Recent

Syeikh Abul Hasan Asy Syadzili : Tentang "Siksaan"

Siksaan itu terdiri dari empat macam : 1. Siksaan melalui adzab. 2. Siksaan melalui hijab. 3. Siksaan melalui pengekangan , dan 4. Siksaan ...

Gus Dur : Tentang tasawuf dan Wihdatul Wujud (Manunggaling kawula lan Gusti)

Di dalam sebuah buku, Alwi Shihab pernah memaparkan bahwa penyebaran Islam di Negeri ini dilakukan antara lain oleh kaum Ulama pesantren.

Dari Mujahadah ke Muraqabah, sampailah pada Musyahadah

Mujahadah : Berjihad menumpas hawa nafsu yang menghalangi jiwa untuk dekat kepada Allah Ta’ala. Muraqabah : Memperhatikan gerak-gerik hati,...

Kita sering merasa yakin, tahukah apa itu "Yakin"?

Dan diantara tanda-tanda Ulama’ Akhirat itu ialah sangat bersungguh-sungguh menguatkan keyakinan. Karena keyakinan itu adalah modal Agama....

Menjadi Manusia Yang Manusiawi

Maksud dari kalimat "Manusia yang manusiawi" adalah menjadi manusia yang baik dan benar, serta manusia yang benar dan baik.

Sunday, March 6, 2011

Sepuluh perbuatan mulia yang diberikan oleh Allah SWT


Sahabat Abu Bakar As-shidiq bersabda :
“Tiada seorang hamba yang telah diberikan limpahan rizqi oleh Allah SWT yang berupa sepuluh perkara melainkan ia benar-benar telah selamat dari berbagai macam kerusakan dan telah mendapat derajat Al-Muqarrabin dari Allah SWT (orang-orang yang dekat dengan Allah SWT) dan memperoleh derajat Al-Muttaqin (orang-orang yang meninggalkan kesenangan hawa nafsunya dan menjauhi perkara yang dilarang)”.


1. Ucapannya selalu jujur disertai dengan hati yang Qana’ah (menerima apa adanya segala sesuatu yang diberikan oleh Allah SWT).
Lisan yang jujur merupakan awal dari keberuntungan, barang siapa sedikit kejujurannya berarti sedikit pula temannya.
2. Kesabaran yang sempurna disertai dengan hati yang selalu bersyukur. Rasulullah SAW bersabda :
“Sebaik-baiknya senjata orang mu’min adalah kesabaran dan berdo’a”.
3. Selalu tertimpa kefakiran disertai dengan hidup zuhud. Rasulullah SAW bersabda:
“Wahai orang-orang yang fakir, berikanlah keridlaan hati kalian kepada Allah SWT. Niscaya kalian akan mendapatkan pahala kefakiran kalian dan jika kalian tidak ridla niscaya kalian tidak akan mendapatkannya”.
4. Selalu bertafakkur disertai keadaan perut yang lapar. Rasulullah SAW bersabda :
“Berfikirlah tentang segala hal dan janganlah berfikir tentang Dzat-Nya Allah SWT, sesungguhnya antara langit ke tujuh dan kursinya Allah SWT terdapat 7.000 lapis cahaya sedangkan Allah SWT berada diatas itu”.
“Allah SWT mengasihi suatu kaum dimana manusia menganggap mereka oran yang sakit padahal mereka itu tidak sakit”.

5. Selalu bersedih disertai dengan rasa takut kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda :
“Seandainya kalian mengetahui harta kalian (pahala) disisi Allah SWT, niscaya kalian lebih senang jika kalian bertambah miskin dan fakir (dari pada yang kalian alami sekarang)”.
“Jika seseorang merasa takut kepada Allah SWT berarti ia sudah berilmu dan jika seseorang merasa bangga (kagum) terhdap dirinya sendiri berarti ia masih bodoh”.
“Surga akan dimasuki oleh orang yang mengharapkannya, neraka akan dijauhi oleh orang yang takut (siksaan) neraka dan Allah SWT akan mengasihi kepada orang yang memiliki kasih sayang”.

6. Selalu berjuang disertai dengan kerendahan hati.
“Bersikap rendah dirilah kalian dan bergaulah dengan orang-orang yang miskin niscaya kalian menjadi bagian dari pembesarnya orang-orang ahli ibadah dan dapat terlepas dari kesombongan”.
Allah SWT berfirman :
“Sembahlah Tuhanmu hingga keyakinan mendatangimu”.
Maksud ayat tersebut adalah : “Berpalinglah dari nafsumu wahai makhluk yang paling mulia, sampai kematian mendatangimu”.
Tidak mengikuti hawa nafsu disebut dengan ibadah, karena nafsu itu selalu menentang ibdah dan keinginannya hanya bermaksiat.
7. Selalu bersikap lemah lembut disertai dengan kasih sayang dalam segala perbuatan. Sebagaimana hadits berikut :
“Allah SWT hanya akan mengasihi hamba-hambaNya yang penuh kasih sayang”.
8. Selalu cinta kepada Allah SWT disertai dengan rasa malu kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda :
“Apakah kalian senang jika masuk surga? Para sahabat menjawab : senang ya Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda : Pendekkanlah angan-angan kalian, tetapkanlah kematian kalian selalu berada di depan mata kalian dan merasa malulah kalian kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya. Para sahabat berkata : Kami semua sudah merasa malu kepada Allah SWT. Kemudian beliau menjawab : Bukan seperti malu kepada Allah SWT, tetapi malu kepada Allah Ta’ala itu jika kalian tidak melupakan perut dan perkara yang ada didalamnya. Barang siapa ingin mendapatkan kemuliaan di akhirat maka keindahan dunia harus ia tinggalkan, memang disanalah seorang hamba memiliki rasa malu kepada Allah Ta’ala. Dan disanalah ia mendapatkan belas kasih Allah SWT”. (HR. Abu Naim).
9. Ilmu yang bermanfaat disertai dengan perbuatan untuk mengamalkannya. Rasulullah SAW bersabda :
“Pelajarilah ilmu yang mana saja yang kalian kehendaki, niscaya Allah SWT tidak akan memberi kemanfaatan ilmu itu kepada kalian hingga kalian mau mengamalkan ilmu yang kalian pelajari”.
“Malapetaka kecerdasan adalah keras kepala, malapetaka keberanian adalah penentang, malapetaka suka memberi adalah kesombongan. Bahayanya ibadah adalah malas, bahayanya bercerita adalah kebohongan, bahayanya berilmu adalah lupa, bahayanya sopan santun adalah kebodohan, bahayanya kemuliaan adalah berunggul-unggulan dan bahayanya sifat dermawan adalah berlebih-lebihan”.

10. Iman yang abadi disertai dengan akal yang jernih.
Akal adalah sumber tata krama. Sebagaimana perkataan ahli balaghah “Sebaik-baiknya pemberian adalah akal, sejelek-jeleknya musibah adalah kebodohan”.
Ahali Al-abda’ berkata : “Teman sejati setiap orang adalah akalnya, sedangkan musuhnya adalah kebodohannya, sunguh Allah SWT menjadikan akal untuk pondasi bagi agama dan tiang agama”.

Sumber segala kesalahan

Rasulullah SAW bersabda :
“Allah SWT memberi wahyu kepada Nabi Musa Bin Imran AS dalam kitab Taurat. Sesungguhnya sumber segala kesalahan itu ada tiga : Sombong, Hasud, dan Serakah”.

1. Sombong
Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW :
“Kesombongan itu menolak kebenaran dan menghina orang lain”
Maksudnya : Barang siapa yang melihat dirinya dengan mata keagungan sedangkan melihat orang lain dengan mata meremehkan (rendah/menganggap kecil) maka ia termasuk sebagian dari orang-orang yang sombong.
2. Hasud
3. Serakah (cinta terhadap dunia)
Sebagaimana ungkapan Malik Bin Dinar RA :
“Ketika badan merasakan kesakitan niscaya segala makanan, minuman, tidur dan istirahat tidak ada gunanya. Demikian juga dengan hati ketika sibuk mencintai dunia niscaya segala bentuk nasehat tidak akan bermanfaat baginya”.

Kemudian akibat dari tiga perkara tersebut muncul enam perkara :
1. Perut terlalu kenyang
2. Banyak tidur
3. Banyak bersantai-santai (istirahat menghilangkan kelelahan)
4. Mencintai harta benda
Sebagaimana ungkapan Sayyid Abdullah Al-Hadad :
“Kita harus selalu mengeluarkan rasa cinta pada dunia dan dirham dari hati kita sehingga kita menganggap keduanya sebagai batu”.
5. Senang disanjung dan dipuji
Kita harus bisa mengeluarkan rasa cinta akan kedudukan (dihadapan orang lain/manusia) dari hati kita, sampai kita bisa menganggap antara dipuji dan dicela itu tidak ada bedanya.
6. Senang menjadi pemimpin
Kita harus bisa mengeluarkan rasa cinta akan kedudukan disisi manusia dari hati kita, sampai kita bisa menganggap antara mereka mematuhi dan mengkhianati kita itu tidak ada bedanya.

Dari keterangan-keterangan diatas, mari kita renungkan.!!! Hanya dari tiga perkara yang buruk, muncul enam keburukan. Dari enam keburukan tersebut bisa jadi dan besar kemungkinan akan muncul banyak keburukan-keburukan lagi yang mungkin tanpa kita ketahui dan kita sadari keburukannya. Dan jika bicara tentang ketidaktahuan kita tentang keburukan suatu hal, akan timbul pertanyaan seperti ini..Tidak iginkah kita belajar agar bisa mengetahuinya.?? Akankah kita terus-menerus bergelut dengan masa-masa kebodohan.?? Tentu kita tidak ingin seperti itu. karena sejelek-jeleknya musibah adalah kebodohan. Perlu kita ingat baik-baik, bahwa Islam bukanlah ajaran yang dangkal, masih banyak hal yang mungkin belum kita kita ketahui.

Kesalahan orang yang waspada itu masih lebih baik daripada kesalahan orang yang ceroboh. Semoga Allah Ta’ala selalu memberikan petunjuk kepada kita semua, memberikan taufik dan menjauhkan kita dari segala keburukan, amin.

Wednesday, March 2, 2011

Tiga nasehat bagi penuntut ilmu


Al-kisah :
Suatu ketika ada seorang laki-laki dari qaum Bani Israil ingin keluar dari negaranya untuk menuntut ilmu di negara lain. berita itu telah sampai pada Nabi Muhammad SAW, maka kemudian beliau mengutus pemuda itu untuk datang ke rumah beliau. setelah pemuda itu datang ke tempat beliau, beliau bersabda kepada pemuda itu :

"Hai anak muda, sesungguhnya aku akan menasehatimu dengan tiga perkara, tiga perkara itu adalah ilmunya orang-orang terdahulu dan orang-orang setelahnya, yaitu :
1. Takutlah kamu kepada Allah Ta'ala disaat kamu sendiri dan disaat bersama orang lain.
2. Jagalah lisanmu ketika bersama orang lain, janganlah kamu berkata kepada mereka kecuali dengan perkataan yang baik.
3. Perhatikan makananmu yang akan kamu makan sehingga benar-benar dari hasil yang halal."


Kemudian setelah mendengar nasehat dari Nabi Muhammad SAW tersebut, pemuda itu pun mengurungkan niatnya untuk keluar ke negara lain karena menuntut ilmu.

Monday, February 28, 2011

Penyesalan belum berarti taubat


Jika kita bertanya : Bukankah Nabi Muhammad SAW pernah bersabda "Menyesal dari dosa itu adalah taubat".?
Beliau tidak menjelaskan/menyebutkan seperti apa yang kita tuturkan, yakni adanya syarat-syarat taubat, itu berarti kita telah memberati orang yang hendak bertaubat.

Jawabnya begini :
Pertama perlu kita ketahui bahwa penyesalan itu merupakan suatu hal yang tidak berada dalam kekuasaan seseorang. coba kita pikir.!! orang-orang kadang menyesal lantaran melakukan berbagai hal, tetapi sebenarnya ia tidak mempunyai kehendak atau keinginan untuk menyesal. sebaliknya dengan taubat, seseorang kuasa melakukannya dan ia diperintah untuk bertaubat. kemudian tentu kita tahu, andai kata ada orang yang menyesali perbuatan dosanya -yang lantaran dosa itu kedudukannya di masyarakat jadi hilang, atau hartanya habis untuk berbuat dosa itu- maka penyesalan semacam ini tidak dapat dikatakan sebagai taubat.

Dengan keterangan ini, kita mengerti bahwa pernyataan diatas mengandung arti yang tidak dapat dipahami dari segi lahiriyahnya saja. arti itu adalah : bahwa penyesalan demi mengAgungkan nama Allah Ta'ala dan takut akan siksa-Nya itu termasuk perkara yang mendorong seseorang untuk bertaubat dengan taubat yang Nasuha, bersih dari segala pamrih. sebab menyesal karena mengAgungkan nama Allah Ta'ala termasuk sifat dan keadaan orang yang bertaubat kepada Allah Ta'ala. kalau kita ingat akan tiga macam pendahuluan taubat (ingat keburukan dosa, ingat pedihnya siksaan Allah Ta'ala, dan ingat betapa lemahnya diri kita menghaapi siksaan-Nya), kita pasti akan menyesal melakukan sebuah dosa.

Penyesalan semacam itu akan tetap bersemayam di hati seseorang pada waktu-waktu yang akan datang, sehingga akhirnya penyesalan tersebut menggerakkan diri seseorang untuk mau merendah diri dihadapan Allah Ta'ala.

Karena penyesalan termasuk salah satu sebab seseorang mau bertaubat dan termasuk sifat orang yang mau bertaubat, maka dari itulah penyesalan juga disebut oleh Rasulullah SAW sama dengan taubat, hingga beliau pun bersabda seperti yang telah tersebut diatas bahwa "penyesalan adalah taubat".
Jika kita pahami keterangan ini, kita bakal memperoleh taufik dari Allah Ta'ala, Insya Allah.

Dan semoga secuil catatan ini bisa membawa manfaat yang besar bagi para pembaca sekalian, amin. terima kasih.

Wednesday, February 23, 2011

Taubat An-nasuha


Taubat dari makshiyat dan mencari keridlaan musuh (orang yang pernah didzalimi) merupakan kefardluan yang harus dilaksanakan, sedangkan kebanyakan ibadah yang kita tuju adalah ibadah sunnah.

Patutkah kita meninggalkan perkara halal dan perkara yang diperbolehkan (Zuhud) sementara kita terus-menerus mengerjakan keharaman? tentu tidak!!! Pantaskah kita menyampaikan pengaduan kepada Allah Ta'ala, memohon dan memuji-Nya, sedangkan Allah Ta'ala murka kepada kita lantaran dosa-dosa kita? tentu tidak!!!

Ini adalah gambaran keadaan lahiriyah orang yang bermakshiyat secara terus-menerus. Semoga Allah Ta'ala memberikan pertolongan kepada kita semua dalam melakukan ta'at.
Andaikata kita bertanya : apakah arti taubat yang nasuha itu? Apakah batasan taubat yang nasuha itu? Dan apa pula yang seharusnya dilakukan oleh seseorang agar bisa keluar dari semua dosa?
Begini wahai saudara saudariku...
Taubat merupakan suatu laku diantara laku-laku hati. taubat dilakukan sesudah dihasilkannya "Pembersihan hati dari dosa" (sesuai dengan perkataan para Ulama -semoga Allah Ta'ala meridlai mereka-)

Seorang guru besar -Abu Bakar Al-Warraq- berkata tentang batasan taubat, "Yang dinamakan taubat adalah meninggalkan pemilihan dosa, dimana dosa yang telah dan sudah pernah diperbuat, demi mengAgungkan Allah Ta'ala dan takut akan kemurkaan-Nya".

Jadi, kalau direnungkan perkataan guru besar tersebut, ternyata terdapat empat syarat bagi keabsahan taubat :
1. Meninggalkan pemilihan dosa.
Yaitu, seseorang harus menempatkan hatinya dan membersihkan niatnya untuk tidak akan kembali lagi kepada dosa tersebut. adapun jika seseorang meninggalkan laku dosa (makshiyat), tetapi di hatinya masih ada bayangan hendak kembali berbuat dosa, atau tidak mempunyai keinginan hendak kembali tapi hatinya ragu-ragu, maka orang semacam ini kadang-kadang masih akan kembali melakukan dosa. ia disebut orang yang menahan diri dari dosa, bukan orang yang bertaubat dari dosa.

2. Bertaubat dari dosa yang pernah diperbuat.
Karena, jika belum pernah melakukan perbuatan dosa, berarti ia adalah orang yang takut kepada Allah Ta'ala, bukan orang yang bertaubat.
Coba kita renungkan, kalau ada orang yang berkata bahwa Nabi Muhammad SAW adalah orang yang bertaubat dari kekafiran, tentu omongan seperti itu tidaklah benar, sebab beliau sama sekali tidak pernah kafir. lain halnya umpama disebutkan bahwa Syaidina Umar adalah orang yang bertaubat kekafiran, maka perkataan ini adalah benar karena beliau memang pernah kafir.

3. Dosa yang pernah diperbuat sama dengan dosa yang ditinggalkan pemilihannya, dalam hal kedudukan dan tingkatannya, bukan dalam hal bentuknya.
Coba kita pikirkan, orang yang telah tua renta lagi rusak badannya, yang semasa mudanya pernah melakukan zina atau merampok, apabila hendak bertaubat tentu bisa, karena ppintu taubat belum lagi tertutup. namun, ia tidak meninggalkan pilihan berzina atau merampok, sebab setelah menua dan rusak badannya tentu ia tidak mungkin kuat berbuat zina atau merampok. ia tidak dapat meninggalkan pilihan berzina atau merampok, maka tidak sah jika ia disebut sebagai orang yang meninggalkan dan menahan diri dari berzina atau merampok, sementara ia memang lemah dan tidak mampu melakukannya. kendati begitu, ia masih dapat melakukan dosa yang sama tingkatannya dengan zina atau merampok, seperti berdusta, menuduh zina orang lain, bergunjing dan menghasut. sebab semua itu adalah tindakan makshiyat, walaupun dosa itu bertingkat-tingkat dalam setiap tindak makshiyat sesuai dengan kadarnya masing-masing. hanya saja makshiyat-makshiyat yang disebutkan itu berada dalam kedudukan yang sama, yaitu dibawah tingkatan bid'ah, sedangkan bid'ah itu sendiri berada dibawah tingkatan kufur. karena itu, orang yang sudah tua renta dan rusak badannya tersebut sah taubatnya dari zina atau merampok serta semua perbuatan dosa yang pernah ia kerjakan, dimana ia tidak mampu lagi berbuat seperti itu -dalam bentuknya- ketika ia telah rapuh.

4. Meniggalkan pemilihan dosa itu hanyalah demi mengAgungkan Allah Ta'ala serta takut akan kemurkaan dan kepedihan siksa-Nya.
Jadi, bukan lantaran mencintai kepentingan duniawi atau karena takut kepada manusia, atau untuk mencari pujian sesama dan supaya terkenal, bukan pula untuk mencari kedudukan, atau karena lemah dan miskin di tengah-tengah masyarakat, atau pamrih-pamrih lainnya.

Inilah syarat-syarat dan rukun-rukun taubat. apabila keempat syarat ini ada dan sempurna, maka itulah taubat yang sejati dan benar (nasuha).
Adapun hal-hal yang mesti dikerjakan sebelum taubat, ada tiga :
- Ingat keburukan dosa.
- Ingat sakitnya siksaan Allah Ta'ala bagi orang yang berdosa, yang tentu tidak tertahankan oleh kita.
- Ingat akan kelemahan diri kita dan sedikitnya daya upaya kita dalam menghadapi siksa Allah Ta'ala.

Jika seseorang tidak tahan terhadap panasnya sengatan matahari, tidak tahan akan tamparan polisi atau gigitan semut, bagaimana ia bisa tahan akan sengatan panasnya neraka jahannam dan pukulan malaikat zabaniyah atau patukan ular sebesar leher onta, atau sengatan kala jengking sebesar khimar yang terbuat dari api didalam neraka, tempat siksa dan kerusakan? Tentu tidak!!! Tidak akan tahan!!!

Semoga kita semua dilindungi oleh Allah Ta'ala dari kemurkaan-Nya dan siksaan-Nya, Amin. dan semoga ringkasan catatan ini bisa bermanfaat bagi kita untuk kembali ke jalan menuju cinta ilahi.

Saturday, February 12, 2011

ILMU DAN IBADAH


Perlu kita ketahui, bahwa ilmu dan ibadah itu merupakan dua mutiara yang menyebabkan adanya apa yang kita lihat dan kita dengar. bahkan, lantaran ilmu dan ibadah lah, kitab suci diturunkan dan para utusan itu diutus. karena ilmu dan ibadah pula langit dan bumi seisinya ini diciptakan oleh Allah Ta'ala.
Allah Ta'ala berfirman :
"Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepadaKu"

Ayat ini cukup menjadi dalil atas kemuliaan ibadah dan kewajiban memusatkan pikiran kita untuk beribadah.
Betapa hebat dua perkara itu (ilmu dan ibadah). keduanya adalah tujuan penciptaan dunia dan akherat. karena itu, hamba seperti kita ini seyogyanya hanya disibukkan dengan ilmu dan ibadah, serta hanya memikirkan ilmu dan ibadah.

Semuanya selain ilmu dan ibadah, adalah perkara yang pasti hilang, rusak, tidak ada kebaikannya, kosong dan tidak ada faedahnya (faedah yang kekal).
Apabila kita telah mengerti hal tersebut, maka perlu kita tahu bahwa ilmu itu lebih mulia dan lebih utama daripada ibadah.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya keutamaan orang berilmu dibandingkan dengan ahli ibadah itu bagaikan keutamaan diriku dibandingkan dengan lelaki paling hina dari umatku".
Beliau juga bersabda:
"Memandang wajah orang alim sekali lebih aku sukai daripada beribadah setahun (puasa dan shalat malam selama setahun)".
Rasulullah SAW pernah pula bertanya pada para sahabat beliau: "Tidak inginkah kalian aku tunjukkan ahli surga yang paling mulia?", para sahabat menjawab: "Tentu saja kami ingin, ya Rasul Allah". Rasulullah SAW bersabda: "Mereka adalah Ulama (yang mengamalkan ilmu mereka) dari umatku".

Jelaslah bag kita bahwa kedudukan ilmu itu lebih mulia daripada ibadah. kendati demikian, (sebagai seorang hamba) selain berilmu, haruslah beribadah. jika ia tidak beribadah, maka ilmunya sama dengan debu yang berterbangan/bertaburan. sebab, kedudukan ilmu bagaikan sebuah pohon, sedangkan ibadah adalah bagaikan buah dari pohon tersebut. kemuliaan tentu menjadi milik pohon itu, karena pohon merupakan asal. tetapi pohon itu tidak gunanya kalau tanpa buah. bila demikian, teranglah bahwa hamba tidak bisa lepas dari ilmu dan ibadah.

Imam Al-Hasan Al-Bashriy berkata: "Tuntunlah ilmu itu tanpa merugikan ibadah dan lakukanlah ibadah tanpa merugikan ilmu".
Manakala sudah ditetapkan bahwa hamba harus tidak boleh meninggalkan ilmu dan ibadah, maka harus diketahui pula bahwa ilmu lebih utama untuk didahulukan. karena ilmu merupakan asal dan menjadi petunjuk yang benar bagi suatu ibadah.
Oleh sebab itulah Rasulullah SAW bersabda:
"Ilmu itu berada didepan amal, sedangkan amal harus mengikuti ilmu".

Wahai saudaraku yang saya cintai, Mari kita menuntun ilmu untuk menyempurnakan ibadah kita, dan janganlah kita menuntun ilmu lantaran untuk memenuhi nafsu belaka. terima kasih atas kunjungannya. semoga ini bisa menjadi manfaat bagi ibadah kita dan semoga Allah Ta'ala menerima segala amal perbuatan kita, amin.

Friday, February 4, 2011

Inikah zaman yang dimaksud oleh Rasulullah SAW.?


"Aku mengharapkan orang-orang ini melakukan lima perkara namun aku tidak bisa menemukannya" (Hakim Al-Asham). Aku mengharapkan meraka berlaku tha'at kepada Allah SWT dan zuhud dunia, tetapi mereka tidak mau melakukannya. aku berkata: "jika kalian tidak mau tha'at dan zuhud, maka bantulah aku dalam masalah tersebut". orang-orang tidak mau membantu, maka aku katakan "bila kalian tidak mau, maka ridlalah kalian kepadaku, jangan kalian membenciku manakalah aku melakukan tha'at dan zuhud". mereka tidak mau, maka aku berkata : "kalau begitu, janganlah kalian mencegahku bila aku hendak tha'at dan zuhud". mereka tetap saja mencegahku, maka aku berkata : "baiklah, kalian jangan mengajakku untuk mengerjakan perkara yang tidak membuat ridla Allah SWT yang Maha Agung dan janganlah kalian memusuhiku, apabila aku tidak mengikuti kalian". mereka pun juga tidak mau. lalu aku meninggalkan mereka dan sibuk mengurusi diriku sendiri.

Rasulullah SAW pernah bersabda "Zaman fitnah ialah zaman pertikaian".
Ditanyakan oleh seorang sahabat, "apakah zaman pertikaian itu.?", Rasulullah SAW menjawab, "Yaitu zaman ketika seseorang tidak aman terhadap teman duduknya".

Ibnu Mas'ud menuturkan dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Al-Harits bin 'Umairah, bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda kepada beliau: "Jika engkau dikaruniai umur panjang, tentu akan datang padamu suatu masa, yang pada masa itu banyak juru khutbah sedikit Ulama'nya, banyak orang meminta sedikit yang mau memberi, kesenangan nafsu di masa itu merupakan penuntun dalam menuntut ilmu".

Al-Harits bertanya : "Kapankah kejadian yang demikian itu, ya Rasulullah.?", Rasulullah SAW bersabda : "Nanti apabila jama'ah shalat dimatikan (jarang orang yang mau shalat berjama'ah), uang sogok diterima, agama dijual dengan harga murah dari harta dunia. nanti kalau sudah demikian, maka carilah keselamatan, carilah keselamatan! kasihan kau! carilah keselamatan (yakni keselamatan agama)".

Semua yang tersebut dalam hadits-hadits diatas, pasti sudah kita lihat dengan mata kepala kita pada zaman kita ini dan orang-orang yang berada dizaman kita (sekarang ini). karena itu, mari kita waspada. mari berhati-hati terhadap hati kita sendiri.
Orang-orang kuno yang shalih-shalih (semoga Allah SWT meridlai mereka) telah sepakat untuk memperingatkan para muslimin, terhadap zaman fitnah dan ahlinya.

Orang-orang kuno itu memilih untuk mengucilkan diri dari pergaulan dan menyuruh 'uslah. mereka juga saling berwashiyat dalam urusan 'uslah ini. tentu kita tidak akan ragu lagi bahwa orang-orang kuno yang shalih-shalih itu lebih awas dan lebih mempunyai kehendak baik terhadap kita, daripada yang lainnya. dan perlu kita ketahui bahwa pada zaman sesudah zaman mereka tidak bisa dianggap lebih baik ketimbang zaman yang telah ada. sebaliknya, pasti lebih buruk dan lebih pahit dibandingkan dengan zaman yang telah lewat itu.

Thursday, January 27, 2011

Sudahkah kita melihat.?


Bila kita bertanya bagaimana dunia yang sedemikian indah, enak, dan selalu dicari orang ini harus dianggap seperti api atau bangkai yang menjijikkan dan selalu berubah? padahal diri dan tabiat kita seperti ini. mungkin perlu kita tahu bahawa orang yang diberi Taufik oleh Allah SWT dan mengerti cacatnya dunia, tentu beranggapan dunia ini benar-benar seperti bangkai yang penuh racun.

Orang-orang (termasuk saya sendiri) yang heran atas keterangan ini, tidak lain adalah orang yang masih mencintai dunia dan masih kabur penglihatan hatinya.

Berikut ini adalah contoh perumpamaan tentang kedudukan dunia bagaikan bangkai yang penuh racun;
Ada seseorang yang membuat manisan (misalnya jenang, dodol, dll) dengan segala adonan-adonannya seperti gula, dan lain sebagainya. kemudian ia membubuhkan racun yang mematikan pada adonan itu. tak jauh dari situ ada dua orang yang satu melihat kejadian itu, dan yang satunya tidak melihat. lalu jenang yang sudah dihias itu disuguhkan pada mereka berdua (yang melihat perbuatannya dan yang tidak melihat).
Orang yang melihat tercampurnya racun pada jenang itu, tentu merasa benci dan dihatinya sama sekali tidak ada keinginan memakan jenang itu, baginya jenang itu bagaikan bangkai (bahkan lebih), karena ia tahu itu akan membinasakan dirinya bila ia memakan jenang yang tercampur racun itu. ia sama sekali tidak terbujuk oleh bentuk lahiriyah dan indahnya hiasan jenang itu.
Adapun orang yang tidak mengetahui adanya racun dalam jenang tersebut, ia pun akan mudah terbujuk oleh bentuk jenang yang telah dihias begitu indahnya. ia ingin sekali (bahkan tidak sabar) hendak melahapnya. ia pun juga pasti heran kepada temannya yang sama sekali tak ingin sedikitpun mencicipi jenang itu bahkan membenci jenang yang begitu menggiurkan, malahan kadang-kadang menganggap bodoh temannya itu.

Andaikata orang yang menyuguhkan jenang itu tidak menaruh racun, melainkan hanya meludah atau membuang ingus pada adonan jenang itu, lalu diberi wewangian dan dihias, maka orang yang melihat semua itu tentu merasa jijik terhadap jenang tersebut dan sangat enggan memakannya, kecuali dalam keadaan sangat terpaksa dan amat Hajat (perlu/butuh). sedangkan orang yang tidak melihat jenang yang sudah tercampur ludah atau ingus, ia tidak mengerti dan akan langsung memakannya walaupun telah tercampur oleh ingus atau ludah.

Inilah perumpamaan barang haramnya dunia bagi orang yang waspada serta istiqamah melakukan tha'at kepada Allah SWT, dibandingkan dengan orang bodoh yang mencintai dunia. Dan seperti contoh dunia bagi dua golongan (yang mengerti dan yang tidak mengerti). keadaan dua orang ini jauh berbeda, padahal watak dan perawakannya sama. penyebabnya tak lain adalah nafsu. yang satu mampu menguasai nafsunya, dan satunya lagi telah dikuasai oleh nafsu itu sendiri dan tak mau menerima nasehat orang lain.

Seandainya orang yang cinta dunia itu melihat apa yang telah dilihat oleh orang yang zuhud, niscaya ia akan ikut membenci dunia. esbaliknya, jika orang yang zuhud itu bodoh dan tidak melihat apa yang juga tidak dilihat oleh orang yang cinta pada dunia, pasti ia pun juga akan ikut mencintai dunia.

Dengan contoh diatas, jelaslah bagi kita bahwa perbedaan dua orang tersebut terletak pada adanya kewaspadaan, bukan karena watak. orang yang waspada terhadap sesuatu pasti timbul banyak pertanyaan, sedangkan ilmu itu sendiri timbul dari sebuah pertanyaan. dan menjalani hidup tanpa ilmu, bukan hanya akan berhadapan dengan bangkai, tapi malah kita yang akan seperti bangkai.

Mohon maaf jika ada pernyataan-pernyataan yang mungkin sedikit kasar atau mungkin malah terlalu kasar, sekali lagi mohon maaf. tapi ini adalah sesuatu yang nyata bagi orang-orang yang sadar dan mau berfikir.

Saturday, November 20, 2010

NAFSU


Didalam tasawuf islam hanya dikenal dua nafsu pokok, yaitu nafsu syahwat dan nafsu ghalab. yang dimaksud dengan nafsu syahwat adalah keinginan-keinginan yang menyertai hampir disetiap pikiran kita.
Syahwat itu sendiri dibagi atas dua aspek, yaitu Supi'ah (nafsu birahi), dan Mutmainnah (keinginan untuk suci). adapaun ghalab adalah keangkaraan yang terdiri dari nafsu amarah dam nafsu lawwamah.

MUTMAINNAH
Ada seorang anak yang tak henti-hentinya memecahkan batu-batuan, ketika ditanya orang tuanya apa yang sedang ia kerjakan, sang anak menjawab bahwa ia sedang mencari Tuhan.
orang tuanya pun bingung mendengar jawaban anaknya itu, mereka pun bertanya Tuhan dengan batu-batuan itu.? makan anak itupun menjawab bahwa disekolahnya ia diajari berhitung:
1 : 2 = 1/2
1 : 1 = 1
1 : 1/10 = 10
1 : 1/1000 = 1000
Lantas anak itu berkata : "Makin kecil si pembagi, makin besar hasilnya. pembagi terkecil adalah nol, apabila nol dijadikan pembagi maka hasilnya selalu tak terhingga"

Batu. pohon, gelas dan apapun itu namanya kalau dipecah-pecah akan menjadi molekul-molekul, apabila dipecah-pecah lagi akan menjadi atom-atom, dan kalau dipecah lagi...akan menjadi ether. sedangkan antara ether dari sebuah batu dengan ether dari benda yang lain sudah tak dapat di bedakan lagi. semuanya serba sama, dan itulah ESA.

Titik yang terkecil adalah Dzat yang paling kecil dari semua yang kecil, dan yang terbesar adalah Dzat yang paling besar dari semua yang besar, serta ESA. itulah Tuhan.


Sang ayahpun mulai dapat memahami mengapa guru spiritualnya berkata "Aku adalah Tuhan", meskipun hati kecil ayah itu protes "apa pantas setetes air menyebut dirinya lautan.?!!!!"

Mutmainnah adalah keinginan untuk berbuat kebaikan, keinginan untuk mendekatkan diri pada Tuhan. mengenal Tuhan melalui diri, mengenal lebih dekat dan semakin dekat. hingga semua yang ada dalam diri kita lebur dalam cahaya-Nya. didepan matahari, apa yang bisa dilakukan oleh sebongkah es.? kecuali ia akan melebur bersama Sinar matahari itu.

SUPI'AH
Nafsu ini merupakan bagian dari nafsu yang paling didambakan didunia. ia senantiasa membuat setiap orang terpesona dan menimbulkan hasrat yang tak pernah terpuaskan. semakin ia memperolehnya, semakin terus ia menginginkannya hingga orang akan mencari sepanjang hidupnya meskipun jarang memperolehnya secara utuh. nafsu ini dapat menimbulkan rasa keindahan yang begitu hebat hingga sekali bertemu akan sulit melupakannya. akan tetapi, nafsu ini juga dapat menimbulkan keadaan paling pahit dan menyakitkan hingga seseorang dapat berlaku sangat kejam pada orang lain atau mungkin pada dirinya sendiri.
Nafsu ini juga dapat menguasai pikiran manusia, hingga tak ada hal lain yang diungkapkan begitu sering melalui nyanyian, prosa, atau mungkin puisi. karena nafsu ini juga, orang dapat memperlihatkan sifat-sifatnya yang terbaik juga dapat memperlihatkan sifat-sifatnya yang terburuk dalam dirinya. singkat kata, ia adalah salah satu yang sering disalah pahami artinya oleh manusia (sekarang ini).
Siapakah dia...??? CINTA.
hati kecil kita sebenarnya merupakan petunjuk arah yang baik dalam kehidupan. kita percaya bahwa cinta itu mengandung makna yang luhur, tapi dalam kenyataannya kata "CINTA" itu sendiri sekarang telah banyak dikorupsi maknanya.

AMARAH
Kemarahan pada hakekatnya disebabkan oleh diri kita sendiri, sebagai akibat adanya keinginan yang sudah merupakan kebutuhan, keharusan dan tuntutan. kemarahan adalah bagian dari nafsu amarah. amarah adalah nafsu murka atau marah. amarah adalah nafsu yang mendorong kemauan kearah perbuatan. dan tidak hasrat atau rencana yang dapat dilaksanakan apabila manusia tidak mempunyai nafsu amarah ini. akan tetapi, apabila kehendaknya tidak mencapai apa yang dimaksud, seseorang yang ada dibawah pengaruh nafsu amarah ini tidak akan segan-segan mempergunakan kekerasan.

LAWWAMAH
Lawwamah adalah nafsu keserakahan. orang yang ada dibawah pengaruh nafsu ini biasanya tidak mengenal kebajikan, tapi mereka bengal dan malas. namun apabila nafsu ini dapat dikendalikan, daya-dayanya akan dapat dipergunakan untuk mempersatukan dan mensejahterakan dasar tujuan yang murni dari nafsu-nafsu yang lain. misalnya : dasar tujuan dari nafsu mutmainnah adalah berbuat baik dan beramal shaleh, dssar tujuan dari nafsu supiah adalah pendorong kemauan, dan dasar tujuan dari nafsu amarah adalah sebagai penggiat perbuatan. maka semua kebaikan, kemauan dan perbuatan kita itu dapat diperhebat apabila kita dapat mengekang nafsu lawwamah ini.

Saturday, October 9, 2010

Ringan bisa jadi berat, berat bisa jadi ringan


Wahai saudaraku, hati manusia cenderung memiliki sifat baik kepada orang yang berbuat baik padanya dan memiliki sifat benci pada orang yang berbuat buruk padanya. andai kita bisa berbuat baik pada siapa saja, entah itu pada orang yang baik dan terlebih lagi pada orang yang berbuat jahat pada kita, Insya Allah, kita akan menjadi manusia yang terkuat. Bismillahi Ar Rahman Ar Rahiim, semoga catatan pendek ini bisa membantu kita semua untuk lebih dekat lagi kepada Allah SWT, amin.

Diantara amal-amal yang masih sering terasa berat kita lakukan itu adalah:

1. Memberi maaf ketika sedang marah.
Perlu kita ketahui bahwa menahan amarah saja kita terkadang sudah kesulitan, apalagi memberikan maaf ketika kita sudah dalam keadaan marah. Satu hal yang seharusnya kita tanamkan dalam hati kita tentang amarah adalah bahwa Allah SWT Maha Mengampuni pada setiap hamba-Nya, lantas bagaimana bisa kita tidak memberikan maaf pada orang lain? Siapa lah kita.

2. Bermurah hati (mau membantu dan menolong orang lain) ketika dalam keadaan melarat (hidup dalam keadaan yang susah).
Semua yang ada pada diri kita, entah itu material maupun spiritual, semuanya Allah SWT lah yang memberikan (lebih tepatnya dititipkan pada kita). Andai kita berkata “harta ini milikku, dan juga atas usahaku sendiri”, sungguh itu adalah kata-kata yang sama sekali tak pantas kita katakan. Sekuat apapun kita berusaha mendapatkan sesuatu yang kita inginkan namun jika Allah SWT tak berkenan memberikan, apa yang kita inginkan itupun juga tak akan pernah tercapai.
Cobalah rasakan indanya saling berbagi. Allah SWT lah yang Maha Kaya, DIA akan menggantinya. Bahkan bisa jadi lebih banyak dari pada harta yang kita sedekahkan pada orang lain.

3. Mencegah diri dari dari perbuatan yang diharamkan (dosa) ketika sendirian.
Kebanyakan dari kita cenderung memiliki sifat malu pada orang lain tapi mengesampingkan sifat malunya pada Allah SWT yang Maha Melihat. padahal Dia Maha Mengetahui akan diri kita. bila kita tak bisa melihat Allah SWT, maka sesungguhnya Allah SWT tahu akan isi hati dan apa yang kita lakukan.

4. Berkata jujur pada orang yang ditakutinya atau orang yang mengharapkannya.
Ketika kita berbuat salah (berbuat dosa), masih banyak diantara kita (termasuk penulis sendiri) yang masih takut mengatakan kesalahan yang telah kita lakukan. mungkin diantara kita sering juga mendengar istilah berbohong demi kebaikan itu tidak apa-apa. namun jika kita menyalah gunakan istilah itu maka sudah tidak lagi menjadi suatu kebaikan, tapi perbuatan dosa.

5. Menjaga mulut (diam)
ketahuilah bahwa menjaga mulut itu lebih berat dari menjaga rahasia. kenapa bisa begitu.? cobalah...

Wednesday, May 12, 2010

"Kesederhanaan Uwais Al Qarni", (Seri : Kisah Para Sufi)

Bismillahi Ar Rahmaani Ar Rahiimi

JALUR KETURUNAN UWAIS AL QARNI
Uwais Al Qarni adalah seorang sufi yang lahir disebuah desa terpencil bernama Qaran di dekat Nejed, anak dari Amir, sehingga dia mempunyai nama lengkap Uwais bin Amir Al Qairani, karena beliau lahir dilahirkan di desa yang bernama Qaran, sehingga beliau lebih di kenal dengan sebutan Uwais Al Qarni. Dan para ahli sejarah tidak menceritakan tanggal dan tahun berapa beliau dilahirkan.

Dikalangan para sufi beliau dikenal sebagai seorang yang ta'at dan berbakti kepada kedua orang tua, dan kehiduapannya yang amat sederhana dan zuhud yang sejati, beliau juga dikenal sebagai orang sufi yang mempunyai ilmu kesucian diri yang amat luar biasa yang dilimpahkan Allah SWT kepadanya.

KEHIDUPAN UWAIS AL QARNI
Sejak kecil Uwais hidup dalam kehidupan keluarga yang ta'at beribadah, dan sejak kecil beliau tidak pernah mengenyam pendidikan dilembaga-lembaga pendidikan maupun pesantren, sejak kecil beliau hanya mengenyam dan memperoleh pendidikan dari orang tuanya sendiri.

Sebagai anak yang ta'at dan patuh kepada orang tua, Uwais giat bekerja sebagai penggembala untuk membantu orang tuanya. Karena sejak kecil beliau selalu bergaul dengan para penggembala dan waktu luangnya hanya dihabiskan untuk menggembala hewan-hewan milik tuannya, sehingga dirinya tidak banyak dikenal orang lain, kecuali para penggembala dan orang-orang yang ada disekitarnya.

KEISTIMEWAAN UWAIS AL QARNI
► Walaupun beliau tidak pernah bertemu dengan Rasulullah SAW, tetapi rohaninya selalu berhubungan.

► Pada hari kiamat nanti, dimana semua manusia akan dibangkitkan kembali, Uwais Al Qarni akan memberikan syafa'at kepada sejumlah manusia sebanyak domba yang dimiliki Rabi'ah dan Mundhar, demikian yang disabdakan Rasulullah SAW kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab.

► Beliau adalah seorang sufi yang amat sederhana, takut dan ta'at pada Allah SWT, ta'at pada Rasulullah SAW dan kedua orang tuanya. Pada waktu siang hari beliau selalu giat bekerja, tetapi walaupun beliau pada siang hari giat bekerja, mulutnya selalu membaca istighfar dan membaca ayat-ayat Al Quran.

► Setiap hari beiau selalu dalam keadaan lapar dan hanya memiliki pakaian yang melekat pada tubuhnya. Ini menunjukkan bahwa beliau hidup sangat sederhana sekali. Daan dalam kesederhanaan itu beliau selalu berdo'a kepada Allah SWT, "Ya Allah, janganlah ENGKAU siksa aku karena ada yang mati kelaparan dan jangan pula ENGKAU siksa aku karena ada yang kedinginan".

► Beliau selalu bersam Tuhan dan orang-orang yang lemah. Beliau dapat merasakan penderitaan yang dialami oleh orang-orang yang lemah dan membuat dirinya seperti mereka sebagaimana yang pernah diamalkan Rasulullah SAW.

Banyaknya keistimewaan yang dimiliki oleh seorang Uwais Al Qarni, hingga membuat Rasulullah SAW memerintahkan kepada Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib untuk menemui Uwais sambil menyampaikan salam dari Rasulullah SAW.

Ketika Umar dan Ali berhasil menemui Uwais, terjadilah percakapan sebagaimana yang telah dituturkan oleh Abu Na'im Al Asfahani,
Umar ► "apa yang anda kerjakan disini.?"
Uwais ► "Disini saya bekerja sebagai penggembala"
Umar ► "Siapa sebenarnya anda ini.?"
Uwais ► "Saya adalah hamba Allah SWT
Umar ► "Semuanya sudah tahu, kita semua adalah hamba Allah SWT, izinkanlah kami mengetahui dan mengenal anda lebih dekat"
Uwais ► "Silahkan"

Umar dan Ali ► "Setelah kami perhatikan, kami mempunyai kesimpulan bahwa anda inilah orang yang pernah diceritakan Rasulullah SAW kepada kami, oleh karena itu berilah kami pelajaran dan do'akan kami agar memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat".
Uwais ► "Saya tidak mendo'akan seseorang secara khusus. Setiap hari kami elalu mendo'akan kepada seluruh umat Islam. Siapa sebenarnya anda berdua ini.?".
Ali ► "Beliau adalah Umar bin Khattab Amirul Mukminin dan saya adalah Ali bin Abi Thalib, kami berdua diutus Rasulullah SAW menemui anda dan menyampaikan salam dari Rasulullah SAW.
Uwais ► "Assalaamu 'alaikum wahai Amirul Mukminin dan wahai Ali bin Abi Thalib, semoga Allah SWT selalu memberi kebaikan kepada tuan berdua atas jasa-jasa tuan kepada umat Islam".
Umar ► "Berilah kami pelajaran yang bermanfaat wahai hamba Allah".
Uwais ► "Carilah Rahmat Allah SWT dengan ta'at dan mengikuti dengan penuh pengharapan dan takutlah tuan kepada Allah SWT."
Umar ► "Terima kasih atas pelajaran yang anda berikan pada kami yang sangat berharga ini. Dan kami telah menyediakan kepada anda seperangkat pakaian dan uang untuk tuan. Kami mengharapkan agar anda menerimanya."
Uwais ► "Terima kasih wahai Amirul Mukminin, kami tidak menolak dan juga tidak membutuhkan apa yang tuan awa. Upah yang saya terima 4 dirham itu sangat berlebihan, sehingga sisanya saya berikan kepada ibuku. Sehari-hari saya hanya memakan buah korma dan minum air putih dan sayaini belum pernah memakan makanan yang dimasak. Kurasakan hidupku ini seolah-olah tidak sampai pada petang hari dan kalau tiba petang hari saya tidak merasa sampai pada pagi hari. Hati saya selalu mengingat Allah SWT dan sangat kecewa kalau tidak sampai mengingat-Nya.

Ada beberapa pokok pelajaran dari seorang Uwais al Qarni agar manusia memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
"Seseorang akn memperoleh ketenangan dan ketenteraman jika hatinya selalu berdzikir kepada allah SWT dan tidak pernah terputus."
"Dan bahwa Hati itu hanyalah untuk Allah SWT, bukan untuk yang lainnya. Oleh karena itu kuasailah nafsu dan tundukkanlah secara penuh."

WAFATNYA UWAIS AL QARNI
Walaupun Uwais setiap hari selalu menyendiri dan tidak pernah berkumpul dengan orang lain, namun pada saat-saat tertentu seperti ketika ada panggilan jihad untuk membela dan mempertahankan agama Allah SWT, maka beliau ikut terpanggil bersama orang Islam lainnya untuk berperang membela kebenaran.

Ketika terjadi perang shiffin antara golongan Ali melawan golongan Muawiyah, Uwais berada pada golongannya Ali bin Abi Thalib. Ketika orang-orang Islam membebaskan daerah romawi, beliau ikut barisan tentara Islam, dan ketika kembali ditengah perjalanan beliau terserang penyakit dan meninggal pada tahun 39 H.

Monday, May 10, 2010

"Cinta Abadi Rabi'ah Al 'Adawiyah" (Seri : Kisah Para Sufi)

Bismillahi Ar Rahmaani Ar Rahiiimi

JALUR KETURUNAN RABI'AH
Rabi'ah adalah seorang sufi yang mempunyai nama lengkap Rabi'ah binti Ismail Adawiyah, beliau dilahirkan di kota Basrah pada tahun 95 H. Oleh ayahnya beliau diberi nama Rabi'ah karena beliau adalah putri ke empat dari 3 putri lainnya.

KEHIDUPAN RABI'AH
Rabi'ah adalah seorang sufi yang hidup dalam lingkungan keluarga yang miskin, bahkan ketika beliau lahir tidak ada satu lampu pun yang dapat digunakan untuk menerangi ketika beliau lahir.

Karena kehidupan yang miskin itulah, sehingga memaksa Rabi'ah untuk hidup sebagai hamba sahaya dengan berbagai macam penderitaan yang dialami silih berganti. Disamping sebagai hamba sahaya, beliau mempunyai kepandaian memainkan alat musik, kepandaian inilah yang di manfaatkan majikannya untuk memberi hiburan kepada majikannya yang rakus dengan harta dunia.

Dalam kehidupan sebagai hamba sahaya yang selalu dikekang dan diperas oleh majikannya, membuat Rabi'ah selalu berdo'a kepada Allah SWT untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT. Dengan penderitaan yang dialami ini, Rabi'ah tidak menyia-nyiakan waktu luangnya untuk berdo'a baik itu pagi, siang dan malam hari.

Disamping beliau selalu memanjatkan do'a, setiap hari amalan ibadah yang dilakukan Rabi'ah semakin meningkat seperti dengan memperbanyak taubat, dzikir, puasa serta menjalankan shalat siang dan malam. Bahkan ketika beliau melaksanakan shalat sampai meneteskan air mata karena merasa rindu kepada Allah SWT.

KEISTIMEWAAN RABI'AH
Sebagai seorang sufi ada beberapa keistimewaan yang dimiliki Rabi'ah, diantaranya adalah:
Pada saat beliau memanjatkan do'a kepada Allah SWT, beliau sering mendapat bisikan "Jangan engkau bersedih, karena kelak dikemudian hari orang-orang yang dekat denganKu (Allah SWT) akan cemburu melihat kedudukanmu"

Rabi'ah dapat meluluhkan hati majikannya yang keras dan kejam setelah mendengar do'a yang dipanjatkan oleh Rabi'ah pada suatu malam. Setelah mendengar do'a Rabi'ah itu, pagi harinya Rabi'ah dibebaskan oleh majikannya dan beliau kembali ke desa asal tempat kelahirannya.

Sebagai seorang sufi, Rabi'ah sangat cinta kepada Allah SWT hingga orang-orang datang ke rumahnya untuk meminta saran, pelajaran atau sekedar berkah dari padanya, bahkan hanya untuk sekedar bersilaturrahmi. Banyak pula para tokoh-tokoh sufi yang bersilaturrahmi kepada Rabi'ah diantaranya Malik Bin Dinar, Sofyan Tsauri dan tokoh-tokoh yang lain.

Pada suatu malam Rabi'ah pernah di datangi pencuri, ketika pencuri itu tiba di rumah Rabi'ah, di temuinya Rabi'ah sedang berdo'a, dan pencuri itu (entah kenapa) rela menunggu Rabi'ah sampai selesai berdo'a. Setelah selesai berdo'a, Rabi'ah menemui pencuri itu dan mengajak untuk memanjatkan do'a bersama-sama dan pencuri itu menerima ajakan Rabi'ah dan setelah selesai memanjatkan do'a, pencuri itu pulang dan pada pagi harinya pencuri itu ikut sebagai jama'ah pengajian Rabi'ah.

POKOK PIKIRAN RABI'AH
Ada beberapa pokok pikiran pada diri Rabi'ah, diantaranya adalah:
Hidup atas dasar Zuhud, dan mengisinya dengan selalu beribadah kepada Allah SWT yang akan menjadi tumpuan cintanya kepada Allah SWT, sebagaimana yang beliau katakan,
"Aku tinggalkan cintanya Laila dan Su'da mengasing diri
Dan kembali bersama rumahku yang pertama.
Dengan berbagai kerinduan mengimbauku,
Tempat-tempat kerinduan cinta abadi".


Cinta Rabi'ah adalah cinta abadi kepada Tuhan yang melebihi segala yang ada, cinta abadi yang tidak takut pada apapun walau pada neraka sekalipun. pernyataan beliau yang terkenal ialah,
"Kujadikan Engkau teman percakapan hatiku,
Tubuh kasarku biar bercakap dengan insani.
Jasadku biar biar bercengkrama dengan tulangku,
Isi hati hanyalah tetap pada-Mu jua..."


Ibadah yang ditegakkan siang dan malam, semata-mata karena cinta abadi itu. Sebagaimana pernyataannya,
"Sekiranya aku beribadah kepada Engkau Karena takut akan siksa neraka,
Biarkanlah neraka itu bersamaku.
Dan jika aku beribadah karena mengharap surga,
Maka jauhkanlah surga itu dariku.
Tetapi bila aku beribadah karena cinta semata,
Maka limpahkan lah keindahan-Mu selalu..."


Maqam tertinggi tentang ajaran tasawuf yang dikembangkan oleh para tokoh sufi adalah,
"Kucintai Engkau lantaran aku memang cinta,
Dan lantaran Engkau yang memang patut untuk dicintai.
Cintaku lah yang membuat rindu pada-Mu,
Demi cinta suci ini, bukalah...
Tabir penutup tatapan sembahku.
janganlah Kau puji aku lantaran ini,
Bagi-Mu lah segala puja dan puji..."


WAFATNYA RABI'AH
Rabi'ah Al 'Adawiyah wafat pada tahun 185 H, di kota kelahirannya yaitu Basrah.

Tuesday, March 23, 2010

HIKMAH SERAUT WAJAH

Bismillahi Ar Rahmaani Ar Rahiimi

Jika kalian adalah ‘seorang direktur’ yang punya gedung tinggi menjulang ke langit, jangan remehkan WAJAH “para kuli bangunan”, tanpa PERANTARA mereka…gedung kalian tak akan pernah berdiri.

Jika kalian adalah ‘seorang model’ berambut aduhai..jangan remehkan WAJAH “para tukang potong rambut”, tanpa PERANTARA mereka…kalian tak kan punya rambut sebagus itu (sebelum ada salon, tukang potong rambut lesehan adalah perintis model rambut).

Jika kalian adalah ‘seorang majikan’ berlantai kaca nan berkilau..jangan remehkan WAJAH “para pembantu”, tanpa PERANTARA mereka..rumah kalian tak jauh beda dengan gudang.

Jika kalian adalah ‘seorang presiden, gubernur ataupun bupati’..jangan remehkan WAJAH “para pasukan kuning” (tukang bersih-bersih kota), tanpa PERANTARA mereka…kota kalian akan seperti kota yang mati tanpa penghuni…

(Siapapun) kalian yang hanya bertanda 1 petik di kanan kiri kalian, jangan remehkan WAJAH mereka yang bertanda 2 petik di kanan kiri mereka...

Kalian yang bertanda 1 petik di kanan kiri kalian, tak kan bisa mendapatkan satupun hasil petikan jerih payah kalian selama ini TANPA petikan-petikan keringat dari mereka yang bertanda 2 petik di kanan kiri mereka.

1 petik bisa bertambah menjadi 2 petik, pun begitu sebaliknya…SEMUA INI HANYALAH SEKEDAR GAMBARAN, karena sesungguhnya petikan-petikan hikmah itulah yang akan mengangkat derajat kalian dan mereka (yang mengetahuinya), semoga kita digolongkan dalam hamba2-Nya yang selalu bersyukur...amin

Inti dari gambaran itu…JANGAN LUPA DIRI saat gembira (sebagian syair lagu too phat), semua itu pemberian Allah SWT dan diberikan pada kalian lewat PERANTARA mereka yang bertanda 2 petik di kanan kiri mereka.

Catatan ini terinspirasi dari “para kuli bangunan” yang sedang melakukan pengembangan untuk membangun rumah sakit. Canda tawa mereka adalah pendingin untuk menghilangkan keringat mereka. Sedangkan kami yang ada didalam ruangan, cukup sekali pencet tombol AC..dinginlah ruangan kami. Padahal tanpa PERANTARA mereka, ruangan ini tak akan ada.

Friday, March 19, 2010

TINGKAT MANUSIA

Bismillahi Ar Rahmaani Ar Rahiimi
Semoga catatan ini bisa bermanfaat bagi para pembaca dan semoga Allah SWT selalu memberikan hidayah-Nya pada kita semua, amin.

Kecerdasan dan kesanggupan akal seseorang itu tidaklah sama. senantiasa ada orang awam, yaitu seorang yang biasa. dan ada pula orang khawas, yang berfikir lebih cerdas. Imam Ghazali menasehatkan, orang awam yang belum sanggup berfikir cerdas, teratur dan meluaskan ilmu pengetahuannya, tak perlu memasuki sesuatu secara begitu dalam. karena hal itu akan menimbulkan keraguan dalam hatinya sendiri. sedangkan ilmu yang canggung lebih banyak merusak daripada memperbaiki. bagi orang awam, cukuplah ia berpegang dengan Nash Quran dan sunnah. tak usah banyak tanya, terelebih ikut campur menta'wilkan ayat dan hadits yang dalam fahamnya. karena itu akan merusak pendirian orang itu sendiri. ta'wil orang awam adalah ibarat orang yang tak pandai berenang mencoba merenangi lautan.

Ada lagi sebagian orang, yang ilmunya baru setengah perjalanan, baru mendapatkan perkakas, tetapi bukan alat dan hasilnya sendiri, melainkan hanya diambil dari orang lain. belum ada kesanggupan membandingkan sesuatu.

Ada lagi orang yang mencapai tingkat lebih tinggi. orang itu tidak lagi semata-mata berpegang pada kulit lahir dari Nash. tetapi meningkat pada sesuatu yang lebih tinggi dari itu, yaitu ilmu yang lebih banyak dirasakannya dari pada dikatakan (didapat / diterima dari orang lain). itulah anugerah istimewa dari Allah SWT. dia dapat menyaksikan yang Haqq dengan Nur Cahaya keyakinan.

Maka terbagilah derajat keimanan dan keyakinan manusia itu dalam tiga tingkat, antara lain :
1. Iman orang awam
Orang awam itu mempercayai kabar berita yang dibawa oleh orang yang dipercayainya.

2. Iman orang Alim
Dia mendapat kepercayaan dari jalan membanding, meneliti dan memeriksa dengansegenap kekuatan akal dan manthiknya (intelektualitas).

3. Iman orang 'Arifin
Dia beriman dan tumbuh keyakinan setelah menyaksikan sendiri akan kebenaran itu dengan tidak ada dinding lagi.

Pengibaratan dari ketiganya adalah sebagai berikut :
Ada seseorang didalam rumah...
Orang awam mendengar kabar itu dari orang yang tahu bahwa si fulan ada dalam rumah itu, lantas percayalah ia (orang awam itu).
Orang Alim menyaksikan tanda-tanda (misalkan baju yang ada didepan rumah, atau adanya suara dari dalam rumah itu), maka dapatlah ia menyimpulkan fikiran dan percaya bahwa si fulan memang ada didalam rumah.
Sedangkan orang 'Arifin telah masuk sendiri ke dalam rumah itu, dan bertemu dengan si fulan dalam rumah itu.

Orang 'Arifin yang telah mencapai martabat ini, itulah ke-Cintaan Tuhan yang bertemu dengan inti sari ilmu. orang-orang Alim (pada tingkat kedua) belumlah sampai pada tingkat ini. untuk mencapai tingkat ini, mulailah ia menaklukkan akal kepada jalan kecintaan. menghadap semata-mata kepada Allah SWT dengan membesarkan Himmah (cita-cita dan kemauan). menaklukkan diri, nafsu dan keinginan kedalam suatu latihan batin dan perjuangan (mujahadah). dengan kesetiaan yang sedemikian rupa, sedikit demi sedikit akan terbukalah hijab yang menutupi antara aku dengan ENGKAU, sehingga dapatlah menyaksikan sendiri dengan penglihatan hati, bukan dengan penglihatan mata.

Kesungguhuan, ketaatan dan kesetiaan menjaga segala syarat rukunnya, menghentikan segala larangan dan pantangannya, membuat jiwa sendiri suci bersih sehingga menimbulkan cahaya diri dengan Cahaya Hidayah petunjuk Tuhan. orang seperti inilah yang akan mencapai derajat Wali. derajat Wali-ul-Lah adalah dibawah derajat Nabi, Nabi mendapat "Wahyu dengan teratur" sedangkan Wali mendapatkan "Ilham". ada bebrapa macam cara datangnya, ada dengan perantara mimpi, ada juga dengan perantaraan tafakkur. dan sesungguhnya sumber dari semua itu ialah sama-sama dari Allah SWT.

Friday, March 12, 2010

Dari Filsafat Cinta, timbullah Tasawuf


Bismillahi Ar Rahmaani Ar Rahiimi

Benarkah cinta itu mengharapkan upah? Padahal cinta itu sendiri sudahlah upah bagi para pecinta.
Perasaan iman manusia itu bertingkat, maka bertingkat pula cara Tuhan memberikan tuntunan. Ada orang yang diberi ancaman dengan neraka, maka timbullah khauf. Ada orang yang diberi harapan dengan syurga, maka timbullah raja’a. Tetapi orang yang telah berpengalaman lebih tinggi, maka terpadulah raja’a dengan khaufnya kepada satu hal, yaitu CINTA.

Disinilah kita akan tahu sebuah pelajaran dari seorang Rabi’atul ‘Adawiyah (seorang Zahid perempuan yang telah menaikkan tingkat zuhud).

Cinta sejati tidak lagi mengenal berbagai hal. Kalau dalam hati kita masih ada rasa aku adalah aku, dan engkau adalah engkau, maka itu belumlah sampai pada inti cinta.
Kadang-kadang kita tak tahu apa yang harus kita bicarakan lagi, bahkan bisa jadi mulutpun “ngelantur”. Bahkan saking cintanya bisa jadi akan muncul kata-kata bahwa “Engkau adalah aku”. Kadang-kadang juga kemanapun kita menoleh, hanya Sang Kekasih itulah yang terlihat. Ke matahari terbit, ke bulan purnama kita melihat...hanya Sang Kekasih itulah yang tampak. Ke angin sepoi-sepoi sekalipun, Hangat hembusan Sang Kekasih itulah yang terasa. Bahkan juga jika rasa cinta itu telah memuncak, merasa ingin mati saja dalam cinta.

“Kalaupun engkau ingin hidup berbahagia, matilah dengan dan karena Sang Kekasih (dalam keadaan syahid)
Dan jika tidak begitu, rindu adalah ahlinya untuk menggantikan itu”
.


Pada suatu hari, timbul Tanya jawab diantara burung satu dengan burung yang lain tentang keindahan dan kemesraan bila berjumpa dengan Nur dan Narr, Cahaya dan Api.
Masing-masing bercerita tentang pengalaman mereka. Seekor burung yang lebih tua menyuruh anak-anaknya merasakan kemesraan cahaya itu. Ada salah satu diantara anak-anak burung itu, dirasakannya cahaya itu dan dirasakannya pula panas itu, lalu ia pulang. Seekor lagi mendekat ke cahaya itu, dan tersentuh pula panas itu, hamper saja sayapnya terbakar. Ia pun pulang membawa bukti sayapnya yang nyaris terbakar itu. Kemudian maju satu ekor lagi ke muka, terbang menuju cahaya dan terbang menuju api lantas menghilang. Burung tua itupun berkata : “Ia yang hilang kedalam cahaya dan kedalam api, maka dialah yang sampai”.

Cinta akan melarutkan jiwa kita dalam cahaya yang tiada dua hangatnya, tak satu pun di hati kita yang lebih tinggi dari pada Sang Kekasih. Keindahan dan kemesraan bersama-Nya akan mengalirkan anggur cinta yang tiada dua rasanya. Menari dengan senandung cinta yang tiada dua merdunya. Terbang dengan sayap cinta yang tiada dua kuat kepakan sayapnya.