Recent

Syeikh Abul Hasan Asy Syadzili : Tentang "Siksaan"

Siksaan itu terdiri dari empat macam : 1. Siksaan melalui adzab. 2. Siksaan melalui hijab. 3. Siksaan melalui pengekangan , dan 4. Siksaan ...

Gus Dur : Tentang tasawuf dan Wihdatul Wujud (Manunggaling kawula lan Gusti)

Di dalam sebuah buku, Alwi Shihab pernah memaparkan bahwa penyebaran Islam di Negeri ini dilakukan antara lain oleh kaum Ulama pesantren.

Dari Mujahadah ke Muraqabah, sampailah pada Musyahadah

Mujahadah : Berjihad menumpas hawa nafsu yang menghalangi jiwa untuk dekat kepada Allah Ta’ala. Muraqabah : Memperhatikan gerak-gerik hati,...

Kita sering merasa yakin, tahukah apa itu "Yakin"?

Dan diantara tanda-tanda Ulama’ Akhirat itu ialah sangat bersungguh-sungguh menguatkan keyakinan. Karena keyakinan itu adalah modal Agama....

Menjadi Manusia Yang Manusiawi

Maksud dari kalimat "Manusia yang manusiawi" adalah menjadi manusia yang baik dan benar, serta manusia yang benar dan baik.

Thursday, February 25, 2010

Tasawuf di Negeri Persia

Bismillahi Ar Rahmaani Ar Rahiimi.

Persia telah banyak memunculkan Ulama-ulama besar seperti Al Ghazali, filosof seperti Ibnu Sina, dan ahli bahasa Arab yang sangat berjasa dalam perkembangan bahasa itu seperti Sibawaihi. dan dalam perkembangan tasawuf, Persia juga telah banyak memunculkan ahli-ahli tasawuf yang salah satu diantara mereka adalah penyair terkenal yaitu Jalaludin Rumi.

ABU SA'ID
Beliau merupakan shufi besar, penyair dan perenugn yang jarang sekali tandingannya. beliau adalah orang yang terkenal dalam dunia tasawuf di negeri Persia. beliau sejaman dengan pujangga Al-Firdausi dan filosof Ibnu Sina dan pernah saling bertukar pikiran dengan beliau. tasawufnya yang terkenal yaitu "Rabayat". salah satu syairnya adalah sebagai berikut :
"Wahai Dzat yang kepada Engkaulah aku memohon,
Jiwaku ada dalam genggaman-Mu
Aku menghadap hanya kepada engkau semata.
Untuk kubanggakan dihadapan majlis-Mu,
Sebab semua akan datang pada-Mu dengan penuh pengharapan
Kepada Engkaulah aku menyerahkan nasibku".

AL-ANSHARI
Setalah it lahirlah di Huraat Syekh Abdullah Al-Anshari 396 - 481 Hijriyah (1066 - 1088 Miladiyah). banyak karangan beliau tentang tasawuf "thabaqat" (kisah kehidupan ahli-ahli tasawuf). keistimewaan beliau ialah melukiskan do'a-do'a yang dari segi kesusasteraan dapat dipandang sebagai Prosa tertinggi. diantaranya :
"Ilahi...
Di hadapanku penuhlah ranjau dan bahaya,
Jalan surutku telah gelap semata
Bimbinglah tanganku Ya Tuhan!
Tak ada harapanku, hanyalah Kurnia dan Taufik-Mu jua.
Ilahi...
Selendang-Mu menyelubungi kepala kami
Rahasia-Mu menyelimuti hati kami
Syi'ar-mu memenuhi lidah kami
Kalau aku memohon, yang kumohon hanyalah Ridha-Mu
Kalau aku berkata, yang kuulang-ulang hanyalah pujian atas-Mu".


SINAI
Setelah itu lahirlah Majduddin Sinai Al-Ghaznawy (meninggal pada tahun 545 H (1151 M). tasawufnya banyak ditulis berupa susunan syair "Masnawi" di dalam bukunya yang bernama Hadiqztul Hadaiq" (Taman Kebenaran). sebagian dari perkataan beliau tentang hakikat tasawuf ialah :
"Aku cabut kembali segala perkataan yang telah dan pernah kukatakan. sebab sudahlah nyata olehku bahwa segala perkataan tidaklah cukup untuk menyatakan apa yang terasa, dan yang terasa tidaklah cukup dikeluarkan oleh perkataan" (Lafadz tidaklah mencukupi makna, dan makna tidak mencukupi lafadz).
Itulah puncak rasa yang meliputi hati seorang shufi.

AL-'ATHAR
Ketiga ahli tasawuf tersebut telah melapangkan jalan bagi kedatangan seorang shufi yang sangat mendalam, penyair kecintaan kepada Tuhan dan pengarang yang kaya akan imajinasi. itulah Fariduddin Al-'Aththaar, orang Naisabur yang meninggal pada permulaan abad ke Tujuh Hijiriyah. beliau digelari "Sauthus salikin" (Cemeti orang-orang yang mengerjakan suluk). tidak kurang dari 40 buah rangkaian syair karangan beliau, terdiri dari beribu bait, ada yang pendek dan ada pula yang panjang-panjang. diantaranya adalah "kitab Nasehat" (Bandinamah), dan sebuah kitab yang mendalam bernama "Percakapan Margasatwa" (Manthik Uth-Thair). buku percakapan margasatwa itulah yang telah mencapai Sang Khalik.
Tersebut dalam buku itu, yang mula-mula sekali ialah pujian terhadap Tuhan, dan salawat kepada Nabi Muhammad SAW.., dan sahabat-sahabat beliau, yang ke semuanya itu memakan tidak kurang dari 600 bait. setelah itu barulah beliau mengkisahkan percakapan burung-burung di rimba, terdiri dari 40 maqalat dan penutup.

JALALUDIN RUMI
Maulana Jalaludin Rumi Muhammad bin Muhammad bin husin Al-Khatbi Al-Bakri. di lahirkan di Balch (Persia) pada tahun 604 H (1217 M). dan meninggal pada tahun 672 H (1273 M). di dalam usia empat tahun beliau dibawa ayahnya ke Asia Kecil yang pada waktu itu lebih di masyhurkan sebagai negeri Rum. itulah sebabnya belia memakai nama Rumi.
Disanalah beliau melukiskan segenap pendirian tasawufnya yang berdasarkan atas Wihdatul Wujud itu. sebagian dari karya-karya beliau ialah sebagai berikut :
"Karamlah aku didalam rindu
Mencari Dia, mendekati Dia.
Dan telah tenggelam pula nenekku dulu,
Dan yang kemudian mengikut pula.

Kalau kukatakan bibirnya
Bagai bibir pantai lautan
Yang luas tak tentu tepinya
Dan jika kukatakan LAA, cucuku ialah ILAA

Aku tertarik bulan oleh huruf
Dan oleh suara pun bukan,
Makin jauh dibelakang dari yang didengar,
Dan difaham

Apa huruf, apa suara, apa guna kau fikirkan itu
Itu hanya duri, yang menyangkut kakimu
Di pintu gerbang taman indah itu
Ku hapuskan kata, huruf dan suara
Dan kakiku langsung menuju ENGKAU".

Merekalah para Ulama besar dalam dunia tasawuf (termasuk Al-Ghazali) di negeri Persia . mungkin masih banyak lagi yang penulis belum ketahui, tapi bisa dikatakan merekalah Ulama-nya para penempuh jalan tasawuf (Alam ruhaniah/hati) di Negeri itu (Persia).

Friday, February 19, 2010

Menuju Kebahagiaan Tertinggi

Bismillahi Ar Rahmaani Ar Rahiimi.


Rasa ingin selalu tahu hal yang baru adalah hal yang fitri manusia. Karena ia datang ke dunia ini dengan serba tidak tahu (Laa ta’lamuuna syai-an). Apabila ia dapat mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak ia ketahui, terasalah kepuasan dan kesenangan hati. Sedangkan tingkat kesenangan itu sendiri terbagi menjadi dua tingkat, pertama adalah lazaat, yaitu kepuasaan. Kedua adalah sa’adah, yaitu kebahagiaan.

Semakin banyak yang dapat diketahui, semakin tinggi pula tingkat kepuasan dan semakin mendalam pula kebahagiaannya. Itulah sebabnya orang yang lebih luas ilmu pengetahuannya, lebih merasa berbahagia hatinya.

Lantas dimanakah puncak tertinggi dari kepuasan dan kebahagiaan? Puncaknya yang tertinggi adalah “Ma’rifatullah”, mengenal Allah SWT.

Rasa puas karena mengetahui sesuatu ialah menurut thabi’at kejadian sesuatu itu. Kepuasaan mata ialah karena melihat rupa (sesuatu yang tampak) indah. Kelezatan telinga ialah karena mendengar suara yang merdu. Maka segala indera dalam tubuh, mendapatkan kepuasan karena tercapai pengetahuan itu menurut imbangannya masing-masing.

Nyata indera ialah dari nyalanya jiwa. Sedagkan pusat indera yang sebenarnya ialah hati. Apabila mata melihat yang indah, dan telinga mendengar suara yang merdu, dengan sendirinya timbullah keinginan hati untuk megetahui dari mana asal datangnya, dan siapakah gerangan penciptanya. Maka mengetahui sumber tempat datangnya segala keindahan itu hanyalah semata-mata tugas hati dan (bisa jadi) hanya hati yang bisa menyelaminya.

Maka tidak dapat kita pungkiri lagi bahwasannya puncak dan puncaknya segala keindahan, kepuasan, dan kebahagiaan ialah mengetahui pokok pangkal segala kejadian, pokok pangkal segala keindahan, itulah Allah SWT. Tidak ada yang lain lagi diatas-Nya.

Misalkan, seseorang yang merasa berbahagia bisa berkenalan dengan seorang perdana menteri, tentu kebahagiaan itu akan semakin betambah jika bisa berkenlan dengan seorang raja, dan kebahagiaan itu kan semakin bertambah pula jika bisa berkenalan dengan Rajanya para raja.

Itulah bahagia yang tidak ada kebahagiaan lagi diatasnya. Itulah ujung dari segala kepuasan. Karena tidak yang maujud yang lebih mulia dari itu. Bahkan segala kemuliaan yang maujud, adalah karena kemuliaan-Nya. Ada, karena dikehendaki-Nya. Mari kita timbang baik-baik. Kelezatan, kepuasan dan kebahagiaan yang bagaimana yang didapat dengan indera lahir? Bukankah semua pandangan mata, pendengeran telinga dan indera lahir itu hanya hidup karena masih adanya pertalian diantara tubuh dengan nyawa? Apabila pelita nyawa telah padam, masih dapatkah mata melihat dan telinga mendengar? Bahkan, sakit badan saja pun telah merubah rasa indah pada penglihatan mata dan pendengaran telinga.
“Kadang ingkarlah mata akan cahaya matahari lantaran trakhom. Dan kadang ingkarlah mulut akan sejuknya air, lantaran sakit.”

Keindahan Tuhan hanya dapat dirasai oleh hati. Dan hati tidaklah mati karena kematian tubuh. Bahkan dengan mati itulah dia bertambah kuat. Karena hidup itu pada hakikatnya adalh kegelapan, dan maut itulah terang. Tetapi meskipun hidup itu gelap, dengan mujahadah, dengan perjuangan, dapatlah kita menyeruak kegelapan itu.

"Biarpun gelap alan di sekeliling,
Cahaya bersinar di jiwa kita
Asalkan wajah tidak berpaling,
Menuju hakikat pada Khalik “Sang Pencipta”.


Tidak saja di waktu mati atau tidur saja hati itu terbuka, namun ia (hati) itu tetap terbuka saat bangun, saat sadar, asal ada latihan. Sedangkan latihan itu sendiri ialah menahan nafsu, menahan ghadah (marah), dan segala budi pekerti yang tercela. Maka apabila seorang hamba telah bersuni dengan dirinya, terhentilah perjalanan indera, dan bangunlah indera batinnya. Maka teruskanlah Dzikrullah dengan hati, sebut Dia (Allah SWT), dan jangan pernah di lepaskan. Maka saat itulah tidak ada lagi yang mampu menguasai batin kecuali Tuhan Yang Esa (Allah SWT). Itulah pintu mujahadah, dan saat itulah terbuka “mata hati” kita. Maka pada saat itulah seorang insan mampu menyaksikan sendiri sesuatu yang rahasia yang selama ini belum pernah ia ketahui.

Rahasia kebatinan ini hanya terdapat dalam perbendaharaan Tuhan, dimana akan sulit dicapai oleh seseorang yang masih terbalut oleh pengaruh perbendaan dunia. Hanya dengan hati seseorang mampu melebur menjadi satu kedalam cahaya keindahan abadi yang tak akan pernah padam.
Ya, hanya dengan itu !!!

Friday, February 12, 2010

Arti Tasauf / Tasawuf

Bismillahi Ar Rahmaani Ar Rahiimi.


Sebelum abad kedua Hijriyah, mulailah terdengar kata-kata "Tasauf".

Menurut penyelidikan yang seksama, ahli kebatinan yang mula-mula sekali digelari orang "shufi" ialah Abu Hasyim dari kaufah yang meninggal dunia pada tahun 150 H (761 M). kehidupan sehari-hari Abu Hasyim memang mencontoh kesederhanaan Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya, tidak memperdulikan ikatan-ikatan kemegahan dan kemewahan duniawi, yang batasnya tidak ada, kecuali didalam hati itu sendiri.

Banyak pendapat tentang arti dari kalimat tasauf itu. para ahli penyelidik bangsa eropa pun tidak kurang giatnya menyelidiki hal itu, bahkan konon penyelidikan mereka tentang kehidupan tasauf Islam melebihi dari pada penyelidikannya atas cabang-cabang ilmu ke-Islaman yang lain.

Ada yang berkata bahwasannya kalimat tasauf itu diambil pada kata Shafw, artinya bersih, atau shafaa, artinya bersih juga.

Ada juga yang berpendapat bahwasannya kalimat tasauf itu diambil dari kata "shuffah", yaitu suatu kamar disamping masjid Rasulullah SAW di Madinah, yang disediakan buat sahabat-sahabat rasulullah SAW yang miskin, tetapi kuat imannya, yang makan minum mereka ditanggung oleh orang-orang yang mampu dalam kota Madinah. banyaklah sahabat utama yang pernah tinggal di tempat itu, seperti Abu Dardak, Abu Zarr, Abu Hurairah dan lain-lain.

Ada juga pendapat yang mengambil tasauf dari kata "shaff" yang berarti barisan-barisan shaf seketika sembahyang. sebab orang-orang yang kuat imannya dan murni kebatinannya itu, biasanya sembahyang memilih shaf yang pertama.

Ada pula yang mengambil sandaran pada kalimat "shaufanah" yaitu sebangsa buah-buahan kecil berbulu-bulu yang banyak tumbuh di padang pasir tanah Arab, sebab pakaian kaum shufi itu berbulu-bulu sebagaimana buah itu.

Tetapi para peneliti barat seperti Von Harmer mengeluarkan pendapat yang lebih baru. kata mereka, kalimat tasauf itu diambil dari dua kata Yunani, yaitu THEO dan SOFOS. Theo artinya Tuhan, dan Sofos artinya Hikmat, jadi artinya adalah Hikamat ke-Tuhanan (Al Hikamatul Ilahiyah). sebab kata mereka buah pikiran yang telah kitaterangkan panjang lebar diatas tadi, banyak sekali pengaruh filsafat yunani, terutama neo platonisme mempengaruhi jalan pemikiran alam Islami. jadi kalimat itu bukanlah asli bahasa arab, melainkan bahasa yunani yang telah di arabkan.

Tapi sandaran-sandaran ini tidak ada yang mengena sama sekali, sebab kalau sekiranya hendak kita pakai kiasan aturan saraf (tata bahasa) Arab. jika kita katakan shafw, hendaknya penisbahannya dikatakan shafawi, bukan shufi. jika kita ambil dari kata shuffah, maka penisbahannya suffi (dengan tasydid huruf f). lebih-lebih jika kita ambil dari shuffanah, tentu penisbahannya bukan shufi, akan tetapi shufani.

Sekarang, bertambah jauh lagi jika kita ambil dari gabungan kata Theo dan Sofos. sebab sebelum berkembangnya ilmu pengetahuan yunani dalam kalangan bangsa Arab di saman Al-Ma'mun, Abu Hasyim yang meninggal dunia di tahun 150 H (761 M), telah digelari orang sebagai shufi. adalah Al-Kindi, seorang failasoof yunani, buah tangan dari Plato, Aristoteles dan ajaran Neo platonisme, tentu saja lebih patut digelari shufi (jika sekiranya kata-kata ini diambil dari bahasa yunani. tetapi Abu Hasyim lebih dulu terkenal dengan gelar shufi-nya, dari pada Al-Kindi dengan gelar Failasoof arab-nya.

Kalimat tasauf tetaplah sebagai suatu pengambilan bahasa yang disebut dalam ilmu saraf "bab tafa'ul", yang memfaedahkan bagi shairurah. Tashawwafa, yatashawwafu, tasshawwufan. Tashawwafa'al rajulu (seorang laki-laki telah mentaswwuf, artinya telah berpindah dari kehidupan biasa kedalam kehidupan shufi).

Sebagaimana di dalam tiap-tiap cabang pengetahuan, ahlinya memberi batas (istilah) suatu kata-kata di dalam batasnya yang tentu maka dalam kalangan tasawwuf-pun demikian halnya. kaum shufi telah memberikan beberapa kaidah yang mereka pilih sendiri tentang maksud yang terkandung dalam kalimat tasauf itu.

Basyr bun Al Harits, Al hafi memberi arti tentang tasauf itu:
"Ash-Shufi man shafaa qalbuhu lillahi" (seorang shufi ialah yang telah bersih hatinya, semata-mata hanya karena Allah SWT).
Abu 'Ali Al-Ruzbari, berkata; "seorang shufi ialah yang memakai kain shuf untuk membersihkan jiwa, memberi makan hawanya dengan kepahitan, meletakkan dunia dibawah tempat duduknya, dan berjalan (suluk) menurut contoh Rasulullah SAW"
Shal bin 'Abdullah Al-Turturi, berkata: "orang shufi ialah yang bersih dari pada kekeruhan, penuh dengan fikiran, putus dengan maunsia karena menuju Allah SWT, dan sama baginya harga emas dengan harga pasir".
Ma'ruf Al-karakhi, berkata: "tasawwuf ialah mengambil hakikat, dan putus asa dari apa yang ada dalam tangan sesama makhluk".
Abu Muhammad Al-Jurairai, berkata: "tasauf ialah masuk kedalam budi menurut contoh yang diwariskan oleh Rasulullah SAW dan keluar dari budi yang rendah".
Ruaim, berkata: "tasauf ditegakkan atas tiga perangai. berpegang teguh pada kefakiran, membuktikan kesanggupan berkurban dan meniadakan diri, meninggalkan banyak kepentingan dan banyak pilihan".
Junaid, berkata: "tasauf ialah ingat kepada Allah SWT walaupun dalam beramai-ramai, rindu kepada Allah SWT dan sudi mendengarkan, dan beramai dalam lingkungan mengikuti contoh yang telah diwariskan Raslullah SAW".

Alangkah jauhnya simpang jalan yang kita pilih dengan yang mereka ilih. kita hendak mengupasnya dari segi ilmu pengetahuan, mencari asal usul pengambilan bahasa yang mereka pakai, sandaran logatnya. tetapi bagi mereka bukanlah itu yang penting. tasauf memanglah begitu keadaannya. dia lebih banyak bergantung kepada perasaan, kepada Zauq. dan memang begitulah umumnya perasaan itu, dapat dirasakan dengan halus, tetapi tidak dapat dipegang barangnya dan tidak dapat ditentukan tempatnya. dalam segala ta'rif atau definisi yang mereka kemukakan, adalah penuh perasaan yang tinggi, penuh keindahan dan budi. penuh rasa ni'mat yang dialami jiwa karena Fanaa, atau lenyapnya diri sendiri dari yang lain dan tenggelam pada sebuah rasa yang berdekatan dengan Tuhan.

Dan sebagai kesimpulan dari semau itu, Al-Junaid, yang terhitung sebagai salah seorang imam besar dalam hal tasauf mengemukakan lagi arti tasauf. "tasauf ialah membersihkan hati dari apa yang mengganggu perasaan kebanyakan makhluk, berjuang menanggalkan kelemahan pengaruh budi asal kita (insting), memadamkan sifat-sifat kelemahan kita sebagai manusia, menjauhi segala seruan dari hawa nafsu, mendekati sifat-sifat suci kerohanian, dan bergantung kepada ilmu-ilmu hakikat, memakai barang yang penting dan terlebih kekal, menaburkan nasehat kepada sesama umat manusia, memegang teguh janji dengan allah SWT dalam hal hakikat, dan mengikuti contoh Rasulullah SAW dalam hal syari'at".

Saturday, January 30, 2010

Bila waktu telah berakhir (Opick)

Bagaimana kau merasa bangga
Akan dunia yang sementara
Bagaimanakah bila semua hilang dan pergi
Meninggalkan dirimu

Bagaimanakah bila saatnya
Waktu terhenti tak kau sadari
Masikah ada jalan bagimu untuk kembali
Mengulangkan masa lalu

Dunia dipenuhi dengan hiasan
Semua dan segala yang ada akan
Kembali padaNya

Bila waktu tlah memanggil
Teman sejati hanyalah amal
Bila waktu telah terhenti
Teman sejati tingallah sepi


Download video klipnya disini

Semoga bermanfaat, Amin

Monday, January 25, 2010

Sekilas tentang percintaan yang ajaib (Syams ad diin dan Rumi)


Tidak banyak yang diketahui dari Syams al-Dien. ia muncul dengan tiba-tiba sebagai seorang darwis (guru spiritual pengelana). ia tiba di Konya -tempat tinggal Rumi- dari kota Tabriz pada sekitar bulan Oktober 1244. ia menginap di penginapan seorang saudagar gula.

Secara kebetulan (lebih tepatnya atas kehendak Allah SWT) Rumi bersama beberap orang terpelajar, mengendarai kudanya sehabis mengajar melewatirumah saudagar gula itu. tiba-tiba, muncul Syams al-Dien memegang kendali kuda Rumi dasn memunculkan sebuah pertanyaan. tak disangka, pertanyaan itu begitu membuat Rumi terkesima hingga mulai saat itu Rumi tidak bisa lepas dari Syams al-Dien. selama tiga bulan mereka mengasingkan diri dari keramaian, siang dan malam. dalam merasakan manisnya pertemuan itu, tiada seorangpun yang melihat keduanya. orang-orang tak pernah mengganggu kebebasan dua orang tersebut.

Para sahabat dan murid-murid Rumi merasa malu melihat guru mereka yang bijaksana bisa terserap dalam diri darwis aneh itu. namun Rumi sendiri merasa telah menemukan "seorang" kekasih sempurna, orang yang di dalam hati dan dirinya mencerminkan cahaya ilahi dengan sempurna. perasaan itu saja tak cukup bagi Rumi. ia menjadi tergila-gila pada Syams. keasyikan dengan Syams itu membuat ia berjarak dengan murid-muridnya. hingga para mmurid dan pengikutnya cemburu dan benci melihat pribadi, perilaku serta kehidupan Syams.

Tidak lama setelah merayakan pertemuan itu, Syams al-Dien tiba-tiba menghilang, kepergian Syams membuat Rumi kesepian dan putus asa. hilangnya Syams al-Dien menimbulkan kerinduan dalam jiwanya dan memicu Rumi untuk menggubah hasrat kerinduannya menjadi beberapa lirik puisi Persia. ia lagukan lirik itu sambil mengharap kembalinya Syams al-Dien.

Akhirnya Rumi mengetahui bahwa Syams al-Dien pergi ke Damaskus, lalu ia mengutus putra tertuanya, Sultan Walad untuk mengajak Syams al-Dien kembali ke Konya. dan sesampainyadi Konya, Syams al-Dien menempati rumah Maulan dan menikahi gadis muda pelayan rumah. dia menetap disana hingga tahun 1248, sebelum akhirnya menghilang sekali lagi dan tidak pernah ditemukan kembali.

Aflaki -salah seorang penulis awal biografi Rumi- melontarkan tuduhan pada anak kedua Rumi, bahwa ia lah sesungguhnya yang membunuh Syams al-Dien. dan beberapa peneliti kehidupan Rumi mempercayai kebenaran tuduhan itu. sedang bagi Rumi, perpisahan itulah yang justru mengejutkannya. ia memutuskan untuk pergi sendiri ke kota-kota dimana ia kira Syams al-Dien berada. ia pergi ke satu atau dua kota, untuk mencari sahabatnya itu. namun tiada bertemu jua, hingga akhirnya ia pasrah.

Dan dalam kepasrahannya itu ia berkata "aku tidak akan mencari lagi. aku akan mencari diriku sendiri. sebab, segala yang ada dalam diri Syams al-Dien, juga ada dalam diriku".

Ya, Syams al-Dien -Sang Guru Spiritual itu- telah mengantarkan Rumi menemukan kediriannya. Rumi telah menjadi Matahari karena pancaran matahari dari Tabriz.

Saturday, January 16, 2010

Tafakur, melampaui segala tahap kebaikan


Kita mungkin sering membaca ayat Al-Qur’an yang berbunyi “afalaa tatafakkaruun” (tidakkah kalian berfikir?), disini kita diperintahkan untuk terus berfikir akan segala kekuasaan, kebesaran, keagungan Allah SWT, dan yang lebih penting lagi yaitu selalu ingat pada-Nya. Mengingat Allah SWT berarti kita telah ingat pada pusat segala kebaikan, kebaikan-kebaikan yang lain seperti ikhlas, tawadlu’, tawakal dan segala kebaikan lainnya akan secara otomatis mengikutinya. Kita ambil saja contoh saat kita dihadapkan pada suatu masalah dan kita ingat akan Allah SWT, pastinya kita berfikir bahwa segala sesuatu datang dari Allah SWT (apapun itu). Mampu atau tidak mampu kita mengatasinya, itupun karena Allah SWT. Bersyukur untuk kemampuan kita, dan kita kembalikan pada-Nya pula untuk ketidakmampuan kita. Dari sini bukankah kita (mungkin secara tanpa sadar) sudah melampaui keikhlasan? Bukankah tawakal juga sudah kita lakukan?

Mengingat Allah SWT, berarti kita juga merasakan keberadaan Allah SWT yang senantiasa mengawasi kita, dengan begitu kita juga terjauhkan dari segala keburukan-keburukan. Ibaratnya, bagaimana mungkin seorang pembantu mencuri sesuatu didepan tuannya.

Berfikir akan keagungan dan kebesaran-Nya, menjadikan kita kerdil dihadapan-Nya, berfikir akan kekuasaan-Nya, menjadikan kita lemah dihadapan-Nya, berfikir akan kemuliaan-Nya, menjadikan kita hina dihadapan-Nya. Jadi, jika kerendahan hati (tawadlu’) adalah guru dari para guru kebaikan (Jalaludin Al-Rumi), maka tafakur adalah guru dari kerendahan hati itu. Jika kerendahan hati adalah pintu yang tak terkunci untuk menuju pada kebaikan, maka tafakur ilallah adalah tangga menuju pintu itu. Dengan tafakur pula lah kita akan merasakan bahwa Allah SWT hadir dalam setiap gerak, hadir dalam setiap perkataan, hadir dalam segala pemikiran, dan hadir dalam diri kita.

Sekarang mari kita simak baik-baik, kita semua pastilah sudah tahu bahwa kita lahir karena cinta kita pada Allah SWT, jiwa (ruh) telah bersumpah untuk setia hanya pada-Nya, lantas masuklah jiwa itu kedalam jasad dan hiduplah kita. Bagaimana bisa kita tidak memikirkan-Nya? Ambil saja contoh sepasang dua sejoli yang saling mencintai, dengan adanya rasa cinta dalam diri mereka tidak akan mungkin jika tidak memikirkan orang yang dicintainya. Disetiap langkah selalu terlintas bayangan sang kekasih, bahkan segala pikiran telah terpenuhi oleh sang kekasih. Lantas bagaimana antara kita dengan Allah SWT yang sejatinya adalah kekasih yang sejati? Begitu mudahkah kita melupakan-Nya dalam setiap gerak dan pikiran kita?

Wednesday, January 13, 2010

Islam bukan ajaran yang "Dangkal"


Ajaran Islam yang mudah dicerna, masuk akal dan rasional, agaknya pas jika diberikan pada mereka yang masih awam pada Islam, atau tepatnya para muallaf. Namun, cukup disitukah kita akan berhenti memahami Islam? Untuk seseorang yang memang sudah benar-benar berhati Islam, sudah sepatutnya menapaki tahap yang lebih mendalam lagi, tahap untuk memasuki dimensi yang tak bertepi dimana akal sudah tak mampu menjangkau lagi.

Mungkin banyak orang diantara kita sepakat bahkan mati-matian membela pendapat mereka yang tak lebih dari sekedar generalisasi yang terburu-buru, yang punya akar historis dan implikasi ke depan yang panjang. It’s ok..Tapi untuk mengatakan bahwa semua ajaran Islam adalah ajaran yang rasional, tunggu dulu.

Medan (dimensi) akal adalah otak. Sedangkan dalam Islam bukan hanya menyantuni akal pikiran atau otak, melainkan hal yang lebih penting lagi yaitu “hati” (batin/qalbu). Justru inilah yang sebenarnya merupakan esensi dan misi Islam, menyantuni dan mengisi kekayaan hati (ruhani) yang tak bertepi, tak beralas, dan tak berlangit. Sebagian orang bisa saja merasionalisasikan atau mengakal-akali puasa dengan mengatakan bahwa “puasa akan membuat kita menjadi sehat” (ini hanya sekedar contoh) padahal sejatinya puasa akan (mudah-mudahan) membuat kita lebih bertakwa, lantas apakah itu takwa? Hal inilah yang hanya bisa dipahami dan dihayati secara batiniah, takwa tak bisa dirumuskan persis oleh rasio (akal). Sedangkan berbicara soal ruhaniah (batin), kita sudah masuk dalam dimensi dimana akal tak selalu bisa, bahkan (sering) tak pernah bisa menjangkaunya (mengintervensinya). Jangkauan rasio (akal) terhadap medan ruhaniah (hati) hanyalah akan mengakibatkan rasionalisasi terhadap ajaran-ajaran agama, ajaran agama diperas agar masuk akal. Jika kita terus berpegang pada hal yang demikian dan tak mau lagi mengembara ke dalam hal-hal yang lebih jauh lagi, maka ajaran agama praktis akan menjadi sebuah ajaran yang dangkal. Akibat yang lebih parah lagi adalah pendangkalan spiritual agama, ia menjadi kering dan aus.

Akal memang telah menghasilkan sains. Menurut pengalaman di jaman modern ini membuktikan bahwa rasio dan sains memang membawa manusia kearah hidup yang lebih comfortable. Tapi apakah keduanya berhasil membuat hidup lebih bermakna? Tak perlu argumentasi yang panjang untuk menjawab pertanyaan ini, cukup dengan menunjukkn fenomena kebangkitan agama di Barat dan Timur, yang disebabkan oleh gelombang kekuatan dari para pencari makna kehidupan, what’s the meaning of live.

Lantas apakah yang dicari orang-orang barat di dalam Islam? Banyak intelektual barat yang beralih agama ke Islam justru tertarik dengan kekayaan ruhaniah Islam, terutama tasawuf. Dan apakah tasawuf dapat dirasionalkan? Jawaban mereka “Absolutely not, and it’s not necessary”. Walhasil, sufisme dan tarekat-tarekat tumbuh subur termasuk di belantara beton Manhattan, lengkap dengan “sufi book store”.

Singkatnya, argumentasi bahwa Islam adalah ajaran yang rasional merupakan upaya yang bertolak dari suatu kesadaran atau sedikitnya berada diambang kesadaran untuk melakukan konfirmasi, kecocokan dengan dunia barat yang serba rasional. Banyak tokoh-tokoh sanjungan agama (yang diklaim sebagai modernis) ini gagal memberikan jawaban yang tuntas terhadap nestapa kaum muslimin.

Singkatnya lagi, slogan yang lebih mengena kepada diri seorang yang Islam adalah “kembali pada kekayaan hati (batin Islam)”. Ini (setidak-tidaknya) bisa diawali dan dilakukan tanpa harus mengesampingkan penggunaan akal, namun jika kita tetap berdiri pada rasionalitas (lebih tepatnya berhenti pada apa yang hanya mampu tertangkap oleh akal), maka keyakinan kita tak akan punya masa depan. Jika Islam ingin berperan lebih positif ditengah hingar bingar modernisasi, itu justru disebabkan oleh warisan spiritualnya, yang tidak lain adalah pengembaraan “hati”.

Monday, January 11, 2010

HAKIKAT PERJALANAN


Perjalanan adalah metafora. hidup, seperti sering dikatakan orang adalah perjalanan, pengembaraan dari sau titik menuju titik akhir. pada tingkat individual, hidup adalah perjalanan fidik semenjak kelahiran sampai kematian. perjalanan ini masih berlanjut pada perjalanan di alam barzah menuju keabadian.

Nabi Muhammad SAW, tidak terkecuali, adalah pengembara. tapi berbeda dengan kebanyakan manusia biasa, Nabi Muhammad mengembara di sepanjang jalan yang benar (al-shirath al mustaqim), menapaki jalan atas panduan Tuhan. setidaknya terdapat tiga perjalanan nabi Muhammad SAW yang sangat pentung dan paradigmatik bagi kaum muslimin.

Perjalanan pertama nabi Muhammad SAW adalah Isra' Mi'raj. sepanjang peristiwa Isra', Nabi muhammad SAW berjalan atau "diperjalankan" dari masjid Al-Haram di Mekah menuju masjid Al-Aqsa di yerussalem. selanjutnya, dari sana Nabi melakukan Mi'raj ke singgasana Tuhan. dilihat dari apa yang dialaminya sepanjang perjalanan, Isra' mi'raj jelas merupakan perjalanan untuk menempuh perjalanan di dunia lain bagi Nabi Muhammad. riwayat-riwayat diseputar perjalanan Nabi ini menyatakan bahwa di masjid Al-Aqsa beliau ditemani oleh Nabi-Nabi terdahulu, mereka bahkan meminta Nabi Muhammad SAW untuk mengimami mereka dalam mengerjakan shalat.

Selanjutnya, ketika Mi'raj, malaikat jibril memperlihatkan kepada Nabi Muhammad berbagai lapis langit. Beliau bertemu dengan Rasul-Rasul terdahulu, sekaligus menyaksikan mereka yang dikutuk Tuhan ke dalam tempat yang penuh kesengsaraan. banyak kaum muslimin percaya bahwa Isra' Mi'raj melibatkan perpindahan Nabi Muhammad SAW secara fisik. namun, ada juga tradisi interpretasi non-literalistik yang berpendapat bahwa Isra' Mi'raj merupakan pengalaman spiritual dan batin. tetapi, jika dipahami sebagai konsep generik, Mi'raj memberikan metafora bagi penjelasan-penjelasan tentang dinamika pertumbuhan spiritual seseorang. dalam pandangan jalaludin rumi, sekedar berbicara dan bertindak adalah jalan penuh debu dari perjalanan zahir (jasmaniah) seseorang, sedangkan perjalanan batiin membawa ruh melintasi langit menuju kesempurnaan spiritual.

Mempertimbangkan hal ini, tidak heran kalau perjalanan Isra' Mi'raj Nabi menjadi model bagi banyak aspirandan peminat dalam perjalanan dan kesempurnaan ruhani. Abu Yazid Al-Bistami, misalnya, menyatakan bahwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam mencapai kedekatan dengan Tuhan merupakan teladan paling sempurna dari perkembangan dan kemajuan ruhaniah.

Perjalanan kedua Nabi Muhammad adalah "hijrah" atau pindah dari Mekah ke Madinah pada 622 M. perjalanan ini menandai bermulanya sejarah kaum muslimin. tetapi lebih dari itu, perjalanan ini telah menjadi metafora persyaratan fundamental bagi setiap kaum muslim dalam hubungannya dengan dunia dan sekitar mereka. secara simbolis, mereka harus bersedia meniggalkan kediaman mereka, mendengarkan panggilan Tuhan guna membangun sebuah masyarakat yang adil, menempuh resiko dalam menghadapi dan memerangi kepercayaan dan kebudayaan pagan demi kepentingan sebuah keimanan kepada Tuhan. dengan demikian, hijrah semula merupakan metafora dari perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain yang lebih memungkinkan bagi tercapainya tujuan-tujuan untuk menegakkan nilai-nilai Islam.

Dalam perkembangan lebih lanjut, hijrah juga dapat berarti sejumlah tindakan yang tidak selalu berupa perpindahan fisik. hijrah, misalnya, juga merupakan metafora dari perpindahan nilai yang dilakukan seseorang termasuk penganut muslim sekalipun, seperti meninggalkan nilai-nilai yang tidak disukai Tuhan, untuk kemudian sepenuhnya masuk kedalam Islam. dalam konteks terakhir ini, lagi-lagi perjalanan hijrah merupakan transformasi spiritual, yang jika ditingatkan intensitasnya akan membuat seseorang bisa mencapai kesempurnaan ruhaniahnya.

Banyak pemikir Islam kontemporer mengartikan hijrah dalam makna terakhir ini. Al-Maududi, misalnya, memandang hijrah sebagai perpindahan seorang muslim dari nilai-nilai jahiliyah modern kepada tatanan Islami (Nizham al-Islami). sedangkan Ayatullah khomeini memahami hijrah sebagai perjalanan ruhani yang melibatkan perjuangan melawan kecenderungan setiap orang untuk mementingkan dirinya sendiri.

Perjalanan ketiga nabi Muhammad SAW yang penuh makna simbolis adalah perjalanan ibadah haji (hajj wada') dari madinah ke Mekah menjelang akhir hayatnya. dalam perspektif religio-politik, perjalanan ini merupakan pernyataan tentang penguasaan kaum muslimin atas tempat suci Mekah. tetapi lebih dari itu, perjalanan haji ini mempunyai implikasi spiritual simbolis, perjalanan ini adalah kembali kepada pusat kesucian yang terbentuk sejak masa Nabi Ibrahim as. karena itulah, kaum muslimin yang mengikuti jejak langkah Nabi Muhammad SAW mengadakan perjalanan haji ke Mekah tidak sekadar melakukan perjalanan fisik, tetapi juga menggambarkan perjalanan abadi sepanjang kehidupan menuju ke pusat kekudusan keILAHIan.

Perjalanan ibadah haji menuju ka;bah adalah metafora dari "akhir" perjalanan, karena ia adalah titik asal semua ciptaan Tuhan. para penyair muslim sering menyebut ka'bah sebagai harapan dan cinta, atau kebajikan yang dipandang penting dan selalu dicari atau diimpikan orang. Jalaludin Rumi, sekali lagi, menganggap bahwa Ka'bah yang secara fisik di Mekah dan merupakan perpanjangan dari "Ka'bah" yang terdapat di kalbu (hati).

Pada akhirnya, ada baiknya mengutip dari apa yang telah dinyatakan oleh Ibnu Arabi bahwa setiap perjalanan ruhaniah terdiri dari tiga jenis, perjalanan menjauh dari, menuju kepada, dan dalam Tuhan. para pendosa mengalami frustasi dalam perjalanan tnpa akhir, mereka yang beriman tetapi belum sempurna dalam pengetahuan tentang wujud Tuhan,sampai ke titik kehadiran Tuhan, tetapi terhalang hijab untuk menyaksikan-Nya, dan mereka yang terpilih yang pada akhir perjalanannya barhasil menyaksikan Tuhan. ketiga perjalanan Nabi Muhammad SAW adalah perjalanan menuju kepada dan dalam Tuhan.

SubhanALLAHu wal hamduliLLAHi walaa ilaaha illALLAHu waLLAHu akbar, walaa haula walaa quwwata illaa biLLAHi al 'aliyyi al 'adziim...

Di kutip dari buku "MENUJU MASYARAKAT MADANI", Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A

Friday, January 8, 2010

Letto - Sebelum Cahaya



Letto - Sebelum Cahaya

Ku teringat hati
Yang bertabur mimpi
Kemana kau pergi cinta
Perjalanan sunyi
Engkau tempuh sendiri
Kuatkanlah hati cinta

Chorus:
Ingatkan engkau kepada
Embun pagi bersahaja
Yang menemanimu sebelum cahaya
Ingatkan engkau kepada
Angin yang berhembus mesra
Yang kan membelaimu cinta

Kekuatan hati yang berpegang janji
Genggamlah tanganku cinta
Ku tak akan pergi meninggalkanmu sendiri
Temani hatimu cinta

Chorus

Ku teringat hati
Yang bertabur mimpi
Kemana kau pergi cinta
Perjalanan sunyi
Engkau tempuh sendiri
Kuatkanlah hati cinta

Chorus


created by Halim Firmansyah

Thursday, January 7, 2010

Keterpaduan rasa dan akal untuk Dunia Baru (RASIONAL RELIGIUS)


Maka, apa yang sekarang dibutuhkan oleh manusia kini.? kebudayaan modern yang sekuler jelas mengalami kebuntuan kemanusiaan. sedang masuk ke dunia mistik, hanya akan sampai pada kegelapan hidup. lalu bagaimana kita bersikap?

Kita tampaknya harus menguatkan rasa kita, namun tidak dengan meninggalkan akal. hati kita haruslah berpadu dengan akal. sebab, tanpa akal kita hanya akan terjebak pada dunia mistik yang berakhir dengan kegelapan. mungkin ada benarnya sebuah kiasan bahwa hati adalah raja dan akal sebagai penasehatnya (hakim). sebab, hati tanpa akal bisa jadi raja yang gelap mata. dan itulah sesungguhnya spiritualitas Qur'ani, yaitu kehidupan yang rasional religius.

Sejalan dengan itu, yang dibutuhkan manusia (umat islan khsususnya) sekarang untuk membangun dunianya agar menjadi lebih baik adalah islam rasional. makna rasional disini tentu tidak sekuler, sebab sekulerisme hanya akan sampai pada kebuntuan kemausiaan. dan dalam hal ini, perlu dikembangkan pemikiran tentang akhlak (tentu juga tidak dalam definisi yang sempit). pemikiran ini merupakan upaya agar umat islam dapat menjawab tantangan-tantangannya dengan jawaban yang bersifat praktis.

Kecenderungan ummat islam (walaupun tak semua), yang hanya senang memperbincangkan hal-hal bersifat teologis dan normatif membuat ummat islam tidak memiliki jawaban-jawaban yang memadai untuk meretas jalan kehidupan modern. karena itu Al-Qur'an sebagai harta ummat islam yang sangat berharga harus senantiasa digali. tidak hanya dengan kajian kitab kuning, namun juga kitab "putih". yaitu menggalinya dengan cara berfikir saintifik. sehingga terwujud sikap ummat islam yang historis, tidak sekedar normatif. dan sikap ideal dari penggalian Al-Qur'an itulah yang merupakan penjabaran penyempurnaan akhlak seperti Sabda Rasulullah SAW:

"Sesungguhnya aku diutus semata-mata untuk menyempurnakan akhlak" (HR Bukhari)

Dan karena itu pada akhirnya kita bisa berharap bahwa islam akan benar-benar bisa menjadi rahmatan lil 'aalamiin. sebagai awal penyempurnaan akhlak sosial, dalam dataran individu perlu ditanamkan sifat wara'. sifat yang merupakan salah satu maqamat (tahapan-tahapan) sufi yang mengharuskan berhati-hati agar tetap berada dijalan yang benar dengan melakukan atau memakan barang-barang yang halal saja (yang sudah jelas halalnya). senantiasa menghindari perbuatan atau barang yang syubhat (meragukan), apalagi yang jelas haramnya.

Perilaku ini tentu berpengaruh banyak dalam kehidupan manusia yang ingin mencapai keutamaan. mereka yang senantiasa wara' tentu akan sulit tercebur pada kehidupan yang rendah. tak akan pernah terlibat KKN ataupun tindakan kejahatan lainnya. dan pada mereka yang wara' itulah, rasionalitas religius akan tumbuh. semangat yang akan melambungkan masyarakat pada tatanan dunia baru yang lebih baik. maka dari itu, marilah segera kita tanamkan sifat wara' dalam diri kita dimanapun kita berada dan dalam situasi yang bagaimanapun.

WaLLOHu a'lam bi Ash shawab.

Thursday, December 31, 2009

CINTA SEJATI HAMBA SUFI (Prolog Mutiara Diwan)


Cinta yang dalam tasawuf dikenal dengan istilah mahabbah, adalah pilar utama bagi kehidupan seorang sufi, karena dasar setiap gerak dan diam adalah cinta. tiada kehidupan tanpa cinta dan dengan cinta kehidupan tercipta. tertulis pada kitab-kitab para Nabi, "Wahai hamba-KU, AKU bagimu adalah DZAT yang mencintai, maka jadilah engkau seorang yang mencintai-KU karena cintamu itu adalah hak-KU atas kamu".

Cinta ALLAH SWT kepada seorang hamba ditunjukan dengan kedekatan-NYA pada hamba itu, sedangkan cinta hamba kepada ALLAH SWT ditunjukkan dengan taat melakukan perintah-NYA, menjauhi larangan-NYA dan mempersembahkan kepasrahan total di hadapan-NYA. ini baru sebatas pangkal cinta kepada ALLAH SWT yang bersifat kasbiyah, bisa dicapai dengan upaya-upaya manusiawi oleh siapapun.

Puncak cinta berakhir dengan disingkapnya hijab oleh ALLAH SWT, dibukanya pintu, dan dipersilahkannya seorang hamba masuk ke hadirat ALLAH SWT bersama para ahbab, para pecinta yang mempunyai maqam khusus dihadapan-NYA. puncak ini bersifat wahbiyah, sebuah anugerah yang diberikan kepada orang-orang yang dikehendaki-NYA diantara para hamba yang telah melalui upaya-upaya kasbiyah.

Seorang sufiyah besar, Rabi'ah al-Adawah, pernah mengilustrasikan cintanya yang rumit itu dalam sebuah syair
Kucintai ENGKAU dengan dua cinta,
Cinta karena kecenderungan hawa dan
cinta karena memang ENGKAU lah yang layak dicinta

cinta hawa menyibukkanku untuk mengingat-MU dari yang lain
Sedangkan yang ENGKAU layak dicintai itu karena
Memang ENGKAU lah yang menyingkap hijab untukku

Sama sekali tiada puji bagiku
Dalam cinta manapun
Tapi bagi-MU lah segala puji itu


Rabi'ah mengisyaratkan adanya dua bentuk cinta. pertama, cinta yang lahir dari kesaksian kepada kemurahan Tuhan dalam bentuk kecukupan hajat hidup insaniyah dan kenikmatan inderawi (Hissiyah) serta kehormatan harga diri (ma'nawiyah), sehingga tiada disangkal jika hati cenderung dan tergiring untuk mencintai DZAT pemberi kemurahan itu. cinta seperti inilah yang disebut dengan cinta karena kecenderungan hati.

Kedua, cinta yang lahir dari kesaksian hati kepada adanya kesempurnaan. jika hijab yang menyelimuti hati seorang hamba dibuka oleh ALLAH SWT, maka tampaklah oleh hamba tersebut keindahan dan kesempurnaan Tuhan dalam segala hal. pada saat demikian, secara otomatis lahir rasa cinta yang kokoh seorang hamba kepada ALLAH SWT.

Cinta kedua inilah yang sesungguhnya paling hakiki, karena seorang hamba tidak lagi melihat seberapa besar ALLAH SWT memberikan kecukupan hajat hidupnya, melainkan sebuah cinta yang melintasi segala ruang dan waktu serta mengatasi segala keadaan, baik suka maupun duka, baik ketika berkecukupan maupun papa.

Segala gerak jasad dan desah nafas adalah tarikan cinta sejati yang tiada pernah terhenti. itulah "Kisah Keajaiban Cinta" (Jalaludin Rumi: Mutiara Diwan-i-Syamsi Tabriz)

Wednesday, December 30, 2009

DEPRESSED.? Here's Help


Lately it's been a colossal effort to drag yourself out of bed. it's impossible to concentrate on your work. your headaches and sleeplessness make it worse. weekends are no better. golf used to be fun, but it turned boring. even sex is a chore. an alarming thought flashes by "may be this misery would end if I never woke up...".

Warning signals: you've got more than a case of the blahs. these are signs of a common but serious illness: major depression. Because it may masquerade as different ailments -backache, stomach problems, anxiety- and because it often gets dismissed as the blues, true depression is far more prevalent than most people realize. goof-offs and bumblers aren't necessarily the ones who get clobbered, either.

While depression can be a dreadful disease, it is also easily treated. left untreated, a major depression typically lasts at least six months. but today most depressives can begin recovering within a few weeks, thanks to new therapies and better understanding of the disease.

A tendency to depression is not a weakness or a self-indulgence. scientist theorize that depression is caused by an imbalance of chemicals in the brain. it runs in families: the parents, siblings and children of a depressed person are at higher risk for depression than those who do not have a depressed person in the family; an identical twin is at even greater risk.

Still, depression can strike anybody. consider the man in this 50(s) who signed on as chief financial officer (CFO) at a company in the midst of a leveraged buyout. told to fire the controller, the CFO fought to keep him because of the older man's knowledge of the company. the two men became friends. then the controller died of cancer. to the CFO's amazement, his friend's death helped bring on a major depression.

"I'd never been sick a day in my life", he says. "Suddenly I couldn't eat or sleep". his weight dropped rapidly, and he became so anxious that he found himself screaming in the car on the way to work. he barricade himself at home on weekends and rarely emerged from his office at work. "I could barely think. I'd stare at six pairs of identical white underwear in the morning and not be able to decide which to put on".

After unsuccessful attempts at treatment, the executive attended a special program at a clinic, where he received proper medication and attended group therapy. eventually, he overcame the depression, and it has not been back.

Depression is often triggered by stressful life events, but it can also be touched off by positive news like a promotion, a baby or a new home. not surprisingly, feeling depressed is one of the is anhedonia, a markedly diminished interest in food, sex, hobbies -just about everything pleasurable.

If you, or people around you, observe either of these mind-sets for two weeks or more, watch out for seven other signals: a big increase or loss in weight, sleeplessness or over sleeping, fatigue, slowed body movements, feelings of concentrate or make decisions, and thought of death. if you display any four of these symptoms along with anhedonia or depressed mood, you've got a major depression.

Burnout or grief complicates the diagnosis of depression. "depression doesn't respond to common sense. a depressed person takes a vacation and doesn't feel better. or a friend tries to cheer him up and he feels worse". the biggest problem facing most new patients is waiting to see the effects of treatment. if the depression is mild to moderate, you will fare well with antidepressant medication or short-term psychotherapy.

If you decide to go to the family doctor for help, tell him or her explicitly that you think you're depressed. good-win says non-psychiatrist doctors sport major depression less frequently than mental-health professionals do. some primary-care etc drug or a sleeping pill, which may act as a depressant and make matters worse. if the treatment you embark on doesn't begin working within eight weeks, your doctor may start or change medication. if you do not feel therapy is helping find a more compatible therapist. for moderate to severe depression, get medicine right away. government guidelines say there is almost no evidence that psychotherapy alone is useful in eliminating severe depression. if the symptoms are relentless, if your thought feel as if they're pushing through molasses, nobody would question using medication.

Antidepressant seem to work by booting the levels of the two types of neurotransmitters in the brain that are thought to affect mood. older antidepressants -tricyclics and MAO inhibitors- boost transmitters but cause unwanted side effects, including dry mouth, lightheadedness when standing and weight gain. users of MAOinhibitors have to avoid certain foods, such as some cheeses, wines and pickled items. the newest class of antidepressants, by comparison, seems to affect only one transmitters, called serotonin. this class of drug is safer and has fewer side effects than older drugs.

One other depression treatment is widely misunderstood: electroshock or electroconvulsive therapy (ECT), in which a mild current passing through the scalp induces a seizure. ECT is used only in cases when other treatment have been unsuccessful. the process got a terrible reputation 30 years ago, when it caused memory loss and dangerous convulsions. but using muscle relaxants and new ways of positioning the electrodes has greatly reduced these problems.

The major classes of antidepressants are all equally effective, though sometimes one kind won't work on one person while another will. doctors usually try easing patients off medication after six months to a year. if symptom kick up again, the medicine is resumed. antidepressants are not mood elevators or tranquilizers. if you are depressed, they will probably make you well, but if you are not depressed, they won't make you extra happy. they are not known to be addictive and don't require steadily increasing doses. but don't dismiss psychotherapy. medicine may help a driven executive, for example who spent a lifetime pursuing his career, then was laid off and fell victim to depression. but if all that ambition snuffed out relationships with his wife, kids and community, pills won't help enough. therapy might.

What if you suspect that a spouse or loved one is depressed? don't be bashful. id you think the sufferer will deny the problem, call a doctor yourself.

Friday, December 25, 2009

KEMBALI PADA SEBUAH INTI

Kita terlahir dari kilauan kemegahan Tuhan dan mewarisi kebaikan dari bintang yang gemilang, bagai pesona merah delima di tengah-tengah granit dimana kita tak akan pernah bisa bersembunyi dan berbohong dari Allah SWT.


Kita sekarang adalah ruh suci yang terperangkap oleh tanah (Jasad). sebelumnya kita adalah ruh suci yang murni. jasad tidak akan pernah mendapatkan ruh sebelum ruh itu mau mengucapkan janji kepada Sang Pemberi Ruh (dua kalimat syahadat). kemudian ruh suci itu masuk ke dalam jasad hingga terbentuklah manusia yang utuh dengan membawa sebuah cinta suci kepada Allah SWT. itulah arti sebenarnya bahwa manusia tidak akan bisa hidup tanpa cinta. ruh akan menghidupkan akal dan membuat sebuah ruang yang biasa kita sebut sebagai "hati".

Tanah (Jasad), semakin lama bisa semakin kotor. lantas berapa lamakah kita akan terlepas dari jasad yang kotor dan hina? kita tak akan mampu menjawab. dan semakin lama kita biarkan jubah kita (jasad) itu kotor, maka ruh juga akan kotor. ruh yang kotor akan mengotori akal dan hati kita. kita tidak akan bisa mengenali diri kita sendiri hanya dari jasad kita, karena jasad begitu mudah untuk dibersihkan. kenali dari mana asal ruh kita, dari mana akal kita bisa bergerak untuk berfikir, dan dari mana hati kita bisa berfungsi untuk menerima, menyimpan, merasakan, berkeinginan, dan mengendalikan sesuatu yang kita inginkan.

Dari situ, sedikit banyak kita akan bisa mengenali diri kita, tergantung seberapa dalam kita tenggelam jauh ke dasar diri kita. jika kita hanya bisa mengenali diri kita hanya sampai pada jubah kita, orang lain pun juga akan melihat kita hanya dari jubah kita saja. begitu sebaliknya, jika kita mampu tenggelam jauh ke inti dari diri kita, orang lain pun juga bisa mengenali siapa dan bagaimana sebenarnya kita.

Keindahan jasad adalah lukisan yang menyelubungi segala keindahan hati, buka selubung itu dan masuk, kita akan melihat bahwa keindahan hati itu melebihi indahnya lukisan jasad. manusia tak akan bisa menjadi bijak jika segala sesuatu yang relatif terus saja kita jadikan pujaan.

Meski dalam bentuk kita adalah tanah, namun kita berasal dari ruh yang suci, dan terjadi karena kesejatian cinta yang suci.

Wednesday, December 16, 2009

FILSAFAT POLITIK

Plato mengatakan jika kita ingin memiliki gambaran moralitas yang jelas bagi individu perorangan, kita harus kembali pada negara, dimana, kata plato, "tertulis jelas" bagi kita untuk bisa melihatnya. persoalan bentuk negara, topik yang secara prinsip dibahas dalam republic - adalah persoalan filsafat politik. filsafat politik dimaknai sebagai cabang filsafat yang mempelajari permasalahan seperti pertanyaan tentang apa yang dimaksud dengan masyarakat yang baik? apa yang dimaksud dengan keadilan? apa yang dimaksud dengan kekuasaan dan kontrol? serta pada siapa kesemuanya itu diberikan? apa hubungan subordinasi-superordinasi antara negara dengan perorangan? apakah negara ada untuk melayani individu ataukah individu ada untuk melayani negara? filsafat politik plato menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi dengan berdasar pada etikanya, filsafat moralnya. filsafat moralnya menetapkan bentuk keadilan di dalam jiwa manusia. individu manusia iut adil atau baik, jika dia seimbang dengan struktur harmoni dari tiga bagian jiwa.

Tetapi apa hubungan keadilan dalam individu perorangan dengan negaranya? plato menjawab bahwa secara alami manusia adalah boneka yang mempunyai jiwa sosial, memiliki keinginan alami untuk hidup dalam komunitas. mereka bergantung pada masyarakatnya untuk mendapatkan ketenteraman serta untuk kepuasan hidupnya. oleh karena itu, negara dan pemerintahnya juga harus adil seperti halnya manusia. dalam hal ini, plato dan orang yunani bertentangan dengan doktrin kristen yakni bahwa negara itu tidak alami dan tidak baik, merupakan kejahatan yang diperlukan untuk mengendalikan kejahatan yang lebih besar yang mana akan memperlihatkan hasil bila nafsu dan kekerasan manusia tak terkendali dan tak tertahankan. dan yang seharusnya kita lihat, pandangan plato atas negara yang alami dan baik juga bertentangan dengan pandangan Karl marx yakni negara sebagai kediktaktoran oleh kelas penguasa, yang hadir untuk mengeksploitasi kelas sosial lainnya secara ekonomi dan untuk membelenggu perkembangan dan kemerdekaan mereka. tetapi bagi plato, negara kecil yang ikatan satu sama lainnya dekat bisa menciptakan keadaan alami bagi kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. sementara kaum nasrani secara tradisional menekankan bahwa kehidupan yang baik terdiri atas hubungan baik dari nidividu sendiri, pribadi dengan Tuhan, dan tidak menekankan pentingnya hubungan sosial. plato dan orang yunani yakin bahwa kehidupan yang baik hanya dimungkinkan dengan terciptanya negara yang baik pula. lalu apa itu negara yang baik? apa itu keadilan dalam negara, yang merupakan organisasi politik atau apa pemerintah negara itu sendiri?

Keadilan di dalam manusia dan di dalam negara
Sebuah negara, kata plato, adalah seorang manusia yang "tertulis jelas". elemen yang menyusun negara itu berhubungan dengan elemen yang menyusun jiwa manusia. keadilan, kelebihan, atau moralitas negara sama seperti yang berlaku pada manusia. bagi plato, tidak seperti filsuf politik setelahnya, tidak ada pembedaan satu moralitas untuk perorangan dan satu lagi untuk negara, yang kemudian tidak perlu diperhatikan pada individu yang memerintah. lalu, elemen negara apa yangberhubungan dengan elemen jiwa? seperti jiwa manusia perorangan, setiap negara dengan apapun tipenya memiliki tiga bagian yakni tiga kelas sosial (kelas produsen), kelas militer, dan kelas penguasa atau pemerintah.

Pada negara yang ideal, republik yang dirancang socrates dan murid-muridnya, masing-masing dari tiga kelas ini menerangkan fungsi penting mewakili keseluruhan organik yakni masyarakat. kelas produsen menyediakan keperluan hidup bagi diri mereka sendiri dan bagi kelas lainnya (makanan, temapt berteduh, pakaian dan lain sebagainya). kelas produsen berhubungan dengan elemen nafsu dalam jiwa manusia, sedangkan pelindung atau penguasa berhubungan dengan elemen akal, dan kelas pendukung atau militer, yang membantu dan mendukung pelindung, berhubungan dengan elemen rohaniah.