebih baik pilihlah urusan akhirat dengan meninggalkan urusan dunia (dengan gambaran keseluruhan waktu dipergunakan untuk menjalankan ibadah)."
"Barangsiapa mengharapkan surga Firdaus dan kenikmatannya yang tidak pernah rusak (abadi) maka janganlah kau sia-siakan umur dengan melakukan kemaksiatan."
25. "Barangsiapa mengharapkan surga dunia dan akhirat maka berbaik hatilah dengan suka memberi, sesungguhnya suka memberi dapat mendekatkan dirimu ke surga dan menjauhkanmu dari neraka."
26. "Barangsiapa mengharapkan hatinya tersinari oleh cahaya yang sempurna maka sebaiknya ia sering bertafakur dalam sifat keagungan Allah SWT dan mengambil hikmah dari kematian."
27. "Barangsiapa mengharapkan untuk memiliki badan yang sabar. lisan yang selalu berdzikir, dan hati yang khusu' maka sebaiknya ia memperbanyak memohon ampunan kepada Allah SWT untuk orang islam."

Friday, March 18, 2011

JIKA KITA BERTANYA, JIKA KITA BERKATA (Taubat An-nashuha, bagian 2)


Bila kita bertanya : Bagaimana mungkin seseorang dapat hidup tanpa melakukan dosa sama sekali (baik dosa kecil maupun dosa besar), sedangkan mengenai para Nabi Allah sendiri (yang merupakan hamba-hamba mulia di sisi Allah) --terdapat perselisihan pendapat di kalangan para Ulama’—apakah mereka dapat mencapai kedudukan ini (tidak berdosa sama sekali) ataukah tidak.?

Perlu kita tahu bahwa seseorang yang sama sekali tidak melakukan dosa apapun, merupakan suatu hal yang bisa terjadi dan tidak mustahil. Hal itu adalah sesuatu yang gampang bagi Allah SWT. Undang-undang Allah Ta’ala menyebutkan : “Allah mempunyai wewenang menentukan orang yang Dia kehendaki untuk menerima rahmat-Nya”.
Biasanya, untuk melakukan taubat, seseorang harus dengan tidak sengaja melakukan dosa (terlebih dahulu). Adapun kalau seseorang terjerumus kedalam dosa lantaran lupa atau keliru, maka yang demikian itu bisa dimaafkan dengan anugerah Allah Ta’ala. Ini merupakan suatu hal yang mudah bagi seseorng yang diberi Taufik oleh Allah Ta’ala.

Bila kita berkata : Yang mencegahku untuk bertaubat hanyalah karena aku mengerti bahwa aku pasti bakal kembali melakukan dosa dan tentu tidak akan mampu terus menetap pada taubat. Jadi, tidak ada gunanya aku bertaubat.

Jika memang begitu, maka perlu kita tahu bahwa yang kita kemukakan itu sebenarnya termasuk diantara bujukan-bujukan setan. Dari mana kita tahu bahwa kita pasti akan kembali melakukan dosa.? Bisa jadi kita terlebih dahulu mati dalam keadaan taubat, sebelum kita terperosok kedalam dosa lagi. Mengenai kekhawatiran akankembali melakukan dosa, itu adalah tugas kita untuk mempunyai tekad kuat dan bersungguh-sungguh tidak akan kembali melakukan dosa, dan Allah yang akan menyempurnakan tekad kita. Jika Allah Ta’ala menyempurnakannya, itulah yang dimaksud dengan anugerah dari-Nya. Dan kalau Allah Ta’ala tidak menyempurnakannya, maka kita sudah beruntung, karena Allah Ta’ala mengampuni dosa kita yang sudah lewat dan kita terlepas dari dosa, kecuali dosa yang kita bayangkan akan ada sesudah bertaubat itu.
Ini merupakan keuntungan besarr dan faedah yang sangat agung. Jadi, angan sampai kita tercegah dari taubat hanya karena takut akan kembali melakukan dosa. Dengan demikian, lantaran taubat...kita sesungguhnya berada diantara dua kebaikan.

Semoga Allah SWT memberikan taufik dan hidayah kepada kita. Amiin.

Meredam nafsu (negatif) dengan cara mengamatinya

Seorang guru pernah berkata :
“Didalam diri tidak ada pribadi yang berbuat, dan diluar diri tidak ada pribadi yang terkena perbuatan”.

Penjelasannya begini :
Pikiran yang dikuasai oleh nafsu-nafsu adalah penyebab dari ketidak bahagiaan. Penyebab penderitaan terletak didalam diri kita sendiri dan jika penyebabnya ini masih bisa mempengaruhi kita, maka kita tidak akan pernah dapat mengalami kedamaian sejati atau keharmonisan sejati.
Kita tidak dapat menekan pikiran-pikiran negatif ini. Jika kita menekannya maka pikiran-pikiran ini akan masuk kedalam tingkat pikiran bawah sadar. Nafsu-nafsu dan pikiran-pikiran negatif ini adalah alami. Apabila kita tidak memiliki hal ini kita akan merasa bukan manusia. Untuk itu, hal pertama yang (lebih baik) kita lakukan adalah mengamatinya. Jadi, maksud dari perkataan seorang guru tersebut adalah dengan mengamati berarti didalam diri kita tidak ada pribadi yang berbuat dan diluar diri kita tidak ada pribadi yang terkena perbuatan.

Amatilah realitas didalam diri kita sendiri, kita mengamati nafsu sebagai nafsu, kemarahan sebagai kemarahan, kebencian sebagai kebencian, dan ego sebagai ego. Kita hanya mengamati secara obyektif segala kekotoran yang muncul didalam pikiran tanpa mengidentifikasikan diri kita dengan negatifitas tertentu.

Seperti halnya ketika kita duduk di tepi sungai, mengamati air sungai yang alami, kita tidak melakukan suatu usaha apapun, tidak ingin merubah aliran sungainya, tidak basah dan tidak terhanyut oleh aliran sungai itu. Kita duduk di pinggir dan hanya mengamati aliran itu deras atau pelan, airnya jernih atau kotor. Air bergulung-gulung mengalir sebagaimana adanya dari waktu ke waktu.

Demikian pula kita mengamati nafsu-nafsu yang mengalir pada pikiran kita. Ini merupakan pengamatan terhadap kebenaran sebagaimana adanya, bukan seperti kehendak kita, tapi seperti apa adanya...realitas disini dan saat ini.
Misalnya kita sedang marah, sadarilah bahwa kemarahan itu telah muncul dalam diri kita. Jangan mencoba merubah, mengalihkan atau mendorongnya keluar, tetapi amatilah (terlebih dahulu). Amati dan sadari keadaan batin yang sedang marah. Amati dan amati terus, maka kita akan merasakan bahwa kemarahan itu semakin lama akan semakin lemah dan akhirnya lenyap dengan sendirinya. Hal ini juga berlaku untuk semua emosi-emosi negatif dan nafsu-nafsu negatif lainnya.

Dan yang lebih penting lagi, janganlah kita berusaha menekan kemarahan itu. Karena apabila kemarahan itu ditekan, maka kemarahan itu akan masuk ke dalam tingkat pikiran bawah sadar yang akan menadikan bom waktu bagi diri kita sendiri. Biarkan kemarahan itu berlalu dan kita mengamatinya tanpa reaksi.

Saya mengambil contoh kemarahan, itu karena kemarahan adalah salah satu dari banyaknya nafsu negatif yang sering muncul dalam diri seseorang dan salah satu nafsu negatif yang sangat mudah muncul disertai dengan perbuatan, bahkan bisa timbul secara spontan. Pada awalnya memang sulit untuk mengamati nafsu-nafsu yang abstrak ini, bahkan seringkali kita terlambat untuk menyadarinya. Ketika nafsu (amarah) telah menguasai kita, dan kita telah bereaksi baik melalui perkataan atau fisik, barulah kita menyadarinya dan bahkan menyesalinya. Hal ini sebenarnya karena pengamatan kita terputus pada saat pikiran kita teralih perhatiannya dan bereaksi terhadap pengaruh dari luar.

Diringkas dari buku: INSAN KAMIL (manusia yang sempurna). Karya Ir. Yan Saputra.

Thursday, March 10, 2011

Iblis, setan


Sahabat Umar RA bersabda :
"Sesungguhnya iblis itu memiliki sembilan keturunan yang bernama : zaliitun, watsin, laqus, a'wan, haffaf, murroh, masuth, dasim dan han.
1. setan zaliitun yang bertugas menggoda penghuni pasar, ditempat itulah mereka memasang bendaranya.
2. setan watsin yang bertugas menggoda orang-orang yang terkena musibah.
3. setan a'wan yang bertugas menggoda para penguasa.
4. setan haffaf yang bertugas menggoda orang-orang yang suka mabuk-mabukkan (maksiat).
5. setan murroh yang bertugas menggoda para peniup terompet/pemain musik.
6. setan laqus yang bertugas menggoda orang-orang untuk menyembah api.
7. setan masuth yang bertugas menggoda orang agar bercerita bohong. mereka menjerumuskan melalui lidah/lisan manusia agar berkata bohong yang tidak dapat ditemukan kebenarannya.
8. setan dasim yang bertugas didalam rumah, jika seorang laki-laki memasuki rumahnya tidak mengucapkan salam kepada keluarganya dan tidak menyebut nama Allah SWT niscaya ia tertimpa permusuhan, perselisihan dengan keluarganya, hingga menyebabkan perceraian, khulu' dan pemukulan (kekerasan).
9. setan walhan yang bertugas menggoda orang-orang yang berwudlu (seperti menimbulkan rasa was-was), orang-orang yang mengerjakan shalat dan ibadah lainnya."


Keterangannya begini :
- nama iblis adalah 'azazil yang memiliki sembilan keturunan yang telah disebutkan. sedang menurut sebagian ulama' mengatakan bahwa setan zalitun memiliki nama lain yaitu setan zallabun yang bertugas didalam pasar, pekerjaannya hanya membujuk orang-orang yang bertransaksi jual beli agar membicarakan sesuatu yang tidak bermanfaat, bersumpah bohong, memuji-muji barang dagangannya, dan agar mengurangi takaran dan timbangan. sedangkan menurut keterangan lain dijelaskan bahwa pekerjaan setan zallabun ialah memisahkan hubungan seorang laki-laki dengan keluarganya dan memperlihatkan kepada orang lain tentang segala aib yang dimiliki keluarganya.

- kemudian setan watsin menurut sebagian pendapat bahwa nama setan musibah ini adalah Tabr, pekerjaannya hanya membujuk orang yang terkena musibah agar tidak bersabar, misalnya berteriak, memukuli kedua pipi dan lain sebagainya.

- setan a'wan bertugas menggoda para pejabat, penguasa agar berbuat dzalim.

- kemudian setan haffaf bertugas mengajak seseorang untuk bermain seruling (alat-alat musik dan bernyanyi).

- kemudian setan laqus bertugas mengajak seseorang untuk menyembah api, sedangkan menurut pendapat lain mengatakan bahwa setan laqis dan setan walham keduanya bertugas menggoda orang yang sedang bersuci dan orang-orang yang mengerjakan shalat, akan tetapi sebagian ulama' juga menjelaskan bahwa tugas tiga setan ini (laqus, lqis dan walhan) digantikan oleh tiga setan lainnya yaitu :
1. setan a'war yang bertugas mendorong seseorang untuk berbuat zina, mereka bekerja meniup sela-sela diantara dua paha bagian atas milik orang laki-laki dan meniup pantat seorang wanita.
2. setan wasnan yang bertugas mendorong seseorang untuk selalu tidur, mereka bekerja membuat berat kepala seseorang dan kedua mata, agar tidak mengerjakan shalat dan ibadah-ibadah yang lain. mereka juga bekerja membangunkan seseorang agar berbuat maksiat.
3. setan abyadi yang bertugas menggoda para Nabi dan Wali-Wali Allah.

- kemudian setan masuth, nama lainnya yaitu setan mathun yang bertugas menggoda seseorang agar berbohong.

- kemudian setan dasim yang bertugas meerusak hubungan suami istri, ada yang mengatakan bahwa mereka bertugas merusak seseorang malalui makanan disaat seseorang lupa membaca Basmallah. mereka juga memasuki rumah disaat seseorang lupa membaca Basmallah ketika akan tidur diatas pembaringan, ketika memakai pakaian, ketika tidak melipat pakaian.

- kemudian setan walhan yang bertugas menggoda seseorang ketika berwudlu, mengerjakan shalat dan ibadah yang lain. ada yang mengatakan bahwa setan walhan juga bertugas menggoda seseorang ketika bersuci, mereka mendorong seseorang agar memperbanyak penggunaan air ketika bersuci, adapun yang bertugas menggoda seseorang ketika mengerjakan shalat itu namanya setan khanzab.

A'uudu billahi minasy-syaithaanirrajiim.

Sunday, March 6, 2011

Sepuluh perbuatan mulia yang diberikan oleh Allah SWT


Sahabat Abu Bakar As-shidiq bersabda :
“Tiada seorang hamba yang telah diberikan limpahan rizqi oleh Allah SWT yang berupa sepuluh perkara melainkan ia benar-benar telah selamat dari berbagai macam kerusakan dan telah mendapat derajat Al-Muqarrabin dari Allah SWT (orang-orang yang dekat dengan Allah SWT) dan memperoleh derajat Al-Muttaqin (orang-orang yang meninggalkan kesenangan hawa nafsunya dan menjauhi perkara yang dilarang)”.


1. Ucapannya selalu jujur disertai dengan hati yang Qana’ah (menerima apa adanya segala sesuatu yang diberikan oleh Allah SWT).
Lisan yang jujur merupakan awal dari keberuntungan, barang siapa sedikit kejujurannya berarti sedikit pula temannya.
2. Kesabaran yang sempurna disertai dengan hati yang selalu bersyukur. Rasulullah SAW bersabda :
“Sebaik-baiknya senjata orang mu’min adalah kesabaran dan berdo’a”.
3. Selalu tertimpa kefakiran disertai dengan hidup zuhud. Rasulullah SAW bersabda:
“Wahai orang-orang yang fakir, berikanlah keridlaan hati kalian kepada Allah SWT. Niscaya kalian akan mendapatkan pahala kefakiran kalian dan jika kalian tidak ridla niscaya kalian tidak akan mendapatkannya”.
4. Selalu bertafakkur disertai keadaan perut yang lapar. Rasulullah SAW bersabda :
“Berfikirlah tentang segala hal dan janganlah berfikir tentang Dzat-Nya Allah SWT, sesungguhnya antara langit ke tujuh dan kursinya Allah SWT terdapat 7.000 lapis cahaya sedangkan Allah SWT berada diatas itu”.
“Allah SWT mengasihi suatu kaum dimana manusia menganggap mereka oran yang sakit padahal mereka itu tidak sakit”.

5. Selalu bersedih disertai dengan rasa takut kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda :
“Seandainya kalian mengetahui harta kalian (pahala) disisi Allah SWT, niscaya kalian lebih senang jika kalian bertambah miskin dan fakir (dari pada yang kalian alami sekarang)”.
“Jika seseorang merasa takut kepada Allah SWT berarti ia sudah berilmu dan jika seseorang merasa bangga (kagum) terhdap dirinya sendiri berarti ia masih bodoh”.
“Surga akan dimasuki oleh orang yang mengharapkannya, neraka akan dijauhi oleh orang yang takut (siksaan) neraka dan Allah SWT akan mengasihi kepada orang yang memiliki kasih sayang”.

6. Selalu berjuang disertai dengan kerendahan hati.
“Bersikap rendah dirilah kalian dan bergaulah dengan orang-orang yang miskin niscaya kalian menjadi bagian dari pembesarnya orang-orang ahli ibadah dan dapat terlepas dari kesombongan”.
Allah SWT berfirman :
“Sembahlah Tuhanmu hingga keyakinan mendatangimu”.
Maksud ayat tersebut adalah : “Berpalinglah dari nafsumu wahai makhluk yang paling mulia, sampai kematian mendatangimu”.
Tidak mengikuti hawa nafsu disebut dengan ibadah, karena nafsu itu selalu menentang ibdah dan keinginannya hanya bermaksiat.
7. Selalu bersikap lemah lembut disertai dengan kasih sayang dalam segala perbuatan. Sebagaimana hadits berikut :
“Allah SWT hanya akan mengasihi hamba-hambaNya yang penuh kasih sayang”.
8. Selalu cinta kepada Allah SWT disertai dengan rasa malu kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda :
“Apakah kalian senang jika masuk surga? Para sahabat menjawab : senang ya Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda : Pendekkanlah angan-angan kalian, tetapkanlah kematian kalian selalu berada di depan mata kalian dan merasa malulah kalian kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya. Para sahabat berkata : Kami semua sudah merasa malu kepada Allah SWT. Kemudian beliau menjawab : Bukan seperti malu kepada Allah SWT, tetapi malu kepada Allah Ta’ala itu jika kalian tidak melupakan perut dan perkara yang ada didalamnya. Barang siapa ingin mendapatkan kemuliaan di akhirat maka keindahan dunia harus ia tinggalkan, memang disanalah seorang hamba memiliki rasa malu kepada Allah Ta’ala. Dan disanalah ia mendapatkan belas kasih Allah SWT”. (HR. Abu Naim).
9. Ilmu yang bermanfaat disertai dengan perbuatan untuk mengamalkannya. Rasulullah SAW bersabda :
“Pelajarilah ilmu yang mana saja yang kalian kehendaki, niscaya Allah SWT tidak akan memberi kemanfaatan ilmu itu kepada kalian hingga kalian mau mengamalkan ilmu yang kalian pelajari”.
“Malapetaka kecerdasan adalah keras kepala, malapetaka keberanian adalah penentang, malapetaka suka memberi adalah kesombongan. Bahayanya ibadah adalah malas, bahayanya bercerita adalah kebohongan, bahayanya berilmu adalah lupa, bahayanya sopan santun adalah kebodohan, bahayanya kemuliaan adalah berunggul-unggulan dan bahayanya sifat dermawan adalah berlebih-lebihan”.

10. Iman yang abadi disertai dengan akal yang jernih.
Akal adalah sumber tata krama. Sebagaimana perkataan ahli balaghah “Sebaik-baiknya pemberian adalah akal, sejelek-jeleknya musibah adalah kebodohan”.
Ahali Al-abda’ berkata : “Teman sejati setiap orang adalah akalnya, sedangkan musuhnya adalah kebodohannya, sunguh Allah SWT menjadikan akal untuk pondasi bagi agama dan tiang agama”.