Recent

Syeikh Abul Hasan Asy Syadzili : Tentang "Siksaan"

Siksaan itu terdiri dari empat macam : 1. Siksaan melalui adzab. 2. Siksaan melalui hijab. 3. Siksaan melalui pengekangan , dan 4. Siksaan ...

Gus Dur : Tentang tasawuf dan Wihdatul Wujud (Manunggaling kawula lan Gusti)

Di dalam sebuah buku, Alwi Shihab pernah memaparkan bahwa penyebaran Islam di Negeri ini dilakukan antara lain oleh kaum Ulama pesantren.

Dari Mujahadah ke Muraqabah, sampailah pada Musyahadah

Mujahadah : Berjihad menumpas hawa nafsu yang menghalangi jiwa untuk dekat kepada Allah Ta’ala. Muraqabah : Memperhatikan gerak-gerik hati,...

Kita sering merasa yakin, tahukah apa itu "Yakin"?

Dan diantara tanda-tanda Ulama’ Akhirat itu ialah sangat bersungguh-sungguh menguatkan keyakinan. Karena keyakinan itu adalah modal Agama....

Menjadi Manusia Yang Manusiawi

Maksud dari kalimat "Manusia yang manusiawi" adalah menjadi manusia yang baik dan benar, serta manusia yang benar dan baik.

Showing posts with label Renungan sufistik. Show all posts
Showing posts with label Renungan sufistik. Show all posts

Saturday, February 20, 2016

Perhiasan orang-orang yang berakal

Sahabat Abu Bakar Ash-Shidiq RA bersabda:
Delapan perkara yang menjadi perhiasan bagi delapan perkara yang lain adalah:

- Menahan diri untuk meminta-minta merupakan perhiasan bagi orang yang faqir. Rasulullah SAW bersabda: "Pemberian orang mu'min di dunia adalah kefaqiran".
- Bersyukur merupakan perhiasan kenikmatan. Sebab bersyukur itu adalah penyebab terwujudnya nikmat yang tidak pernah hilang dan sebagai lantaran turunnya nikmat yang lain yang belum pernah dimilliki.

Perhiasan orang-orang yang berakal
Sumber gambar: allah-is-the-one.blogspot.com

- Kesabaran merupakan perhiasan suatu musibah. Sebagaimana Rasulullah SAW pernah bersabda: "Kesabaran itu dapat menjadi penutup dari segala kesusahan dan penolong untuk segala kesulitan"
- Tawadlu' merupakan perhiasan bagi orang yang memiliki kedudukan mulia. Dan diantara tanda-tanda ketawadlu'an seseorang ialah senang merahasiakan jati dirinya dan mau menerima kebenaran dari orang lain baik dari mulia atau dari orang yang rendah.
- Sopan santun merupakan perhiasan ilmu.
Sebagaimana kisah ini: Pada suatu hari seorang jariah sedang membicarakan perihal Rasulullah SAW kemudian beliau mengetahuinya dan bertanya kepada jariah tersebut. "Engkau siapa?" jariah tersebut menjawab, "Putri seorang laki-laki dermawan yang bernama Hatim". Kemudian beliau bersabda "Kasihanilah pemuka kaum yang sudah direndahkan, kasihanilah orang kaya yang telah jatuh miskin dan kasihanilah orang alim yang disia-siakan diantara orang-orang bodoh".
- Merendahkan diri merupakan perhiasan orang yang mencari ilmu. Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa keluar dengan tujuan menuntut ilmu maka Allah Ta'ala pasti akan membukakan pintu surga, dan para malaikat akan membentangkan sayap untuknya, serta para malaikat yang bertempat di langit juga ikan-ikan yang bertempat di laut memintakan ampunan untuknya." (HR. Abu Ya'lu).
- Meninggalkan kebiasaan menghitung-hitung perbuatan/amalnya merupakan perhiasan amal kebaikan itu sendiri.
- Khusyu' (hatinya selalu diliputi rasa ketakutan) merupakan perhiasan untuk mengerjakan shalat.

Thursday, February 18, 2016

Merenungi Kematian dengan belajar dari pohon kelapa

Seperti yang kita sudah ketahui bahwa kematian tidak dapat diurutkan seperti halnya huruf abjad, mulai dari huruf A dan berakhir di huruf Z. Datangnya kematian tidak bisa urut dari yang tua terlebih dahulu kemudian yang muda akan dapat giliran belakangan.
Merenungi Kematian dengan belajar dari pohon kelapa


Jika saya boleh mengibaratkan, datangnya kematian itu sama halnya seperti sebuah pohon kelapa. Coba anda perhatikan baik-baik sebuah pohon kelapa. Ketika musim hama, maka bisa saja yang jatuh terlebih dahulu adalah buah kelapa yang masih sangat muda, dan ketika ada ibu-ibu yang sedang mengandung (hamil) maka yang akan dipetik terlebih dahulu adalah kelapa muda (dalam bahasa jawa sering dikenal sebagai degan) yang mana rasa air kelapanya masih sangat segar dan bagus untuk pertumbuhan bayi dalam kandungan. Bisa juga yang jatuh terlebih dahulu adalah kelapa yang sudah tua (kering), untuk yang satu ini sepertinya memang sudah waktunya jatuh.

Nah, dari proses buah kelapa mana yang jatuh terlebih dahulu tersebut sudah bisa kita pahami bahwasannya kematian juga akan seperti itu. Bisa yang muda terlebih dahulu, bahkan tak jarang pula anak-anak yang masih berusia belia atau malah ada yang masih bayi, bisa juga remaja terlebih dahulu, dan bisa juga yang tua.

Seandainya datangnya kematian itu urut dari yang tua terlebih dahulu kemudian menyusul berikutnya yang lebih muda, dan seterusnya hingga sampai yang paling muda, maka dunia akan rusak sejak dulu kala. Anda pasti bisa membayangkannya sendiri, bagaimana perilaku anak-anak kita jika datangnya kematian sudah bisa ditebak. Mereka pasti akan berkata "Tenang sajalah...bokap nyokap gue masih hidup kok, giliran gue berarti masih lama". Rusak sudah perilaku mereka.

Disitulah hikmah mengapa sebuah kematian adalah salah satu hal yang menjadi rahasia Ilahi dan tak seorangpun yang bisa menebak kapan datangnya. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu waspada, dan semoga Allah Ta'ala selalu meridloi jalan kita. Sekian saja segelintir pengetahuan tentang bagaimana kita bisa merenungi sebuah kematian agar bisa menjadikan diri kita seorang yang lebih bertaqwa lagi.

Saturday, October 31, 2015

Aku Bisa (Tentang Sebab dan Akibat)

Tuhan...
Seberapapun kuatnya diriku, aku tetap dalam genggaman kekuasaan-Mu.
Aku hanya berusaha...
Aku bisa bukan karena kekuatanku,
Aku bisa bukan pula karena kepintaranku,
Aku bisa bukan karena aku ini hamba yang hebat...

Semua itu karena Kau telah memudahkan jalanku, namun seringkali tanpa sadar aku merasa bahwa aku bisa. Yang artinya...ketika itu aku telah melupakan-Mu, melupakan segala pertolongan-Mu.

Engkau tempatkan sebuah akibat setelah adanya sebab. Sungguh sebuah perintah yang halus bagi diriku untuk terus berusaha, dan semua itu kembali lagi...
Bahwa Seberapapun kuatnya diriku, aku tetap dalam genggaman kekuasaan-Mu.
Engkau Maha Kuasa menimbulkan sebab tanpa diiringi akibat seperti halnya ketika Nabi Ibrahim As yang dibakar oleh kaum quraisy, namun Engkau justru mendinginkan tubuhnya.
Engkau juga Maha Kuasa mendatangkan akibat tanpa adanya sebab seperti halnya Ibunda Maryam yang mengandung tanpa sebab disetubuhi oleh siapapun.

Maka sungguh...
Tanpa kekuasaan-Mu,
tanpa keagungan-Mu...
"Aku ini tidak bisa berbuat apa-apa"

Aku hanyalah setetes air, dan jika di hadapan Matahari...bisa apa aku.? Apa yg pantas kubanggakan.? Apa yang pantas disombongkan dari setetes air tersebut melainkan yang ada hanyalah kebinasaan. Hilang tanpa bekas.
Lantas masihkah aku pantas berkata "Aku Bisa"

Monday, January 28, 2013

Mengenal angan-angan

"Melanturnya angan-angan ialah menginginkan hidup untuk waktu yang panjang, dengan memastikan. sedangkan pendeknya angan-angan yaitu tidak memastikan dalam berangan-angan itu, misalnya : mengikatnya dengan istitsnaa (Insya ALLAH, dengan kehendak dan ilmu Allah SWT) dalam menuturkannya, atau dengan syarat baik dalam menginginkannya".

Dengan demikian, bila kita menyebut-nyebut hidup kita, umpamanya : "aku masih akan hidup sesudah tarikan nafas yang kedua, atau jam yang kedua, atau hari yang kedua", dengan memastikan, maka kita dinamakan orang yang melantur angan-angannya. hal ini merupakan makshiyat, karena yang demikian berarti memastikan perkara yang ghaib.

Jika kita membuat qayyid (mengikat) angan-angan itu dengan kehendak Allah SWT dan ilmu-NYA, lalu kita berkata : "aku akan hidup insyaAllah", berarti kita keluar dari hukum angan-angan dan kita bisa di sifati orang yang mneninggalkan angan-angan.

Begitu pula jika kita menginginkan hidup hingga waktu yang kedua secara memastikan, maka kita diebut orang yang panjang angan-angan. Tetapi, kalau kita membuat qayyid terhadap keinginginan kita itu dengan syarat yang baik, maka kita keluar dari hukum angan-angan dan kita disebut orang yang pendek angan-angannya, karena kita tidak memastikan dalam keinginan kita.

Karena itu lah, mari kita tinggalkan memastikan dalam menyebut kekekalan dan menginginkannya. Yang dimaksud "menyebut" adalah ingatnya hati, yakni memantapkan menetapkan pada hati untuk meninggalkan perbuatan memastikan itu. coba kita pahami keterangan di atas, mudah-mudahan petunjuk (insyaAllah).

Angan-angan itu ada dua macam : angan-angan umum dan angan-angan khusus. angan-angan umum yaitu menginginkan hidup terus untuk mengumpulkan dunia dan bersenang-senang dengannya. ini adalah makshiyat yang murni, dan lawannya adalah pendeknya angan-angan.
Allah SWT telah berfirman yang artinya :
"Biarkanlah mereka itu makan dan bersenang-senang serta di sibukkan oleh angan-angan mereka, maka mereka bakal mengetahui akibat perbuatan mereka".
Sedangkan angan-angan khusus yaitu menginginkan terus hidup untuk menyempurnakan amal yang baik. angan-angan ini mengandung hal yang mngkhawatirkan, yakni sesuatu yang tidak diyakini kebaikannya. sebab, kadang-kadang seseorang dalam melakukan kebaikan atau menyempurnakannya itu tidak ada bagusnya, karena terjerumus ke dalam ujub atau riyaa atau afat lain, di mana kebaikan yang di lakukan tidak seimbang dengan afatnya. jadi kalau begitu, apabila seseorang mulai melakukan shalat, puasa atau lainnya, maka ia tidak memastikan bahwa ia bakal dapat menyemournakannya. sebab, kesempurnaan itu merupakan perkara yang samar. juga tidak boleh bermaksud menyempurnakannya dengan memastikan sebab boleh jadi hal itu tidak ada kebaikannya bagi orang tersebut, sebaiknya ia harus

Aqobatul ilmi wal makrifat

Aqabah ini selalu di lewati manusia agar dalam ibadahnya senantiasa waspada.
dalam menempuh aqabah ilmu ini yang mesti di lewati dengan baik adalah perenungan terhadap kesempurnaan pemikiran, belajar serta bertanya kepada seorang guru yang mengurusi tentang kepentingan hidup di akhirat yang menjadi penunjuk jalan, pelita dan penuntun umat.

Juga yang mengambil faedah dan meminta do'a yang baik dari guru akhirat, semoga mendapatkan kemudahan dan pertolongan Allah SWT untuk bisa melampaui aqabah ilmu, amin.

Apabila aqabah ilmu telah terlewati, maka kita akan memperoleh ilmul-yaqien terhadap keadaan yang samar, yakni bahwa kita mempunyai Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan yang tidak satupun menyekutui-NYA. Tuhan itulah yang menciptakan dirinya agar bersyukur, memerintahkan supaya melayani dan tha'at kepada-NYA, dengan anggota tubuh luar dan anggota batin. Tuhan memperingatkan kita agar jangan sampai kufur dan berbuat makshiyat. Tuhan menetapkan ganjaran yang langgeng, jika kita mau tha'at dan menetapkan siksa bila hamba itu bermakhsiyat dan berpaling dari-NYA.

Selanjutnya, pengetahuan dan keyakinan terhadap keadaan samar itu mendorong kita untuk bertindak melayani dan menghadap ibadah kepada Majikan Agung yang memberikan kenikmatan yang selalu di cari.
Akhirnya, seorang hamba dapat menemukan dan mengenal Tuhannya, setelah sebelumnya adalah seorang yang bodoh dan tidak mengetahui.

Mahabbatullah diatas segala mahabbah

Bismillahi Ar Rahmaani Ar Rahiimi..

Cinta kepada Allah SWT merupakan cinta yang paling luhur dan mampu mendatangkan puncak kebahagiaan dan kedamaian spiritual (hati). cinta kepada Allah SWT semestinya menjadi pijakan semua tindakan seorang mukmin. ia merupakan kekuatan yang bisa mengarahkan perilaku manusia ke arah kebaikan. ketika cinta kepada Allah SWT melekat dalam jiwa manusia, maka semua perbuatannyaakan tunduk dalam rangka taat kepada Allah SWT. ia akan melakukan perbuatan yang dicintai dan di ridhai-Nya, menjauhi perbuatan maksiat dan setiap perbuatan yang dibenci dan dilarang oleh Allah SWT.

Manusia biasanya cinta kepada orang yang berbuat baik kepadanya. karena itu cinta seorang anak kepada orang tuanya disebabkan karena pemeliharaan, pembelaan, kasih sayang, dan pendidikan yang telah diberikan orang tua kepadanya. jika kita merenungkan nikmat-nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepada kita, kita tidak akan mampu menghitungnya. Allah SWT telah menciptakan kita dalam bentuk yang paling baik, lebih memuliakan kita daripada makhluk-makhluk-Nya, menundukkan alam bagi kita, menjadikan kita sebagai khalifah dimuka bumi, mengutus para Nabi dan Rasul sepanjang masa untuk menyelamatkan kita dari kesesatan, menunjuki kita ke jalan yang benar, dan memberikan kita pedoman hidup yang lurus agar kita hidup bahagia dunia dan akhirat kelak.

Oleh karena itu, sudah selayaknya manusia menjadikan cinta cinta kepada Allah SWT lebih besar daripada cintanya kepada yang lain. Allah SWT berfirman:
"Katakanlah jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya, dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya, dan Allah tidak mendatangkan petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (QS 9:24)

Rasulullah SAW pun menganjurkan manusia untuk mencintai Allah SWT atas nikmat-nikmat-Nya yang berlimpah. beliau bersabda: "Cintailah Allah karena DIA telah memberimu makanan dari nikmat-nikmat-Nya." walaupun Rasulullah SAW adalah orang yang paling mencintai Allah SWT dan paling dekat dengan-Nya, tetapi beliau selalu memohon kepada Allah SWT untuk diberu anugerah berupa cinta kepada-Nya, karena dalam cinta ini beliau mendapatkan kepuasan ruhani paling tinggi yang tidak ada bandingannya. Rasulullah SAW pernah berucap dalam doanya: "Ya Allah, berilah aku rezeki berupa cinta-Mu kepadaku dan cintanya orang-orang yang Engkau cintai."

Allah SWT juga menyuruh Rasulullah SAW berdoa dengan doa ini: "Ya Allah, aku memohon cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan mencintai amal yang dapat mendekatkan diriku kepada cinta-Mu."

Thursday, November 17, 2011

Kisah Ganjil Seputar Rabi'ah Al Adawiyah

Dalam buku Shofwah Al Shofwah, Ibnu Al Jawzi meriwayatkan melalui sanad yang sampai kepada pelayan Rabi'ah Al Adawiyah, Abidah binti Syawil. Ia berkata :"Rabi'ah bercerita tentang tuannya pada masa akhir hayatnya:

"Rabi'ah Al Adawiyah adalah sosok wanita yang menghabiskan malamnya dengan Qiyamul Lail (shalat). sewaktu fajar menyemburat diufuk timur, beliau masih tertidur lelap di atas sajadahnya. dan ketika fajar menyingsing beliau terbangun tergagap-gagap sambil berdo'a, "Wahai nafsu, berapa lama engkau tertidur dan sampai kapan engkau tetap tertidur? kuingatkan kepadamu, bahwa tidurmu sesaat saja hanyalah menopang penyesalan di hari manusia dikumpulkan." beliau selalu mengulang do'a itu setiap terbangun dari tidur sampai maut menjemputnya.

Ketika kematian telah menghampiri, beliau memanggil saya dan berpesan, "Jangan biarkan seorangpun menodai mayatku. kafanilah aku dengan jubah yang kukenakan ini". dan beliau pun menutuo mata untuk selamanya.

Abidah melanjutkan, "Ketika beliau sudah meninggal, saya mengkafaninya dengan jubah yang dipesankan. dengan jubah itulah beliau menemui Allah Ta'ala."

Ungkapan "Wahai nafsu, berapa lama engkau tertidur dan sampai kapan engkau akan tetap tertidur? aku peringatkan padamu bahwa bahwa tidurmu sesaat saja hanyalah menopang penyesalan di hari manusia dikumpulkan." mengekspresikan perasaan sufistik yang sangat jarang terjadi dan terkesan ganjil. beliau menghabiskan waktu malamnya untuk terus beribadah, dan mencerca keterlambatan bangunnya di waktu fajar. beliau merasa kehilangan kesempatan bermunajat kepada Allah Ta'ala di waktu sahur dimana orang-orang sedang tidur mengistirahatkan badan. kita melihat ratapan puitisnya yang bermuatan do'a penyesalan, dan semua itu bertolak dari persaan-perasaan sufistiknya.

Wednesday, October 26, 2011

Fatwa-fatwa para sufi

Fatwa Syaikh Hasan Basari RA
1. Seandainya tidak ada Wali Abdal niscaya bumi beserta isinya akan runtuh, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Wali Abdal itu berjumlah 40 orang laki-laki, 22 berada di negeri Syam, dan 18 orang berada di nagara Iraq, disaat salah satu dari mereka meninggal maka Allah Ta'ala memberikan penggantinya ketika datang suatu perintah Allah Ta'ala, maka mereka semua dimatikan, disaat itu datanglah hari Qiamat."
2. Seandainya tidak ada orang-orang shaleh niscaya orang-orang yang berbuat kemaksiatan akan celaka. Maka muliakanlah orang-orang yang shaleh, kapanpun dan dimanapun meraka berada.
3. Seandainya tidak ada Ulama' niscaya seluruh manusia akan berbuat (bertingkah) seperti binatang.
4. Seandainya tidak ada penguasa, niscaya sebagian rakyat akan merusak sebagian rakyat yang lain.
5. Seandainya tidak ada agin, niscaya segala sesuatu di bumi ini akan berbau busuk.

Fatwa Shahabat Ali Karamallahu waj-hah
Shahabat Ali Karamallahu waj-hah bersabda:
"Agama dan dunia tidak akan henti-hentinya berdiri tegak selama 4 perbuatan masih dijalankan, yaitu:
1. Selama orang tua tidak bakhil.
2. Selama para Ulama' mau mengamalkan ilmunya.
3. Selama orang-orang bodoh tidak takabur dari perkara yang tidak mereka ketahui.
4. Selama orang faqir tidak menjual akhiratnya (tidak meninggalkan agamanya untuk mencari dunia)."

Fatwa Syaikh Muhammad Bin Ahmad RA tentang Nabi Yahya AS
Muhammad Bin Ahmad RA mejelaskan firman Allah Ta'ala yang berbunyi:
"Menjadi pemimpin, orang yang banyak menahan diri, menjadi Nabi dari keturunan orang-orang shaleh."
Kemudian Syaikh Muhammad berkata:
Allah Ta'ala menyebut Nabi Yahya AS dengan nama Saiyid sedangkan ia adalah hamba Allah Ta'ala karena Nabi Yahya AS telah mampu mengalahkan empat perkara, yaitu:
1. Mampu mengalahkan hawa nafsunya.
2. Mampu mengalahkan iblis.
3. Mampu mengalahkan lisannya.
4. Mampu mengalahkan kemarahannya.

Fatwa Syaikh Ahnaf Bin Qais RA
Beliau berkata:
1. Tidak ada ketenangan bagi orang-orang yang hasud.
Sebagaimana fatwa Abdul Mu'thi As Salawya dari gurunya yang bernama Al Badar RA, yaitu bahwa orang yang hasud akan tertimapa lima kerusakan;
- Hina.
- Kesedihan yang berkepanjangan.
- Tidak mendapatkan pintu taufik.
- Mendapatkan musibah yang berkepanjangan yang tidak ada pahalanya.
- Mendapatkan siksa yang amat berat dari Allah Ta'ala.
Demikian juga Ali AL Mawardi berkata:
"Hakikat hasud ialah merasakan kesedihan yang amat sangat, sedangkan hakikat Al Munafasah ialah ingin memiliki keutamaan yang dimiliki orang lain."

2. Tidak mempunyai muru'ah (harga diri) bagi pembohong. Muru'ah ialah selalu menjaga sopan santun, perilaku baik sehingga tidak nampak kejelekan yang disengaja dan tidak berbuat kesalahan yang tercela.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Barangsiapa bergaul dengan orang lain tanpa pernah mendzalimi mereka, bercerita kepada mereka tanpa membohongi mereka, berjanji kepad mereka tanpa pernah mengingkari maka ia tergolong orang yang sempurna muru'ahnya, jelas sifat keadilannya. sedangkan menjalin tali persaudaraan dengannya adalah suatu kewajiban."

3. Tidak ada rekayasa bagi orang yang bakhil.
Sedangkan batasan orang dermawan ialah menyerahkan sesuatu yang masih dibutuhkan ketika ada hajat dan mendatangkan kepada orang yng berhak menerimanya sekira ia mampu, maka orang yang berada pada batasan tersebut dinamakan karim (orang yang dermawan) sekaligus patut untuk dipuji. sedangkan orang yang tidak sampai pada batasan tersebut dinamakan bakhil sekaligus berhak untuk dicela.

4. Tidak ada keinginan untuk memenuhi janjinya bagi para penguasa, karena mereka tidak memliki rasa malu dan takut terhadap rakyat.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Ada dua golongan dari umatku jika mereka baik maka umat akan baik, yaitu pemerintah dan Ulama'."

5. Tidak ada kehormatan bagi orang yang berakhlak buruk, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Akhlak yang buruk adalah suatu kejelekan sedangkan sejelek-jeleknya kalian adalah orang yang paling buruk akhlaknya."
"Sesungguhnya akhlak yang buruk dapat merusak amal sebagaimana cuka yang dapat menghilangkan manisnya madu."


6. Tidak ada yang mampu menghindar dari takdir Allah Ta'ala.

Saturday, October 8, 2011

Syeikh Abul Hasan Asy Syadzili : Tentang "Siksaan"


Siksaan itu terdiri dari empat macam :
1. Siksaan melalui adzab.
2. Siksaan melalui hijab.
3. Siksaan melalui pengekangan
, dan
4. Siksaan melalui kerusakan, yaitu kerusakan rahasia batin dalam meraih tujuan.

Siksaan adzab, muncul dari arah pelanggaran hal-hal yang dilarang oleh Allah Ta'ala.

Siksaan hijab, muncul bagi ahli tha'at, yaitu bentuk siksaan yang muncul karena etika ketaatan yang buruk.
Banyak manusia yang masih tidak mempedulikan etika beribadah yang sopan, tidak disiplin dalam beribadah, tidak disiplin dalam bersuci, dan yang lebih parahnya lagi mash banyak manusia yang menghadap Allah Ta'ala dengan pakaian yang tak sopan. sadarlah bahwa itu juga merupakan siksaan bagi ahli ta'at.

Siksa pengekangan, muncul dari arah keteguhan (yang berguncang). kesadaran akan posisi kita sebagai hamba adalah salah satu penyebabnya, dari kurangnya kesadaran itu akan muncul niat yang kurang kuat (sungguh-sungguh), dari niat yang masih lemah itulah goyahnya hati akan mudah terjadi.

Siksa kerusakan, muncul dari arah memburu ketergesaan dan kegelisahanm yang kemudian (terkadang) mempengeruhi seseorang hingga merusak rahasia batin. di masa sekarang, sering kali suasana hati masih di dominasi oleh perasaan terhadap sesama manusia yang kemudian bisa meredupkan rasa cinta kita terhadap Allah Ta'ala.

Janganlah engkau tertutupi oleh kelebihan dari Yang Maha Memberi kelebiihan. aku bertanya, "Ya Tuhan, bagaimana ini.?" DIA menjawab, "Ketahuilah, sesungguhnya wujudmu telah mendahului ilmumu, dan syukur adalah ilmumu". sedangkan wujudmu mendahului apa yang tampak, merupakan anugerah kelebihan-Nya kepadamu. apabila engkau merasa lebih, berarti engkau tertutupi (ter-hijab) kelebihan dari Yang Maha Memberi kelebihan. namun jika engkau berada di sisi-Nya dan bersama-Nya, maka tak ad ayang mendahului maupun didahului.

Dan jika engkau sebagai penyaksi yang muncul dari wujudmu kepada wujud-Nya, berarti engkau tertutup oleh pengetahuan.
Janganlah doamu (yang membuat hajatmu/kebutuhanmu tercapai) menjadikan kegembiraanmu tanpa gembira terhadap munajat kepada Kekasihmu (Allah Ta'ala), sehingga menyebabkan engkau termasuk orang-orang yang terhalangi (ter-hijab).

Thursday, August 18, 2011

Anekdot Al-Junaid


Abul Qasim Al-Junaid bin Muhammad wafat tahun 297 H / 910 M. Beliau adalah pemuka thariqat kaum sufi. Berasal dari Nahawand, namun lahir dan tumbuh besar di irak. Beliau dikenal sebagai seorang faqih dalam bidang mazhab Abu Tsaur, dan berfatwa di halaqahnya ketika usianya baru 20 tahun. Berguru kepada pamannya sendiri, As-Sary, Al-Harits Al-Muhasiby, serta Muhammad bin Ali Al-Qashshab.
Berikut adalah diantara ucapan beliau:
“Bila seseorang benar-benar menghadap Allah SWT selama sejuta tahun, lantas sejenak ia berpaling dari-Nya, segal sesuatu yang telah hilang sejenak itu nilainya lebih banyak daripada yang telah diperolehnya (selama sejuta tahun)”
“Taubat itu mempunyai tiga makna, pertama menyesali kesalahan, kedua berketetapan hati untuk tidak kembali pada dosa, ketiga membela orang-orang yang teraniaya.”

TIPU MUSLIHAT IBLIS.
Al-Junaid mengisahkan, “Suatu hari, aku berhasrat untuk melihat iblis. Aku berdiri di depan pintu Masjid dan melihat seorang lelaki tua mendekat dari kejauhan. Saat aku memandangnya, kengerian memasuki diriku.
‘Siapakah anda?’ tanyaku.
‘Yang ingin engkau temui.’ jawabnya.
‘Sang terkutuk.’ Pekikku.
‘Apa yang membuatmu tidak mau sujud kepda Adam?’
Ia menjawab, ‘Bagaimana menurutmu Junaid, apakah ak harus menyembah selain-Nya?.’
Al-Junaid mengatakan bahwa ia merasa bingung setelah mendengar perkataan iblis itu. Kemudian beliau berkata, ‘Sebuah suara berkata kepadaku dari dalam relung hatiku. Katakanlah (kepada iblis), engkau pembohong..!!! jika engkau benar-benar hamba Allah Ta’ala yang sejati, engkau pasti menuruti perintah-Nya. Engkau tidak akan pernah mengabaikan perintah itu dan bermain dengan penyangkalan.’ Saat iblis mendengar kata-kata itu, ia pun memekik dengan keras, ‘Demi Allah, Junaid. Engkau telah menghancurkanku.” Kemudian iblis itu pun lenyap.

BELAJAR YAKIN.
“Aku belajar keyakinan yang tulus dari seorang pemangkas rambut.” Kenang Al-Junaid, dan ia pun mengisahkan cerita berikut ini.
Suatu hari, saat aku berada di Makkah, seorang pemangkas sedang mencukur rambut seorang laki-laki terhormat.
Aku berkata padanya, “Demi Allah, dapatkah engkau memangkas rambutku?”
“Ya, tentu saja.” Katanya sambil bercucuran air mata, ia tidak menyelesaikan pekerjaannya terhadap lelaki terhormat itu.
“Berdirilah.” Katanya. “Saat nama Allah diucapkan yang lain harus menunggu.”
Ia pun mendudukkanku, mencium kepalaku, dan mencukur rambutku. Lalu ia memberikanku sebuah bungkusan kertas yang berisi sejumlah koin kecil.
“Belanjakanlah uang ini untuk keperluanmu.” Katanya.
Aku pun berketetapan hati untuk memberikan padanya hadiah pertama yang kuterima. Tidak berapa lama, aku dihadiahi sekantong emas dari Bashrah. Aku membawa emas itu kepada tukang cukur.
“Apa ini?” ia bertanya.
Aku menjelaskan, “aku telah berketetapan hati, bahwa hadiah pertama yang aku terima, akan aku berikan kepadamu. Aku baru saja mendapatkan ini.”
"Saudaraku," tukasnya.
"Tidakkah engkau malu kepada Allah SWT? engkau berkata kepadaku, -Demi Allah pangkaslah rambutku- lalu engkau memberiku hadiah. apa engkau pernah mendengar ada seorang melakukan sesuatu karena Allah Ta'ala lalu meminta bayaran?".

SAUDARA SEJATI.
"Zaman sekarang ini, saudara seiman semakin sulit untuk ditemui." kata seorang lelaki di hadapan Junaid.
Junaid berkata, "Jika engkau mencari seseorang untuk menanggung bebanmu, memang orang seperti itu jarang dan sulit sekali untuk ditemukan. namun jika engkau mencari seseorang untuk engkau pikul bebannya, orang seperti itu banyak dan dapat engkau jumpai bersamaku."

KE-ESA-AN ILAHI.
Kapan pun Junaid berbicara tentang ke-Esa-an Ilahi, tiap kali ia memulai dengan ungkapan yang berbeda yang tak dapat dimengerti oleh seorang pun.
Suatu hari, Syibli berada di majelis Junaid dan mengucapkan kata 'Allah'.
Junaid berkata, "Jika Tuhan tidak hadir, menyebut 'Yang tidak hadir' adalah tanda ketidak hadiran (maksudnya, ketidak hadiran Tuhan di hati), dan ketidak hadiran adalah suatu hal yang terlarang. Jika Tuhan hadir, maka menyebut nama-Nya saat membayangkan-Nya hadir (maksudnya, saat Tuhan hadir di hati) adalah tanda ketidak sopanan."

SAKSI BAJU SENDIRI.
Suatu malam, seorang pencuri memasuki kamar Junaid. setelah melihat bahwa tidak ada apa-apa di dalam kamar itu kecuali sehelai pakaian, pencuri itu pun mengambil pakaian itu lalu pergi.
Keesokan harinya, Junaid melewati pasar dan melihat pakaiannya ada di tangan seorang pedagang yang sedang menawarkannya pada seorang laki-laki.
"Sebelum membelinya, aku ingin engkau menghadirkan seseorang untuk bersaksi bahwa pakaian ini memang benar-benar melikmu." kata si calon pembeli.
Junaid pun mendekat dan berkata, "Aku siap untuk bersaksi bahwa pakaian ini memang benar-benar miliknya."
Akhirnya laki-laki itu pun membeli pakaian tersebut.

Monday, May 2, 2011

"Aku tidak tahu"


Dan diantara tanda-tanda Ulama akhirat adalah tidak tergesa-gesa dalam memberikan fatwa, tetapi berdiri teguh menjaga diri dari memberi fatwa selama masih ada jalan untuk melepaskan diri.

Jika ia ditanya tentang apa yang diketahuinya benar-benar dengan dalil (nash) Kitabullah atau Hadits atau Ijma’ atau Qiyas yang nyata, niscaya ia akan berfatwa. Dan jika ditanya tentang sesuatu yang meragukannya, maka ia akan menjawab : “saya tidak tahu (La adri)”. Tapi jika ia ditanya tentang sesuatu persoalan yang hampir diyakininya berdasarkan ijtihad dan terkaannya, maka dalam hal ini ia akan berhati-hati, mempertahankan diri dan menyerahkan jawabannya kepada orang lain yang sekiranya lebih dalam menguasai ilmu tentang persoalan tersebut.

Inilah yang dinamakan berhati-hati, karena ikut-ikutan berijtihad (mengatakan persoalan dengan kehendaknya sendiri tanpa didasari oleh Al-Qur’an dan Hadits) adalah besar sekali bahayanya. Karena “ilmu itu adalah Kitab yang berbicara dan Sunnah yang berdiri tegak”.

Asy-Sya’bi berkata : La adri (saya tidak tahu) adalah setengah ilmu. Barangsiapa berdiam diri (karena Allah Ta’ala) tentang sesuatu yang tidak diketahuinya, maka tidaklah mengurangi pahalanya daripada orang yang berkata-kata. Karena mengaku bodoh adalah suatu yang sangat berat bagi (kebanyakan) jiwa manusia, dan juga berat untuk dikatakan pada orang lain”.
Begitulah kebiasaan para Sahabat dan para Ulama salaf

Ibnu Umar apabila ditanyakan tentang fatwa, maka beliau menjawab : “Pergilah kepada amir itu yang menerima pikulan tanggung jawab segala urusan manusia (maksudnya : yang lebih menguasai), maka letakkannlah urusan itu ke pundaknya”.

Berkata Ibrahim Bin Adham r.a : “Tidak ada yang lebih menyulitkan bagi setan selain orang alim yang berkata dengan ilmunya, dan berdiam diri dengan ilmunya”. Setan itu akan berkata : “lihatlah kepada orang alim ini.!! Diamnya lebih sulit bagiku daripada ia berkata-kata”.

Sebagian Ulama’ men-sifatkan Wali Abdal (Al-abdal) --orang shaleh yang selalu ada di dunia ini, yang selalu digantikan oleh Tuhan apabila ada yang meninggal-- dengan mengatakan : “Orang shaleh itu makannya seperlunya saja, tidurnya kalau terpaksa, dan kata-katanya kalau sudah penting, artinya : mereka tidak berbicara sebelum ditanya, dan apabila ditanya lantas ada seseorang yang lebih mampu mencukupkan hajat mereka (yang bertanya), maka ia akan berdiam diri. Dan jika diperlukan, barulah ia berkata”.

Orang-orang shaleh itu memandang bahwa memulai berbicara sebelum ditanya adalah termasuk sebagian dari hawa nafsu (suka berbicara) yang tersembunyi.
Syaidina Ali r.a dan Syaidina Abdullah r.a melewati seorang laki-laki yang sedang berbicara di hadapan orang banyak, lalu berkatalah Syaidina Ali r.a : “Orang itu nanti akan mengatakan ‘kenalilah diriku’.!!“.

Sebagian Ulama’ juga mengatakan bahwa orang berilmu itu apabila ditanya suatu masalah, seperti dicabut giginya. Ibnu Umar berkata : “Kamu bermaksud menjadikan kami jembatan, yang akan kamu pakai menuju neraka jahannam”. Sekilas kata-kata tersebut memang sulit diterima akal sehat, tapi jika kita mengerti arti sejati dari diam, maka apa yang dikatakan beliau itu adalah benar adanya.

Abu Hafash An-Naisaburi berkata : “Orang alim itu ialah orang yang takut pada pertanyaan, dimana nanti ia akan ditanya pada hari Qiamat –dari manakah kamu peroleh jawaban itu?-”.
Adalah Ibrahim At-Taimi apabila ditanyakan tentang suatu masalah, lalu menangis seraya berkata : “Apakah tuan-tuan tidak mendapati orang lain yang lebih menguasainya, sehingga tuan-tuan mendesak?”.

Tatkala Rasulullah SAW ditanyakan tentang tempat yang terbaik dan yang terburuk dibumi, maka beliau menjawab : “La adri (saya tidak tahu)”. Lalu datanglah Malalikat Jibril a.s, lantas ditanyakan hal itu pada Malaikat Jibril a.s, Malaikat Jibril menjawab : “La adri (saya tidak tahu)”. Sehingga ia diberitahu oleh Allah Ta’ala, bahwa tempat yang terbaik (di bumi) adalah Masjid, dan tempat yang terburuk (di bumi) adalah pasar”.

Thursday, April 21, 2011

Mari berjalan-jalan di dunia nafsu (Musuh yang dicintai kebanyakan manusia)


Seperti yang telah dijelaskan dalam catatan sebelumnya, dari sebuah buku yang berjudul “Insan Kamil”, saya mendapati ada empat pembagian nafsu (Muthmainnah, Supi’ah, Amarah, Lawwaamah). Salah satu dari keempat nafsu itu adalah nafsu untuk menuju kebaikan (Muthmainnah). Dari sini kita pasti tahu jika satu melawan tiga, jelas sulit untuk menang, kecuali dengan bantuan Allah Ta’ala.

Jika sudah begitu, hendaklah kita selalu berhati-hati terhadap nafsu yang senantiasa mengajak berbuat jelek. Karena hafsu adalah musuh yang paling berat balaknya, paling sulit merawatnya, paling pelik penyakitnya, dan paling sulit pengobatannya.

Keharusan berhati-hati terhadap nafsu ini disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:
- Nafsu adalah musuh yang datang dari dalam diri sendiri. Ibarat pencuri, apabila pencuri itu ada di dalam rumah itu sendiri, tentu akan sangat sulit disiasati, amat menyusahkan dan yang pasti meresahkan.
Benar sekali pa yang dikatakan oleh orang-orang kuno dulu:
“Nafsuku selalu mengajakku berbuat yang merugikan diriku, memperbanyak penyakitku. Bagaimana daya upayaku menghadapi musuh yang berada diantara tulang-tulang igaku?”.

- Nafsu itu musuh yang disukai dan (mungkin) dicintai. Kebanyakan manusia biasanya buta terhadap cela dirinya sendiri, malah hampir tidak melihat cela atau aib dirinya.
Sebagaimana yang juga dikatakan oleh orang-orang terdahulu:
“Engkau tidaklah melihat cela orang yang dicintai, juga tidak dapat melihat sebagian dari apa yang ada padanya (orang yang dicintai) apabila engkau sudah senang. Mata yang senang tentu tumpul (tidak dapat melihat) terhadap setiap cela, tetapi mata yang benci akan menampakkan berbagai keburukan”.

Kalau begitu, manusia cenderung menganggap baik setiap kejelekan yang datang dari nafsunya dan hampir-hampir tidak dapat melihat celanya, karena kebanyakan manusia sangat mencitai dirinya sendiri, padahal nafsu selalu memusuhi dan membuat madlarat kepada manusia. Tidak perlu memakan waktu lama bagi nafsu untuk menjerumuskan manusia kedalam keterbukaan aib dan kerusakan, sedangkan manusia sering tidak merasa, kecuali jika Allah Ta’ala menjaganya dan menolongnya mengalahkan nafsu, dengan Anugerah dan Rahmat-Nya.

Kemudian, mari kita renungkan satu faedah penting yang dapat memuaskan kita, yaitu : Apabila kita au memperhatikan, kita akan mengetahui bahwa asal semua fitnah, terbukanya aib, kehinaan, kerusakan dan dosa yang terjadi pada makhluk Allah Ta’ala (sejak permulaan makhluk sampai hari Qiamat), sumbernya adalah dari nafsu. Terkadang disebabkan oleh nafsu itu sendiri dan terkadang juga sebab bantuan nafsu.

Permulaan maksiat kepada Allah Ta’ala adalah dari iblis, sedangkan sebab maksiat iblis itu (sesudah Qadla’ Allah Ta’ala yang telah ditentukan) adala hawa nafsu. Dengan kesombongan dan kedengkian, nafsu menjerumuskan manusia kedalam lautan kesesatan, sehingga tenggelam selamanya. Karena, seperti yang telah dikatakan oleh Imam Ghazaly dalam kitab beliau bahwa di akhirat nanti tidak ada dunia, tidak ada makhluk dan tidak setan, namun nafsu (dengan kesombongan dan kedengkiannya) memperlakukan iblis dengan apa yang ia lakukan.

Mari kita mengingat kembali peristiwa Adam dan Hawa –‘Alaihimas salam— yang dikeluarkan dari surga Firdaus lantaran menuruti nafsu. Renungkan juga peristiwa Qabil dan Habil, penyebab Qabil membunuh Habil adalah kedengkian dan pelit. Kemudian peristiwa Harut dan Marut, penyebab Harut dan Marut turun derajatnya dan disiksa adalah karena menuruti hawa nafsu.
Demikian seterusnya sampai hari Qiamat.

Timbulnya fitnah, terbukanya aib di kalangan masyarakat, timbulnya kesesatan atau maksiat, pasti berasal dari nafsu dan kesenangan nafsu. Seandainya tidak nafsu, tentu semua manusia akan baik dan selamat.
Semoga Allah Ta’ala memberikan petunjuk dan pertolongan kepada kita semua, dan juga memberikan kita kekuatan untuk meredam, melawan dan mencegah hawa nafsu.

Saturday, April 9, 2011

Keutamaan diam dan macam-macam kerusakan lidah


Rasulullah SAW bersaba :
“Shalat adalah tiang agama, sedangkan diam itu Ibadah yang lebih utama. Bersedekah dapat mereda murka Allah SWT sedangkan diam itu ibadah yang lebih utama. Puasa dapat menjadi perisai dari api neraka sedangkan diam itu ibadah yang lebih utama. Jihad adalah puncaknya agama sedangkan diam itu ibadah yang lebih utama”.

“Diam adalah perhiasan bagi orang yang berilmu dan penutup bagi orang yang bodoh”.

“Diam adalah akhlak yang paling mulia”.

“Diam adalah perkara yang banyak manfaatnya tetapi sedikit sekali orang yang mau melakukannya”.

“Barangsiapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir maka lebih baik berkatalah dengan kebaikan atau (jika tidak bisa) diamlah”.

“Jagalah lidahmu kecuali untuk berbuat (berkata) kebaikan, sesungguhnya dengan menjaganya kamu telah mengalahkan syaithan”.


Macam-macam kerusakan lidah:

1. Membicarakan sesuatu yang tidak bermanfaat.
2. Berlebihan dalam berbicara dan melebihi dari kebutuhannya sekaligus tidak ada kemanfaatannya.
3. Membicarakan perkara bathil yaitu membicarakan perihal kemaksiatan misalnya membicarakan tingkah laku wanita, menceritakan beberapa tempat yang digunakan bermabuk-mabukan, tempat-tempat nongkrong orang fasiq, perilaku orang-orag yang sombong, tanda-tandanya orang yang dicela atau menceritakan perangai orang yang tidak disenangi.
4. Perdebatan dan perbantahan (mengunggulkan diri sendiri dan tidak mau mengalah).
5. Bermusuhan, bertengkar dan bercekcok.
6. Meyakinkan dalam berbicara agar didengar dan dipercaya.
7. Berbicara melampaui batas, yaitu berkata buruk, kei, kotor, jorok, makian, cacian, dan penghinaan.
8. Mengutuk, melaknat, dan mengharapkan seseorang akan keburukan dengan kata-katanya.
9. Bersyair dengan lidahnya secara berlebihan, mengajak berbuat hal-hal yang diharamkan misalnya menceritakan siat-sifat orang lain, tertawa, berbicara yang menyerupai wanita (bagi kaum laki-laki), membicarakan hal-hal yang bisa enarik syahwat, dll.
10. Mengejek, mencemooh, dan memperolok seseorang.
11. Menyebarluaskan rahasia (berkhianat).
12. Janji palsu (tidak menepati janji).
13. Berbohong dalam berkata dan bersumpah (terlebih lagi bersumpah dengan nama Allah SWT).
14. Ghibah (menggunjing), yaitu menceritakan aib orang lain.
15. Memitnah atau mengadu domba.
16. Halam Dzil Wajhaini (bermuka dua), yaitu orang yang mempunyai dua lidah (orang munafik yang lebih jelek daripada pengadu domba).
17. Pujian yang mengakibatkan enam kerusakan yaitu empat dari pihak (orang) yang memuji):
- Pujian dapat mendatangkan sifat sombong.
- Merasa paling unggul.
- Pujian dapat menimbulkan kesenangan dan kemalasan.
- Percaya diri (ini adalah sifat yang paling rumit untuk di nalar kerusakannya, padahal percaya pada diri sendiri adalah sebuah kesalahan –Insya Allah akan dibahas dalam artikel berikutnya-).
- Bisa mengakibatkan ketidak ikhlasan seseorang dalam beribadah.
- Pujian hanya untuk Allah SWT, jika itu datang dari mulut seseorang, bedakah itu dengan menyekutukan-Nya.??
18. Kesalahan pada tiap-tiap tutur kata yang lemah lembut.
19. Menimbulkan pertanyaan dari orang-orang yang bodoh tentang perkara-perkara yang rumit (janganlah bertanya sebelum dijelaskan/merasa kritis akan sesuatu hal).

Monday, March 28, 2011

Permulaan gerakan hati dan pikiran menuju Ibadah

Pada permulaannya, di hati seseorang tergerak begini :
"Kita ini selalu dikaruniai berbagai nikmat oleh Allah SWT (seperti nikmat hidup, dapat berbuat berbagai macam hal, diberi akal, bisa berbicara, serta semua sifat mulia dan diberi berbagai kelezatan, disamping tersingkirnya aneka urusan dan penyakit yang merugikan diri kita) Dzat Yang Maha Memberikan kenikmatan yang beragam ini tentu menuntut kepada kita, agar kita bersyukur dan melayani-Nya. jika kita lalai dari melayani dan bersyukur kepada-Nya, pasti Dia akan menghilangkan nikmat-nikmat itu dari diri kita dan sebaliknya akan menghukum kita. Allah SWT yang menganugerahi segala rupa nikmat itu telah mengutus seorang hamba kepada kita, yaitu Nabi Muhammad SAW yang dikukuhkan dengan mukjizat luar biasa yang tidak bisa dialami oleh manusia lain. utusan ini sudah menceritakan kepada kita bahwa kita mempunyai Tuhan yang Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Mengetahui, hidup, berkehendak, berFirman, memerintah dan melarang, Tuhan yang kuasa menghukum kita bila kita berbuat maksiat dan kuasa memberi pahala kepada kita bila kita tha'at. Tuhan yang Maha Mengetahui segala apa yang kita sembunyikan dan gerak-gerik pikiran kita. Dia telah memberikan janji dan ancaman, serta memerintahkan agar kita senantiasa melaksanakan peraturan-peraturan agama Islam".

Jika di hati seseorang ada gerak-gerik semacam ini, maka di hatinya tentu ada rasa bahwa tuntutan agar bersyukur dan melayani-Nya itu merupakan suatu hal yang mungkin. Karena, akal manusia tidak menganggap mustahil akan permulaan datangnya gerakan hati tersebut.

Sesudah itu, seseorang akan merasa takut, mengkhawatirkan dirinya, bagaimana nanti seandainya ada tuntutan dari Allah SWT. keadaan seperti ini disebut Khatir Faza' (gerakan hati yang menimbulkan rasa takut), yaitu gerak hati yang mengingatkan dan mendesak seseorang dengan hujjahnya, serta menolak semua alasan. juga mendorongnya agar berfikir dan mendatangkan dalil.

Kalalu sudah begitu, hamba tersebut akan tentu bergerak, hatinya selalu resah memikirkan bagaimana supaya selamat, aman, tenteram dari apa yang terjadi di hatinya, atau apa yang didengar telinganya.

Akhirnya, jalan yang kita temukan hanyalah merenungkankan dalil dan membuat dalil tentang ciptaan (makhluk) Allah Ta'ala yang dapat menunjukkan kepada kita adanya Dzat Pencipta, supaya bisa memiliki ilmul-yaqien, mengetaui apa yang tidak terlihat oleh mata kepala dan mengetahui bahwa kita mempunyai Tuhan yang memberi tugas, memerintah dan mencegah diri kita. ini adalah permulaan jalan rumit yang akan kita hadapi pada perjalanan Ibadah kepada Allah Ta'ala, yang disebut "Aqabatul 'Ilmi wal Ma'rifat" (jalan Ibadah berupa ilmu dan ma'rifat).

Jalan ini harus dilalui agar dalam urusan Ibadah senantiasa waspada. kita mulai melangkah untuk menempuh 'Aqabah ilmu ini yang mesti dilewati dengan baiknya perenungan terhadap dalil-dalil dan sempurnanya pemikiran, belajar serta bertanya kepada Ulama' yang mengurus kepentingan hidup di akhirat yang menjadi penunjuk jalan, pelita dan penuntun umat, juga mengambil faedah (manfaat) dan meminta do'a yang baik dari Ulama' akhirat.
Semoga kita mendapatkan kemudahan dan pertolongan Allah Ta'ala untuk bisa melampaui jalan-jalan yang rumit dalam suatu Ibadah, amin.

Dengan begitu, kita akan memperoleh keyakinan terhadap keadaan yang samar, yakni bahwa kita mempunyai Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan yang tidak sesuatupun menyekutui-Nya. akhirnya, kita dapat menemukan dan mengenal Tuhan, setelah sebelumnya bodoh dan tidak mengetahui apa-apa.

Saturday, March 26, 2011

27 Nasehat dalam Kitab Taurat

Wahab Bin Munahib RA berkata :
Di dalam kitab Taurat terdapat 27 nasehat:
1. "Barangsiapa mau memperbanyak bekal di dunia (untuk perjalanan menuju akhirat dengan ketaqwaan) maka kelak di hari qiamat ia akan menjadi kekasih Allah SWT."
2. "Barangsiapa mau menahan amarahnya maka ia akan di tempatkan disisi Allah SWT."
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
"Barangsiapa mampu menahan amarahnya maka Allah SWT akan melindunginya dari siksaan."
3. "Barangsiapa tidak mencintai kesenangan hidup di dunia maka kelak di hari Qiamat akan selamat dari siksa Allah SWT."
4. "Barangsiapa meninggalkan sifat hasud maka kelak di hari Qiamat ia akan dipuji oleh para makhluk."
5. "Barangsiapa meninggalkan rasa cinta menjadi penguasa (mencintai kedudukan) maka kelak di hari Qiamat akan dimuliakan disisi Dzat yang merajai lagi Maha Perkasa."
6. "Barangsiapa meninggalkan kebiasaan berlebih-lebihan maka ia akan mendapat keluasan rizki bersama orang-orang yang baik."
7. "Barangsiapa meninggalkan sifat bakhil maka kelak ia akan disebut namanya didepan para malaikat."
8. "Barangsiapa di dunia meninggalkan bersantai=-santai maka kelak di hari Qiamat akan mendapatkan kebahagiaan di surga."
9. "Barangsiapa meniggalkan hal-hal yang diharamkan maka kelak di hari Qiamat dijadikan tetangga para Nabi AS."
10. "Barangsiapa di dunia meninggalkan penglihatan dalam hal-hal yang diharamkan maka kelak di hari Qiamat Allah SWT akan membahagiakanmatanya di surga."
11. "Barangsiapa di dunia meninggalkan hidup kaya dan memilih hidup faqir maka di hari Qiamat Allah SWT akan membangunkannya bersamaan dengan para Wali dan para Nabi."
12. "Barangsiapa di dunia mau membantu memenuhi kebutuhan manusia, niscaya Allah SWT akan mencukupi segala kebutuhannya di dunia dan di akhirat."
13. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
"Barangsiapa mau mencukupi kebutuhan saudaranya yang muslim maka ia mendapatkan pahala sebagaimana pahalanya orang yang baru haji dan umrah."
14. "Barangsiapa mau mencukupi kebutuhan saudaranya yang muslim maka ia mendapatkan pahala sebagaimana pahalanya orang yang baru beribadah kepada Allah SWT seumur hidup."
15. "Barangsiapa mengharapkan ketenangan di alam kubur maka hendaknya ia bangun di waktu malam kemudian mengerjakan shalat sunnah meskipun kiranya satu rakaat."
16. "Barangsiapa mengharapkan tempat di bawah naungan Arsy-Nya Dzat yang Maha Penyayang maka berlakulah hidup zuhud (hatinya berpaling dari nikmat duniawi)."
17. "Barangsiapa mengharapkan hisabnya diperingan maka lebih baik ia mau menasehati dirinya dan saudaranya."
18 "Barangsiapa mengharapkan para malaikat mau menziarahinya maka lebih baik ia memiliki sifat wara'."
19. "Barangsiapa mengharapkan dirinya berada di tengah-tengah surga maka lebih baik berdzikir kepada Allah SWT di waktu malam dan siang hari."
20. "Barangsiapa mengharapkan masuk surga dengan tanpa hisab maka lebih baik bertaubatlah kepada Allah SWT dengan taubat yang sebenar-benarnya (nasuha)."
21. ""Barangsiapa mengharapkan kekayaan maka lebih baik ia ridla terhadap sesuatu yang telah diberikan oleh Allah SWT kepadanya dan orang lain baik berupa harta, jabatan dan lain sebagainya."
22. "Barangsiapa mengharapkan menjadi orang yang ahli ilmu fiqh (agama) maka lebih baik ia senantiasa bersikap khusu' dalam menghadapi masalah agama (orang yang mau mengikuti dan mau menerima kebenaran yang diucapkan oleh siapapun)."
23. "Barangsiapa mengharapkan menjadi orang ahli hikmah maka lebih baik ia terlebih dahulu menjadi orang yang berilmu."
"Barangsiapa mengharapkan keselamatan dari kejelekan orang lain maka janganlah menyebut salah satu dari mereka kecuali dengan kebaikan dan lebih baik berfikirlah tentang dirimu sendiri darimana dirimu dibuat dan untuk apa dirimu diciptakan."
24. "Barangsiapa mengharapkan derajat luhur di dunia dan akhirat maka lebih baik pilihlah urusan akhirat dengan meninggalkan urusan dunia (dengan gambaran keseluruhan waktu dipergunakan untuk menjalankan ibadah)."
"Barangsiapa mengharapkan surga Firdaus dan kenikmatannya yang tidak pernah rusak (abadi) maka janganlah kau sia-siakan umur dengan melakukan kemaksiatan."
25. "Barangsiapa mengharapkan surga dunia dan akhirat maka berbaik hatilah dengan suka memberi, sesungguhnya suka memberi dapat mendekatkan dirimu ke surga dan menjauhkanmu dari neraka."
26. "Barangsiapa mengharapkan hatinya tersinari oleh cahaya yang sempurna maka sebaiknya ia sering bertafakur dalam sifat keagungan Allah SWT dan mengambil hikmah dari kematian."
27. "Barangsiapa mengharapkan untuk memiliki badan yang sabar. lisan yang selalu berdzikir, dan hati yang khusu' maka sebaiknya ia memperbanyak memohon ampunan kepada Allah SWT untuk orang islam."

Sunday, March 6, 2011

Sepuluh perbuatan mulia yang diberikan oleh Allah SWT


Sahabat Abu Bakar As-shidiq bersabda :
“Tiada seorang hamba yang telah diberikan limpahan rizqi oleh Allah SWT yang berupa sepuluh perkara melainkan ia benar-benar telah selamat dari berbagai macam kerusakan dan telah mendapat derajat Al-Muqarrabin dari Allah SWT (orang-orang yang dekat dengan Allah SWT) dan memperoleh derajat Al-Muttaqin (orang-orang yang meninggalkan kesenangan hawa nafsunya dan menjauhi perkara yang dilarang)”.


1. Ucapannya selalu jujur disertai dengan hati yang Qana’ah (menerima apa adanya segala sesuatu yang diberikan oleh Allah SWT).
Lisan yang jujur merupakan awal dari keberuntungan, barang siapa sedikit kejujurannya berarti sedikit pula temannya.
2. Kesabaran yang sempurna disertai dengan hati yang selalu bersyukur. Rasulullah SAW bersabda :
“Sebaik-baiknya senjata orang mu’min adalah kesabaran dan berdo’a”.
3. Selalu tertimpa kefakiran disertai dengan hidup zuhud. Rasulullah SAW bersabda:
“Wahai orang-orang yang fakir, berikanlah keridlaan hati kalian kepada Allah SWT. Niscaya kalian akan mendapatkan pahala kefakiran kalian dan jika kalian tidak ridla niscaya kalian tidak akan mendapatkannya”.
4. Selalu bertafakkur disertai keadaan perut yang lapar. Rasulullah SAW bersabda :
“Berfikirlah tentang segala hal dan janganlah berfikir tentang Dzat-Nya Allah SWT, sesungguhnya antara langit ke tujuh dan kursinya Allah SWT terdapat 7.000 lapis cahaya sedangkan Allah SWT berada diatas itu”.
“Allah SWT mengasihi suatu kaum dimana manusia menganggap mereka oran yang sakit padahal mereka itu tidak sakit”.

5. Selalu bersedih disertai dengan rasa takut kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda :
“Seandainya kalian mengetahui harta kalian (pahala) disisi Allah SWT, niscaya kalian lebih senang jika kalian bertambah miskin dan fakir (dari pada yang kalian alami sekarang)”.
“Jika seseorang merasa takut kepada Allah SWT berarti ia sudah berilmu dan jika seseorang merasa bangga (kagum) terhdap dirinya sendiri berarti ia masih bodoh”.
“Surga akan dimasuki oleh orang yang mengharapkannya, neraka akan dijauhi oleh orang yang takut (siksaan) neraka dan Allah SWT akan mengasihi kepada orang yang memiliki kasih sayang”.

6. Selalu berjuang disertai dengan kerendahan hati.
“Bersikap rendah dirilah kalian dan bergaulah dengan orang-orang yang miskin niscaya kalian menjadi bagian dari pembesarnya orang-orang ahli ibadah dan dapat terlepas dari kesombongan”.
Allah SWT berfirman :
“Sembahlah Tuhanmu hingga keyakinan mendatangimu”.
Maksud ayat tersebut adalah : “Berpalinglah dari nafsumu wahai makhluk yang paling mulia, sampai kematian mendatangimu”.
Tidak mengikuti hawa nafsu disebut dengan ibadah, karena nafsu itu selalu menentang ibdah dan keinginannya hanya bermaksiat.
7. Selalu bersikap lemah lembut disertai dengan kasih sayang dalam segala perbuatan. Sebagaimana hadits berikut :
“Allah SWT hanya akan mengasihi hamba-hambaNya yang penuh kasih sayang”.
8. Selalu cinta kepada Allah SWT disertai dengan rasa malu kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda :
“Apakah kalian senang jika masuk surga? Para sahabat menjawab : senang ya Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda : Pendekkanlah angan-angan kalian, tetapkanlah kematian kalian selalu berada di depan mata kalian dan merasa malulah kalian kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya. Para sahabat berkata : Kami semua sudah merasa malu kepada Allah SWT. Kemudian beliau menjawab : Bukan seperti malu kepada Allah SWT, tetapi malu kepada Allah Ta’ala itu jika kalian tidak melupakan perut dan perkara yang ada didalamnya. Barang siapa ingin mendapatkan kemuliaan di akhirat maka keindahan dunia harus ia tinggalkan, memang disanalah seorang hamba memiliki rasa malu kepada Allah Ta’ala. Dan disanalah ia mendapatkan belas kasih Allah SWT”. (HR. Abu Naim).
9. Ilmu yang bermanfaat disertai dengan perbuatan untuk mengamalkannya. Rasulullah SAW bersabda :
“Pelajarilah ilmu yang mana saja yang kalian kehendaki, niscaya Allah SWT tidak akan memberi kemanfaatan ilmu itu kepada kalian hingga kalian mau mengamalkan ilmu yang kalian pelajari”.
“Malapetaka kecerdasan adalah keras kepala, malapetaka keberanian adalah penentang, malapetaka suka memberi adalah kesombongan. Bahayanya ibadah adalah malas, bahayanya bercerita adalah kebohongan, bahayanya berilmu adalah lupa, bahayanya sopan santun adalah kebodohan, bahayanya kemuliaan adalah berunggul-unggulan dan bahayanya sifat dermawan adalah berlebih-lebihan”.

10. Iman yang abadi disertai dengan akal yang jernih.
Akal adalah sumber tata krama. Sebagaimana perkataan ahli balaghah “Sebaik-baiknya pemberian adalah akal, sejelek-jeleknya musibah adalah kebodohan”.
Ahali Al-abda’ berkata : “Teman sejati setiap orang adalah akalnya, sedangkan musuhnya adalah kebodohannya, sunguh Allah SWT menjadikan akal untuk pondasi bagi agama dan tiang agama”.

Sumber segala kesalahan

Rasulullah SAW bersabda :
“Allah SWT memberi wahyu kepada Nabi Musa Bin Imran AS dalam kitab Taurat. Sesungguhnya sumber segala kesalahan itu ada tiga : Sombong, Hasud, dan Serakah”.

1. Sombong
Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW :
“Kesombongan itu menolak kebenaran dan menghina orang lain”
Maksudnya : Barang siapa yang melihat dirinya dengan mata keagungan sedangkan melihat orang lain dengan mata meremehkan (rendah/menganggap kecil) maka ia termasuk sebagian dari orang-orang yang sombong.
2. Hasud
3. Serakah (cinta terhadap dunia)
Sebagaimana ungkapan Malik Bin Dinar RA :
“Ketika badan merasakan kesakitan niscaya segala makanan, minuman, tidur dan istirahat tidak ada gunanya. Demikian juga dengan hati ketika sibuk mencintai dunia niscaya segala bentuk nasehat tidak akan bermanfaat baginya”.

Kemudian akibat dari tiga perkara tersebut muncul enam perkara :
1. Perut terlalu kenyang
2. Banyak tidur
3. Banyak bersantai-santai (istirahat menghilangkan kelelahan)
4. Mencintai harta benda
Sebagaimana ungkapan Sayyid Abdullah Al-Hadad :
“Kita harus selalu mengeluarkan rasa cinta pada dunia dan dirham dari hati kita sehingga kita menganggap keduanya sebagai batu”.
5. Senang disanjung dan dipuji
Kita harus bisa mengeluarkan rasa cinta akan kedudukan (dihadapan orang lain/manusia) dari hati kita, sampai kita bisa menganggap antara dipuji dan dicela itu tidak ada bedanya.
6. Senang menjadi pemimpin
Kita harus bisa mengeluarkan rasa cinta akan kedudukan disisi manusia dari hati kita, sampai kita bisa menganggap antara mereka mematuhi dan mengkhianati kita itu tidak ada bedanya.

Dari keterangan-keterangan diatas, mari kita renungkan.!!! Hanya dari tiga perkara yang buruk, muncul enam keburukan. Dari enam keburukan tersebut bisa jadi dan besar kemungkinan akan muncul banyak keburukan-keburukan lagi yang mungkin tanpa kita ketahui dan kita sadari keburukannya. Dan jika bicara tentang ketidaktahuan kita tentang keburukan suatu hal, akan timbul pertanyaan seperti ini..Tidak iginkah kita belajar agar bisa mengetahuinya.?? Akankah kita terus-menerus bergelut dengan masa-masa kebodohan.?? Tentu kita tidak ingin seperti itu. karena sejelek-jeleknya musibah adalah kebodohan. Perlu kita ingat baik-baik, bahwa Islam bukanlah ajaran yang dangkal, masih banyak hal yang mungkin belum kita kita ketahui.

Kesalahan orang yang waspada itu masih lebih baik daripada kesalahan orang yang ceroboh. Semoga Allah Ta’ala selalu memberikan petunjuk kepada kita semua, memberikan taufik dan menjauhkan kita dari segala keburukan, amin.

Wednesday, March 2, 2011

Tiga nasehat bagi penuntut ilmu


Al-kisah :
Suatu ketika ada seorang laki-laki dari qaum Bani Israil ingin keluar dari negaranya untuk menuntut ilmu di negara lain. berita itu telah sampai pada Nabi Muhammad SAW, maka kemudian beliau mengutus pemuda itu untuk datang ke rumah beliau. setelah pemuda itu datang ke tempat beliau, beliau bersabda kepada pemuda itu :

"Hai anak muda, sesungguhnya aku akan menasehatimu dengan tiga perkara, tiga perkara itu adalah ilmunya orang-orang terdahulu dan orang-orang setelahnya, yaitu :
1. Takutlah kamu kepada Allah Ta'ala disaat kamu sendiri dan disaat bersama orang lain.
2. Jagalah lisanmu ketika bersama orang lain, janganlah kamu berkata kepada mereka kecuali dengan perkataan yang baik.
3. Perhatikan makananmu yang akan kamu makan sehingga benar-benar dari hasil yang halal."


Kemudian setelah mendengar nasehat dari Nabi Muhammad SAW tersebut, pemuda itu pun mengurungkan niatnya untuk keluar ke negara lain karena menuntut ilmu.

Friday, February 4, 2011

Inikah zaman yang dimaksud oleh Rasulullah SAW.?


"Aku mengharapkan orang-orang ini melakukan lima perkara namun aku tidak bisa menemukannya" (Hakim Al-Asham). Aku mengharapkan meraka berlaku tha'at kepada Allah SWT dan zuhud dunia, tetapi mereka tidak mau melakukannya. aku berkata: "jika kalian tidak mau tha'at dan zuhud, maka bantulah aku dalam masalah tersebut". orang-orang tidak mau membantu, maka aku katakan "bila kalian tidak mau, maka ridlalah kalian kepadaku, jangan kalian membenciku manakalah aku melakukan tha'at dan zuhud". mereka tidak mau, maka aku berkata : "kalau begitu, janganlah kalian mencegahku bila aku hendak tha'at dan zuhud". mereka tetap saja mencegahku, maka aku berkata : "baiklah, kalian jangan mengajakku untuk mengerjakan perkara yang tidak membuat ridla Allah SWT yang Maha Agung dan janganlah kalian memusuhiku, apabila aku tidak mengikuti kalian". mereka pun juga tidak mau. lalu aku meninggalkan mereka dan sibuk mengurusi diriku sendiri.

Rasulullah SAW pernah bersabda "Zaman fitnah ialah zaman pertikaian".
Ditanyakan oleh seorang sahabat, "apakah zaman pertikaian itu.?", Rasulullah SAW menjawab, "Yaitu zaman ketika seseorang tidak aman terhadap teman duduknya".

Ibnu Mas'ud menuturkan dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Al-Harits bin 'Umairah, bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda kepada beliau: "Jika engkau dikaruniai umur panjang, tentu akan datang padamu suatu masa, yang pada masa itu banyak juru khutbah sedikit Ulama'nya, banyak orang meminta sedikit yang mau memberi, kesenangan nafsu di masa itu merupakan penuntun dalam menuntut ilmu".

Al-Harits bertanya : "Kapankah kejadian yang demikian itu, ya Rasulullah.?", Rasulullah SAW bersabda : "Nanti apabila jama'ah shalat dimatikan (jarang orang yang mau shalat berjama'ah), uang sogok diterima, agama dijual dengan harga murah dari harta dunia. nanti kalau sudah demikian, maka carilah keselamatan, carilah keselamatan! kasihan kau! carilah keselamatan (yakni keselamatan agama)".

Semua yang tersebut dalam hadits-hadits diatas, pasti sudah kita lihat dengan mata kepala kita pada zaman kita ini dan orang-orang yang berada dizaman kita (sekarang ini). karena itu, mari kita waspada. mari berhati-hati terhadap hati kita sendiri.
Orang-orang kuno yang shalih-shalih (semoga Allah SWT meridlai mereka) telah sepakat untuk memperingatkan para muslimin, terhadap zaman fitnah dan ahlinya.

Orang-orang kuno itu memilih untuk mengucilkan diri dari pergaulan dan menyuruh 'uslah. mereka juga saling berwashiyat dalam urusan 'uslah ini. tentu kita tidak akan ragu lagi bahwa orang-orang kuno yang shalih-shalih itu lebih awas dan lebih mempunyai kehendak baik terhadap kita, daripada yang lainnya. dan perlu kita ketahui bahwa pada zaman sesudah zaman mereka tidak bisa dianggap lebih baik ketimbang zaman yang telah ada. sebaliknya, pasti lebih buruk dan lebih pahit dibandingkan dengan zaman yang telah lewat itu.

Thursday, January 27, 2011

Sudahkah kita melihat.?


Bila kita bertanya bagaimana dunia yang sedemikian indah, enak, dan selalu dicari orang ini harus dianggap seperti api atau bangkai yang menjijikkan dan selalu berubah? padahal diri dan tabiat kita seperti ini. mungkin perlu kita tahu bahawa orang yang diberi Taufik oleh Allah SWT dan mengerti cacatnya dunia, tentu beranggapan dunia ini benar-benar seperti bangkai yang penuh racun.

Orang-orang (termasuk saya sendiri) yang heran atas keterangan ini, tidak lain adalah orang yang masih mencintai dunia dan masih kabur penglihatan hatinya.

Berikut ini adalah contoh perumpamaan tentang kedudukan dunia bagaikan bangkai yang penuh racun;
Ada seseorang yang membuat manisan (misalnya jenang, dodol, dll) dengan segala adonan-adonannya seperti gula, dan lain sebagainya. kemudian ia membubuhkan racun yang mematikan pada adonan itu. tak jauh dari situ ada dua orang yang satu melihat kejadian itu, dan yang satunya tidak melihat. lalu jenang yang sudah dihias itu disuguhkan pada mereka berdua (yang melihat perbuatannya dan yang tidak melihat).
Orang yang melihat tercampurnya racun pada jenang itu, tentu merasa benci dan dihatinya sama sekali tidak ada keinginan memakan jenang itu, baginya jenang itu bagaikan bangkai (bahkan lebih), karena ia tahu itu akan membinasakan dirinya bila ia memakan jenang yang tercampur racun itu. ia sama sekali tidak terbujuk oleh bentuk lahiriyah dan indahnya hiasan jenang itu.
Adapun orang yang tidak mengetahui adanya racun dalam jenang tersebut, ia pun akan mudah terbujuk oleh bentuk jenang yang telah dihias begitu indahnya. ia ingin sekali (bahkan tidak sabar) hendak melahapnya. ia pun juga pasti heran kepada temannya yang sama sekali tak ingin sedikitpun mencicipi jenang itu bahkan membenci jenang yang begitu menggiurkan, malahan kadang-kadang menganggap bodoh temannya itu.

Andaikata orang yang menyuguhkan jenang itu tidak menaruh racun, melainkan hanya meludah atau membuang ingus pada adonan jenang itu, lalu diberi wewangian dan dihias, maka orang yang melihat semua itu tentu merasa jijik terhadap jenang tersebut dan sangat enggan memakannya, kecuali dalam keadaan sangat terpaksa dan amat Hajat (perlu/butuh). sedangkan orang yang tidak melihat jenang yang sudah tercampur ludah atau ingus, ia tidak mengerti dan akan langsung memakannya walaupun telah tercampur oleh ingus atau ludah.

Inilah perumpamaan barang haramnya dunia bagi orang yang waspada serta istiqamah melakukan tha'at kepada Allah SWT, dibandingkan dengan orang bodoh yang mencintai dunia. Dan seperti contoh dunia bagi dua golongan (yang mengerti dan yang tidak mengerti). keadaan dua orang ini jauh berbeda, padahal watak dan perawakannya sama. penyebabnya tak lain adalah nafsu. yang satu mampu menguasai nafsunya, dan satunya lagi telah dikuasai oleh nafsu itu sendiri dan tak mau menerima nasehat orang lain.

Seandainya orang yang cinta dunia itu melihat apa yang telah dilihat oleh orang yang zuhud, niscaya ia akan ikut membenci dunia. esbaliknya, jika orang yang zuhud itu bodoh dan tidak melihat apa yang juga tidak dilihat oleh orang yang cinta pada dunia, pasti ia pun juga akan ikut mencintai dunia.

Dengan contoh diatas, jelaslah bagi kita bahwa perbedaan dua orang tersebut terletak pada adanya kewaspadaan, bukan karena watak. orang yang waspada terhadap sesuatu pasti timbul banyak pertanyaan, sedangkan ilmu itu sendiri timbul dari sebuah pertanyaan. dan menjalani hidup tanpa ilmu, bukan hanya akan berhadapan dengan bangkai, tapi malah kita yang akan seperti bangkai.

Mohon maaf jika ada pernyataan-pernyataan yang mungkin sedikit kasar atau mungkin malah terlalu kasar, sekali lagi mohon maaf. tapi ini adalah sesuatu yang nyata bagi orang-orang yang sadar dan mau berfikir.