Recent

Syeikh Abul Hasan Asy Syadzili : Tentang "Siksaan"

Siksaan itu terdiri dari empat macam : 1. Siksaan melalui adzab. 2. Siksaan melalui hijab. 3. Siksaan melalui pengekangan , dan 4. Siksaan ...

Gus Dur : Tentang tasawuf dan Wihdatul Wujud (Manunggaling kawula lan Gusti)

Di dalam sebuah buku, Alwi Shihab pernah memaparkan bahwa penyebaran Islam di Negeri ini dilakukan antara lain oleh kaum Ulama pesantren.

Dari Mujahadah ke Muraqabah, sampailah pada Musyahadah

Mujahadah : Berjihad menumpas hawa nafsu yang menghalangi jiwa untuk dekat kepada Allah Ta’ala. Muraqabah : Memperhatikan gerak-gerik hati,...

Kita sering merasa yakin, tahukah apa itu "Yakin"?

Dan diantara tanda-tanda Ulama’ Akhirat itu ialah sangat bersungguh-sungguh menguatkan keyakinan. Karena keyakinan itu adalah modal Agama....

Menjadi Manusia Yang Manusiawi

Maksud dari kalimat "Manusia yang manusiawi" adalah menjadi manusia yang baik dan benar, serta manusia yang benar dan baik.

Saturday, October 31, 2015

Menjadi Manusia Yang Manusiawi

Maksud dari kalimat "Manusia yang manusiawi" adalah menjadi manusia yang baik dan benar, serta manusia yang benar dan baik. 
Perlu kita ketahui bahwasannya suatu hal yang benar belum tentu sudah baik, pun begitu sebaliknya sesuatu yang baik juga belum tentu sudah benar. 

dunia hati

Perhatikan cuplikan percakapan berikut:
Si A: (berjalan dari arah utara)
Si B: "Pagi mas, dari mana?"
Si A: "Dari utara"
Si B: "Oh, mau kemana atuh mas.? :) "
Si A: "Ya mau ke selatan lah"

Benar? Memang jawabannya benar. Baik? Sudah barang tentu tidak baik sebab Si B yang hanya sekedar ingin basa basi menyapa agar terlihat lebih harmonis akan terluka perasaannya. 

Contoh lagi perhatikan peristiwa berikut:
Si A mempunyai tetangga yang bisa dikatakan lebih miskin dari dirinya, dan Si A ingin sekali bersedekah pisang goreng (sebab saat itu istri Si A kebeteulan baru saja menggoreng pisang). Namun cara Si A bersedekah itu dilemparkan tepat di depan si miskin. Kita semua tahu bahwa bersedekah itu suatu hal yang sangat baik, namun jika caranya seperti itu sudah pasti tidak benar.

Nah, dari kedua cerita tersebut diatas sudah bisa kita simpulkan bahwa sesuatu yang benar itu belum tentu sudah baik, pun begitu sebaliknya. Jika kita bisa menyatukan keduanya, benar dan baik serta baik dan benar maka saat itulah kita telah menjadi manusia dengan jiwa yang fitrah (Fitri). Jadi, makna sebenarnya dari kata fitri adalah jiwa yang baik dan benar serta benar dan baik, saat itulah kita juga telah menjadi manusia yang manusiawi. Dari sini mungkin anda akan teringat sesuatu yang seringkali kita rayakan bersama-sama yaitu Idul Fitri. Bersilaturrahmi dan saling memaafkan adalah salah satu bentuk sifat manusiawi pada diri manusia. 

Jadi, mari kita semua selalu berbuat baik kepada sesama dan lakukanlah perbuatan baik tersebut dengan benar.

Monday, January 28, 2013

Mengenal angan-angan

"Melanturnya angan-angan ialah menginginkan hidup untuk waktu yang panjang, dengan memastikan. sedangkan pendeknya angan-angan yaitu tidak memastikan dalam berangan-angan itu, misalnya : mengikatnya dengan istitsnaa (Insya ALLAH, dengan kehendak dan ilmu Allah SWT) dalam menuturkannya, atau dengan syarat baik dalam menginginkannya".

Dengan demikian, bila kita menyebut-nyebut hidup kita, umpamanya : "aku masih akan hidup sesudah tarikan nafas yang kedua, atau jam yang kedua, atau hari yang kedua", dengan memastikan, maka kita dinamakan orang yang melantur angan-angannya. hal ini merupakan makshiyat, karena yang demikian berarti memastikan perkara yang ghaib.

Jika kita membuat qayyid (mengikat) angan-angan itu dengan kehendak Allah SWT dan ilmu-NYA, lalu kita berkata : "aku akan hidup insyaAllah", berarti kita keluar dari hukum angan-angan dan kita bisa di sifati orang yang mneninggalkan angan-angan.

Begitu pula jika kita menginginkan hidup hingga waktu yang kedua secara memastikan, maka kita diebut orang yang panjang angan-angan. Tetapi, kalau kita membuat qayyid terhadap keinginginan kita itu dengan syarat yang baik, maka kita keluar dari hukum angan-angan dan kita disebut orang yang pendek angan-angannya, karena kita tidak memastikan dalam keinginan kita.

Karena itu lah, mari kita tinggalkan memastikan dalam menyebut kekekalan dan menginginkannya. Yang dimaksud "menyebut" adalah ingatnya hati, yakni memantapkan menetapkan pada hati untuk meninggalkan perbuatan memastikan itu. coba kita pahami keterangan di atas, mudah-mudahan petunjuk (insyaAllah).

Angan-angan itu ada dua macam : angan-angan umum dan angan-angan khusus. angan-angan umum yaitu menginginkan hidup terus untuk mengumpulkan dunia dan bersenang-senang dengannya. ini adalah makshiyat yang murni, dan lawannya adalah pendeknya angan-angan.
Allah SWT telah berfirman yang artinya :
"Biarkanlah mereka itu makan dan bersenang-senang serta di sibukkan oleh angan-angan mereka, maka mereka bakal mengetahui akibat perbuatan mereka".
Sedangkan angan-angan khusus yaitu menginginkan terus hidup untuk menyempurnakan amal yang baik. angan-angan ini mengandung hal yang mngkhawatirkan, yakni sesuatu yang tidak diyakini kebaikannya. sebab, kadang-kadang seseorang dalam melakukan kebaikan atau menyempurnakannya itu tidak ada bagusnya, karena terjerumus ke dalam ujub atau riyaa atau afat lain, di mana kebaikan yang di lakukan tidak seimbang dengan afatnya. jadi kalau begitu, apabila seseorang mulai melakukan shalat, puasa atau lainnya, maka ia tidak memastikan bahwa ia bakal dapat menyemournakannya. sebab, kesempurnaan itu merupakan perkara yang samar. juga tidak boleh bermaksud menyempurnakannya dengan memastikan sebab boleh jadi hal itu tidak ada kebaikannya bagi orang tersebut, sebaiknya ia harus

Aqobatul ilmi wal makrifat

Aqabah ini selalu di lewati manusia agar dalam ibadahnya senantiasa waspada.
dalam menempuh aqabah ilmu ini yang mesti di lewati dengan baik adalah perenungan terhadap kesempurnaan pemikiran, belajar serta bertanya kepada seorang guru yang mengurusi tentang kepentingan hidup di akhirat yang menjadi penunjuk jalan, pelita dan penuntun umat.

Juga yang mengambil faedah dan meminta do'a yang baik dari guru akhirat, semoga mendapatkan kemudahan dan pertolongan Allah SWT untuk bisa melampaui aqabah ilmu, amin.

Apabila aqabah ilmu telah terlewati, maka kita akan memperoleh ilmul-yaqien terhadap keadaan yang samar, yakni bahwa kita mempunyai Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan yang tidak satupun menyekutui-NYA. Tuhan itulah yang menciptakan dirinya agar bersyukur, memerintahkan supaya melayani dan tha'at kepada-NYA, dengan anggota tubuh luar dan anggota batin. Tuhan memperingatkan kita agar jangan sampai kufur dan berbuat makshiyat. Tuhan menetapkan ganjaran yang langgeng, jika kita mau tha'at dan menetapkan siksa bila hamba itu bermakhsiyat dan berpaling dari-NYA.

Selanjutnya, pengetahuan dan keyakinan terhadap keadaan samar itu mendorong kita untuk bertindak melayani dan menghadap ibadah kepada Majikan Agung yang memberikan kenikmatan yang selalu di cari.
Akhirnya, seorang hamba dapat menemukan dan mengenal Tuhannya, setelah sebelumnya adalah seorang yang bodoh dan tidak mengetahui.

Mahabbatullah diatas segala mahabbah

Bismillahi Ar Rahmaani Ar Rahiimi..

Cinta kepada Allah SWT merupakan cinta yang paling luhur dan mampu mendatangkan puncak kebahagiaan dan kedamaian spiritual (hati). cinta kepada Allah SWT semestinya menjadi pijakan semua tindakan seorang mukmin. ia merupakan kekuatan yang bisa mengarahkan perilaku manusia ke arah kebaikan. ketika cinta kepada Allah SWT melekat dalam jiwa manusia, maka semua perbuatannyaakan tunduk dalam rangka taat kepada Allah SWT. ia akan melakukan perbuatan yang dicintai dan di ridhai-Nya, menjauhi perbuatan maksiat dan setiap perbuatan yang dibenci dan dilarang oleh Allah SWT.

Manusia biasanya cinta kepada orang yang berbuat baik kepadanya. karena itu cinta seorang anak kepada orang tuanya disebabkan karena pemeliharaan, pembelaan, kasih sayang, dan pendidikan yang telah diberikan orang tua kepadanya. jika kita merenungkan nikmat-nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepada kita, kita tidak akan mampu menghitungnya. Allah SWT telah menciptakan kita dalam bentuk yang paling baik, lebih memuliakan kita daripada makhluk-makhluk-Nya, menundukkan alam bagi kita, menjadikan kita sebagai khalifah dimuka bumi, mengutus para Nabi dan Rasul sepanjang masa untuk menyelamatkan kita dari kesesatan, menunjuki kita ke jalan yang benar, dan memberikan kita pedoman hidup yang lurus agar kita hidup bahagia dunia dan akhirat kelak.

Oleh karena itu, sudah selayaknya manusia menjadikan cinta cinta kepada Allah SWT lebih besar daripada cintanya kepada yang lain. Allah SWT berfirman:
"Katakanlah jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya, dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya, dan Allah tidak mendatangkan petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (QS 9:24)

Rasulullah SAW pun menganjurkan manusia untuk mencintai Allah SWT atas nikmat-nikmat-Nya yang berlimpah. beliau bersabda: "Cintailah Allah karena DIA telah memberimu makanan dari nikmat-nikmat-Nya." walaupun Rasulullah SAW adalah orang yang paling mencintai Allah SWT dan paling dekat dengan-Nya, tetapi beliau selalu memohon kepada Allah SWT untuk diberu anugerah berupa cinta kepada-Nya, karena dalam cinta ini beliau mendapatkan kepuasan ruhani paling tinggi yang tidak ada bandingannya. Rasulullah SAW pernah berucap dalam doanya: "Ya Allah, berilah aku rezeki berupa cinta-Mu kepadaku dan cintanya orang-orang yang Engkau cintai."

Allah SWT juga menyuruh Rasulullah SAW berdoa dengan doa ini: "Ya Allah, aku memohon cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan mencintai amal yang dapat mendekatkan diriku kepada cinta-Mu."

Sunday, December 4, 2011

Madah dan Do'a (Estetika Sufistik)

Manusia adalah makhluk tidak berdaya da hadapan alam semesta dan prahara kehidupan di dalamnya. ia akan mampu mengatasi dan menemukan kekuatannya hanya dalam iman dan keterpeliharaan eksistensinya dari hal-hal yang bertentangan dengan undang-undang Allah Ta'ala. manusia tidak mungkin menghindar dari kebutuhannya terhadap Allah Ta'ala. media yang paling tepat untuk sampai kepada-Nya adalah do'a, karena do'a merupakan ekspresi manusia untuk mengungkapkan kata-kata dan mengadukan segala kerisauan hati kepada Penciptanya.

Oleh karena itu, madah dan do'a (Al-Ibtihal) merupakan satu pondasi yang kokoh, tempat bernaung, dan berlindung bagi orang mukmin dari hempasan badai. tema-tema yang disampaikan dalam madah dan do'a di dalam kesusastraan Arab sangat beragam semenjak turunnya AlQur-an; dalam berbagai ayat Al-Dzikir Al-Hakim banyak ditemukan madah dan do'a yang diekspresikan dari perasaan terdalam seperti terdapat di dalam hadits-hadits Nabi. apa yang dimetaforkan dalam estetika sakral itu, merupakan metafora agung dari hadits Nabi SAW yang ditransmisikan oleh orang-orang ikhlas dalam bentuk puisi maupun prosa.

Dalam kitab-kitab klasik termaktub tema-tema madah dari para pendahulu, baik dari golongan sahabat maupun tabiin. diantara mereka adalah Imam Ali Ibn Abi Thalib, Ali Zainal Abidin, Rabi'ah Al-Adawiyah, Abi Hayyan, Al-Tauhidi, Ibn Al-Faridl, AL-Bira'i, Abu Hasan Al-Syadzili, dan Musthafa Al-Bakri. Ibarat air jernih, kitab-kitab klasik tersebut telah menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah kering untuk direguk oleh pelaku madah sampai saat ini. mereka mempublikasikannya melalui berbagai media radio dan televisi. dan kita pun, pada saat ini memiliki peluang besar menjadi orang-orang ikhlas, dengan menjaga media-media yang ada, mengarahkannya untuk kepentingan kemaslahatan dan memeliharanya dari kekeliruan, bukan dengan menilainya sebagi sesuatu yang negatif dan menghancurkan.

Kritik bagi pelaku madah dan do'a.
Materi acara televisi dan radio, dipandang bagus jika mampu membuat acara beragam. di satu sisi media harus mampu menyediakan ruang waktu untuk mengekspresikan madah dan do'a sebagai sebuah estetika, namun disisi lain ruang dan waktu untuk membacakan ayat-ayat suci AlQur-an harus mendapat porsi yang seimbang. materi acara seperti ini, patut diacungi jempol dan dipertahankan karena akan bermanfaat bagi bertmbahnya intensitas kekuatan spiritual dalam kehidupan masyrakat saat ini. bahkan acara-acara tersebut harus diberikan durasi waktu di sela-sela padatnya jadwal lain. namun yang terjadi, mereka lebih suka men-sejajarkan madah dan do'a religius serta acara lainnya dengan kandungan siaran AlQur-an Al-Karim.

Banyak orang berpendapat, kebanyakan para pendendang madah dan do'a tidak berpatokan pada pengucapan yang benar dan kehati-hatian, seringkali mereka mengulang beberapa bait puisi terlebih dahulu, kemudian disusul dengan struktur kata-kata yang tidak perlu dan melompat-lompat, sehingga makna yang terkandung di dalam teks menjadi kabur dn sulit dipahami. mereka tidak memahami, bahkan keterkaitan bit akan sangat berpengaruh kepada makna, sehingga bila dikutip secara serampangan akan menyebabkan pembiasan arti teks aslinya bahkan hilang. ini terjadi disebabkan pemilihan mereka terhadap teks yang lemah strukturnya, mereka mengutipnya hanya untuk dijadikan justifikasi pemikiran sesuka hati.

Thursday, November 17, 2011

Kisah Ganjil Seputar Rabi'ah Al Adawiyah

Dalam buku Shofwah Al Shofwah, Ibnu Al Jawzi meriwayatkan melalui sanad yang sampai kepada pelayan Rabi'ah Al Adawiyah, Abidah binti Syawil. Ia berkata :"Rabi'ah bercerita tentang tuannya pada masa akhir hayatnya:

"Rabi'ah Al Adawiyah adalah sosok wanita yang menghabiskan malamnya dengan Qiyamul Lail (shalat). sewaktu fajar menyemburat diufuk timur, beliau masih tertidur lelap di atas sajadahnya. dan ketika fajar menyingsing beliau terbangun tergagap-gagap sambil berdo'a, "Wahai nafsu, berapa lama engkau tertidur dan sampai kapan engkau tetap tertidur? kuingatkan kepadamu, bahwa tidurmu sesaat saja hanyalah menopang penyesalan di hari manusia dikumpulkan." beliau selalu mengulang do'a itu setiap terbangun dari tidur sampai maut menjemputnya.

Ketika kematian telah menghampiri, beliau memanggil saya dan berpesan, "Jangan biarkan seorangpun menodai mayatku. kafanilah aku dengan jubah yang kukenakan ini". dan beliau pun menutuo mata untuk selamanya.

Abidah melanjutkan, "Ketika beliau sudah meninggal, saya mengkafaninya dengan jubah yang dipesankan. dengan jubah itulah beliau menemui Allah Ta'ala."

Ungkapan "Wahai nafsu, berapa lama engkau tertidur dan sampai kapan engkau akan tetap tertidur? aku peringatkan padamu bahwa bahwa tidurmu sesaat saja hanyalah menopang penyesalan di hari manusia dikumpulkan." mengekspresikan perasaan sufistik yang sangat jarang terjadi dan terkesan ganjil. beliau menghabiskan waktu malamnya untuk terus beribadah, dan mencerca keterlambatan bangunnya di waktu fajar. beliau merasa kehilangan kesempatan bermunajat kepada Allah Ta'ala di waktu sahur dimana orang-orang sedang tidur mengistirahatkan badan. kita melihat ratapan puitisnya yang bermuatan do'a penyesalan, dan semua itu bertolak dari persaan-perasaan sufistiknya.

Friday, October 28, 2011

Imam Al-Ghazaliy: Tentang Hakikat Kemuliaan Akal

Mungkin telah banyak kita ketahui tentang akal, dan perlu kita tahu bahwa pembahasan kali ini bukanlah bermaksud untuk mempersulit kejelasan tentang akal itu sendiri.

Akal adalah tempat bersandar-nya ilmu yang pertama kali sebelum ilmu itu masuk ke hati seseorang dan ter-patri disana, tempat terbit dan sendi dari ilmu. bagaimana bisa akal itu tidak mulia sedangkan ia adalah jalan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. sedangkan hewan dalam kepicikan tamyis-nya (sifat hewan dalam membedakan sesuatu) merasa kecut terhadap akal. sehingga seekor hewan yang bertubuh besar sekalipun, yang punya keberanian luar biasa dan bertenaga kuat, apabila melihat manusia lalu merasa kecut (ciut) dan takut karena dirasakan-nya manusia itu akan menggagahinya, karena keistimewaannya manusia, memperoleh hela dan daya upaya.

Dari itu, Nabi Muhammad SAW bersabda: "Seorang Syeikh (kepala) pada kaumnya adalah seperti Nabi pada umatnya." bukan karena Syeikh itu banyak hartanya, besar tubuhnya dan lebih kekuatannya, tetapi karena pengelamannya yang lebih sebagai hasil dari akalnya. oleh karena itu pula, ketika kebanyakan orang yang ingkar akan membunuh Rasulullah SAW, maka tatkala pandangan mereka jatuh pada Nabi SAW dan gemetar dengan sinar wajah beliau yang mulia, lalu timbullah ketakutan dihati mereka. kelihatan kepada mereka suatu yang bersinar gilang gemilang atas keelokan wajah beliau dari Nur keNabian. meskipun itu adalah suatu kebatinan dalam diri Rasulullah SAW sebagaimana kebatinan akalnya.

Kemuliaan akal dapat diketahui dengan mudah. hanya maksud kami disini hendak membentangkan hadits-hadits dan ayat-ayat yang menyebutkan kemuliaan akal tersebut.

Allah Ta'ala menamakan akal itu dengan "nur" dalam firman-Nya: "Allah Ta'ala pemberi nur bagi langit dan bumi. bandingan nur-Nya adalah seperti satu kurungan pelita yang didalamnya ada pelita..." (S. An Nur, ayat 35).

Dan Allah Ta'ala menamakan ilmu yang diperoleh dari akal itu dengan sebutan ruh, wahyu dan hidup. Berfirman Allah Ta'ala: "Begitulah Kami wahyukan kepada engkau ruh itu dengan perintah Kami." (S. Asy Syura, ayat 52).
"Apakah orang-orang yang sudah mati, kemudian Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, dengan itu dia dapat berjalan ditengah-tengah manusia." (S. Al An'am, ayat 122).

Kalau Al-Qur-an menyebutkan An-Nur (cahaya) dan Adh-Dhulmah (gelap) maka maksudnya adalah ilmu pengetahuan dan kebodohan, seperti firman-Nya: "Dikeluarkan mereka oleh Tuhan dari kegelapan (kebodohan)kepada nur-cahaya (ilmu pengetahuan)." (S. Al Baqarah, ayat 257). dan bersabda Nabi Muhammad SAW: "Wahai manusia ! pakailah akal untuk mengenal Tuhanmu, nasehat-nasehatilah dengan menggunakan akal, niscaya kamu ketahui apa yang diperintahkan kepadamu dan apa yang dilarang! ketahuilah bahwa akal itu menolong kamu untuk mengenal Tuhanmu! ketahuilah bahwa orang yang berakal itu orang yang menta'ati Allah Ta'ala, meskipun mukanya tidak cantik, dirinya hina, kedudukannya rendah dan bentuknya buruk. dan orang yang bodoh ialah orang yang mendurhakai Allah Ta'ala, meskipun mukanya cantik, dia orang besar, kedudukannya mulia, bentuknya bagus, lancar dan pandai berbicara. beruk dan khinzir lebih lebih berakal disisi Allah Ta'ala dari pada orang yang mendurhakai-Nya. engkau jangan tertipu dengan pernghormatan penduduk dunia kepadamu, sebab merek termasuk orang yang merugi."

Bersabda Rasulullah SAW: "Yang pertama dijadikan Allah Ta'ala ialah akal, maka berfirman Allah Ta'ala kepadanya: Menghadaplah! lalu menghadaplah ia. kemudian Allah Ta'ala berfirman: Membelakanglah!lalu membelakanglah ia. Kemudian Allah Ta'ala berfirman: Demi kemuliaan-Ku dan demi Kebesaran-Ku! Tidak aku jadikan suatu makhluk pun yang lebih mulia disisiKu selin engkau. dengn engkau Aku mengambil, dengan engkau Aku memberi, dengan engkau Aku memberi pahala, dan dengan engkau Aku memberi siksaan."

Andai kita bertanya, jika akal itu adalah sifat, maka bagaimanakah ia dijadikan sebelum tubuh dan jika ia zat, maka bagaimanakah zat itu berdiri sendiri dan tidak berpihak.?

Perlu kita tahu bahwa ini adalah sebagian dari ilmu mukasyafah, maka tidaklah layak diterangkan dengan ilmu mu'amalah. sedangkan maksud kami diatas adalah menerangkan akal dari segi ilmu mu'amalah.

Wednesday, October 26, 2011

Fatwa-fatwa para sufi

Fatwa Syaikh Hasan Basari RA
1. Seandainya tidak ada Wali Abdal niscaya bumi beserta isinya akan runtuh, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Wali Abdal itu berjumlah 40 orang laki-laki, 22 berada di negeri Syam, dan 18 orang berada di nagara Iraq, disaat salah satu dari mereka meninggal maka Allah Ta'ala memberikan penggantinya ketika datang suatu perintah Allah Ta'ala, maka mereka semua dimatikan, disaat itu datanglah hari Qiamat."
2. Seandainya tidak ada orang-orang shaleh niscaya orang-orang yang berbuat kemaksiatan akan celaka. Maka muliakanlah orang-orang yang shaleh, kapanpun dan dimanapun meraka berada.
3. Seandainya tidak ada Ulama' niscaya seluruh manusia akan berbuat (bertingkah) seperti binatang.
4. Seandainya tidak ada penguasa, niscaya sebagian rakyat akan merusak sebagian rakyat yang lain.
5. Seandainya tidak ada agin, niscaya segala sesuatu di bumi ini akan berbau busuk.

Fatwa Shahabat Ali Karamallahu waj-hah
Shahabat Ali Karamallahu waj-hah bersabda:
"Agama dan dunia tidak akan henti-hentinya berdiri tegak selama 4 perbuatan masih dijalankan, yaitu:
1. Selama orang tua tidak bakhil.
2. Selama para Ulama' mau mengamalkan ilmunya.
3. Selama orang-orang bodoh tidak takabur dari perkara yang tidak mereka ketahui.
4. Selama orang faqir tidak menjual akhiratnya (tidak meninggalkan agamanya untuk mencari dunia)."

Fatwa Syaikh Muhammad Bin Ahmad RA tentang Nabi Yahya AS
Muhammad Bin Ahmad RA mejelaskan firman Allah Ta'ala yang berbunyi:
"Menjadi pemimpin, orang yang banyak menahan diri, menjadi Nabi dari keturunan orang-orang shaleh."
Kemudian Syaikh Muhammad berkata:
Allah Ta'ala menyebut Nabi Yahya AS dengan nama Saiyid sedangkan ia adalah hamba Allah Ta'ala karena Nabi Yahya AS telah mampu mengalahkan empat perkara, yaitu:
1. Mampu mengalahkan hawa nafsunya.
2. Mampu mengalahkan iblis.
3. Mampu mengalahkan lisannya.
4. Mampu mengalahkan kemarahannya.

Fatwa Syaikh Ahnaf Bin Qais RA
Beliau berkata:
1. Tidak ada ketenangan bagi orang-orang yang hasud.
Sebagaimana fatwa Abdul Mu'thi As Salawya dari gurunya yang bernama Al Badar RA, yaitu bahwa orang yang hasud akan tertimapa lima kerusakan;
- Hina.
- Kesedihan yang berkepanjangan.
- Tidak mendapatkan pintu taufik.
- Mendapatkan musibah yang berkepanjangan yang tidak ada pahalanya.
- Mendapatkan siksa yang amat berat dari Allah Ta'ala.
Demikian juga Ali AL Mawardi berkata:
"Hakikat hasud ialah merasakan kesedihan yang amat sangat, sedangkan hakikat Al Munafasah ialah ingin memiliki keutamaan yang dimiliki orang lain."

2. Tidak mempunyai muru'ah (harga diri) bagi pembohong. Muru'ah ialah selalu menjaga sopan santun, perilaku baik sehingga tidak nampak kejelekan yang disengaja dan tidak berbuat kesalahan yang tercela.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Barangsiapa bergaul dengan orang lain tanpa pernah mendzalimi mereka, bercerita kepada mereka tanpa membohongi mereka, berjanji kepad mereka tanpa pernah mengingkari maka ia tergolong orang yang sempurna muru'ahnya, jelas sifat keadilannya. sedangkan menjalin tali persaudaraan dengannya adalah suatu kewajiban."

3. Tidak ada rekayasa bagi orang yang bakhil.
Sedangkan batasan orang dermawan ialah menyerahkan sesuatu yang masih dibutuhkan ketika ada hajat dan mendatangkan kepada orang yng berhak menerimanya sekira ia mampu, maka orang yang berada pada batasan tersebut dinamakan karim (orang yang dermawan) sekaligus patut untuk dipuji. sedangkan orang yang tidak sampai pada batasan tersebut dinamakan bakhil sekaligus berhak untuk dicela.

4. Tidak ada keinginan untuk memenuhi janjinya bagi para penguasa, karena mereka tidak memliki rasa malu dan takut terhadap rakyat.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Ada dua golongan dari umatku jika mereka baik maka umat akan baik, yaitu pemerintah dan Ulama'."

5. Tidak ada kehormatan bagi orang yang berakhlak buruk, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Akhlak yang buruk adalah suatu kejelekan sedangkan sejelek-jeleknya kalian adalah orang yang paling buruk akhlaknya."
"Sesungguhnya akhlak yang buruk dapat merusak amal sebagaimana cuka yang dapat menghilangkan manisnya madu."


6. Tidak ada yang mampu menghindar dari takdir Allah Ta'ala.

Friday, October 21, 2011

Mengenal Lebih Dekat Tentang 4 Macam Rizki

Akan semakin kuat rasa Tawakkal kita dengan mengetahui macam-macam rizki, dan perlu kita tahu bahwa rizki itu ada empat macam, yaitu:
1. Rizki Madlmun
2. Rizki Maqsum
3. Rizki Mamluk
4. Rizki Mau'ud


Rizki Madlmun
Yaitu rizki yang dipergunakan untuk penguat dan apa yang menyebabkan tubuh bisa bergerak, tanpa sebab-sebab lain. tanggungan Allah Ta'ala adalah untuk rizki semacam ini. orang wajib tawakkal menghadapi madlmun ini, berdasarkan dalil akal dan dalil syara'. karena, Allah ta'ala membebani kita supaya berkhidmat dab tha'at kepada Allah Ta'ala, dengan mempergunakan badan kita. jadi, Allah Ta'ala pasti menanggung apa yang bisa mencegah kerusakan badan, agar kita dapat melakukan apa yang dibebankan Allah Ta'ala kepada kita.

Sebagian Ulama madzhab Kiramiyah berkata dengan perkataan yang bagus menurut asalnya, "Menanggung rizki para hamba itu wajib, pada kebijaksanaan Allah Ta'ala, karena tiga hal, yaitu:
1. Allah Ta'ala itu sayid (Majikan/Tuan), sedangkan kita semua adalah budak. majikan tentu mencukupi makanan budak, seperti halnya budak wajib melayani majikannya.

2. Allah Ta'ala menciptakan para hamba, sedangkan para hamba membutuhkan rizki dan Allah Ta'ala tidak menjadikan jalan bagi mereka untuk mencari rizki (karena para hamba tidak mengetahui apa rizki mereka, dimana tempatnya, dan kapan datangnya), agar mereka mecari rizki itu sendiri di tempatnya dan dalam waktunya, agar mereka datang kepada rizki itu. jadi, Allah Ta'ala pasti mencukupi para hamba-Nya dalam masalah rizki dan Allah Ta'ala tentu mendatangkan para hamba itu kepada rizki mereka.

3. Allah Ta'ala itu membebani para hamba supaya berkhidmat, sedangkan orang yang mencari rizki adalah orang yang sibuk meninggalkan khidmat. jadi, Allah Ta'ala pasti mencukupi ongkos-ongkos hidup, supaya para hamba tekun berkhidmat kepada Allah T'ala".

Ini adalah ucapan orang yang tidak mengerti rahasia keTuhanan Allah Ta'ala. orang yang berkata bahwa Allah Ta'ala wajib memberikan rizki, adalah orang bingung. Guru Besar Imam Ghazali sudah menjelaskan kesalahan omongan atau iktikat semacam itu dalam ilmu kalam.

Rizki Maqsum
Yaitu rizki yang dibagikan oleh Allah Ta'ala dan ditetapkan oleh-Nya di Lauhil Mahfudh : apa yang dimakan hamba, apa yang diminum dan apa yang dipakai, masing-masing telah ditentukan Allah Ta'ala dengan ketetapan tertentu dan waktu yang tertentu pula, tidak lebih dan tidak kurang, tidak maju dan tidak pula mundur dari ketentuan menurut kenyataannya, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW:
"Rizki itu telah dibagi, lagi pula telah dibereskan. ketakwaan orang yang takwa tidak bisa menambah rizkinya dan kedurhakaan orang yang durhaka tidak akan mngurangi rizkiya".

Rizki mamluk
Yaitu rizki yang dimiliki oleh setiap hamba, yakni harta di dunia yang dimiliki menurut apa yang ditentukan Allah Ta'ala dan dibagikan Allah Ta'ala untuk dimiliki oleh hamba. itu adalah termasuk rizki Allah Ta'ala.
Allah Ta'ala berfirman:
"Nafkahkanlah sebagian rizki yang telah kami berikan kepada kalian" --artinya: rizki yang diberikan Allah Ta'ala sebagai milik kalian.

Rizki Mau'ud
Yaitu rizki yang dijanjikan Allah Ta'ala kepada hamba-Nya yang bertakwa, sengan syarat takwa, rizki yang halal tanpa kesukaran.
Allah Ta'ala berfirman:
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah Ta'ala, maka Allah Ta'ala pasati menjadikannya bisa bebas dari kesusahan serta kesulitan. dan Allah Ta'ala bakal memberikan rizki kepadanya rizki yang datangnya tanpa disangka-sangka".

Sampai disini dulu keterangan mengenai macam-macam rizki dan penjelasannya, kewajiban tawakkal hanyalah pada urusan rizki madlmun. mari kita pahami baik-baik keterangan diatas sebelum kita membahas tentang "Batasan-batasan Tawakkal" yang (Insya Allah) akan saya tulis dalam artikel berikutnya. Semoga Rahmat Allah Ta'ala selalu mengiringi kita.

Saturday, October 8, 2011

Syeikh Abul Hasan Asy Syadzili : Tentang "Siksaan"


Siksaan itu terdiri dari empat macam :
1. Siksaan melalui adzab.
2. Siksaan melalui hijab.
3. Siksaan melalui pengekangan
, dan
4. Siksaan melalui kerusakan, yaitu kerusakan rahasia batin dalam meraih tujuan.

Siksaan adzab, muncul dari arah pelanggaran hal-hal yang dilarang oleh Allah Ta'ala.

Siksaan hijab, muncul bagi ahli tha'at, yaitu bentuk siksaan yang muncul karena etika ketaatan yang buruk.
Banyak manusia yang masih tidak mempedulikan etika beribadah yang sopan, tidak disiplin dalam beribadah, tidak disiplin dalam bersuci, dan yang lebih parahnya lagi mash banyak manusia yang menghadap Allah Ta'ala dengan pakaian yang tak sopan. sadarlah bahwa itu juga merupakan siksaan bagi ahli ta'at.

Siksa pengekangan, muncul dari arah keteguhan (yang berguncang). kesadaran akan posisi kita sebagai hamba adalah salah satu penyebabnya, dari kurangnya kesadaran itu akan muncul niat yang kurang kuat (sungguh-sungguh), dari niat yang masih lemah itulah goyahnya hati akan mudah terjadi.

Siksa kerusakan, muncul dari arah memburu ketergesaan dan kegelisahanm yang kemudian (terkadang) mempengeruhi seseorang hingga merusak rahasia batin. di masa sekarang, sering kali suasana hati masih di dominasi oleh perasaan terhadap sesama manusia yang kemudian bisa meredupkan rasa cinta kita terhadap Allah Ta'ala.

Janganlah engkau tertutupi oleh kelebihan dari Yang Maha Memberi kelebiihan. aku bertanya, "Ya Tuhan, bagaimana ini.?" DIA menjawab, "Ketahuilah, sesungguhnya wujudmu telah mendahului ilmumu, dan syukur adalah ilmumu". sedangkan wujudmu mendahului apa yang tampak, merupakan anugerah kelebihan-Nya kepadamu. apabila engkau merasa lebih, berarti engkau tertutupi (ter-hijab) kelebihan dari Yang Maha Memberi kelebihan. namun jika engkau berada di sisi-Nya dan bersama-Nya, maka tak ad ayang mendahului maupun didahului.

Dan jika engkau sebagai penyaksi yang muncul dari wujudmu kepada wujud-Nya, berarti engkau tertutup oleh pengetahuan.
Janganlah doamu (yang membuat hajatmu/kebutuhanmu tercapai) menjadikan kegembiraanmu tanpa gembira terhadap munajat kepada Kekasihmu (Allah Ta'ala), sehingga menyebabkan engkau termasuk orang-orang yang terhalangi (ter-hijab).

Thursday, August 18, 2011

Anekdot Al-Junaid


Abul Qasim Al-Junaid bin Muhammad wafat tahun 297 H / 910 M. Beliau adalah pemuka thariqat kaum sufi. Berasal dari Nahawand, namun lahir dan tumbuh besar di irak. Beliau dikenal sebagai seorang faqih dalam bidang mazhab Abu Tsaur, dan berfatwa di halaqahnya ketika usianya baru 20 tahun. Berguru kepada pamannya sendiri, As-Sary, Al-Harits Al-Muhasiby, serta Muhammad bin Ali Al-Qashshab.
Berikut adalah diantara ucapan beliau:
“Bila seseorang benar-benar menghadap Allah SWT selama sejuta tahun, lantas sejenak ia berpaling dari-Nya, segal sesuatu yang telah hilang sejenak itu nilainya lebih banyak daripada yang telah diperolehnya (selama sejuta tahun)”
“Taubat itu mempunyai tiga makna, pertama menyesali kesalahan, kedua berketetapan hati untuk tidak kembali pada dosa, ketiga membela orang-orang yang teraniaya.”

TIPU MUSLIHAT IBLIS.
Al-Junaid mengisahkan, “Suatu hari, aku berhasrat untuk melihat iblis. Aku berdiri di depan pintu Masjid dan melihat seorang lelaki tua mendekat dari kejauhan. Saat aku memandangnya, kengerian memasuki diriku.
‘Siapakah anda?’ tanyaku.
‘Yang ingin engkau temui.’ jawabnya.
‘Sang terkutuk.’ Pekikku.
‘Apa yang membuatmu tidak mau sujud kepda Adam?’
Ia menjawab, ‘Bagaimana menurutmu Junaid, apakah ak harus menyembah selain-Nya?.’
Al-Junaid mengatakan bahwa ia merasa bingung setelah mendengar perkataan iblis itu. Kemudian beliau berkata, ‘Sebuah suara berkata kepadaku dari dalam relung hatiku. Katakanlah (kepada iblis), engkau pembohong..!!! jika engkau benar-benar hamba Allah Ta’ala yang sejati, engkau pasti menuruti perintah-Nya. Engkau tidak akan pernah mengabaikan perintah itu dan bermain dengan penyangkalan.’ Saat iblis mendengar kata-kata itu, ia pun memekik dengan keras, ‘Demi Allah, Junaid. Engkau telah menghancurkanku.” Kemudian iblis itu pun lenyap.

BELAJAR YAKIN.
“Aku belajar keyakinan yang tulus dari seorang pemangkas rambut.” Kenang Al-Junaid, dan ia pun mengisahkan cerita berikut ini.
Suatu hari, saat aku berada di Makkah, seorang pemangkas sedang mencukur rambut seorang laki-laki terhormat.
Aku berkata padanya, “Demi Allah, dapatkah engkau memangkas rambutku?”
“Ya, tentu saja.” Katanya sambil bercucuran air mata, ia tidak menyelesaikan pekerjaannya terhadap lelaki terhormat itu.
“Berdirilah.” Katanya. “Saat nama Allah diucapkan yang lain harus menunggu.”
Ia pun mendudukkanku, mencium kepalaku, dan mencukur rambutku. Lalu ia memberikanku sebuah bungkusan kertas yang berisi sejumlah koin kecil.
“Belanjakanlah uang ini untuk keperluanmu.” Katanya.
Aku pun berketetapan hati untuk memberikan padanya hadiah pertama yang kuterima. Tidak berapa lama, aku dihadiahi sekantong emas dari Bashrah. Aku membawa emas itu kepada tukang cukur.
“Apa ini?” ia bertanya.
Aku menjelaskan, “aku telah berketetapan hati, bahwa hadiah pertama yang aku terima, akan aku berikan kepadamu. Aku baru saja mendapatkan ini.”
"Saudaraku," tukasnya.
"Tidakkah engkau malu kepada Allah SWT? engkau berkata kepadaku, -Demi Allah pangkaslah rambutku- lalu engkau memberiku hadiah. apa engkau pernah mendengar ada seorang melakukan sesuatu karena Allah Ta'ala lalu meminta bayaran?".

SAUDARA SEJATI.
"Zaman sekarang ini, saudara seiman semakin sulit untuk ditemui." kata seorang lelaki di hadapan Junaid.
Junaid berkata, "Jika engkau mencari seseorang untuk menanggung bebanmu, memang orang seperti itu jarang dan sulit sekali untuk ditemukan. namun jika engkau mencari seseorang untuk engkau pikul bebannya, orang seperti itu banyak dan dapat engkau jumpai bersamaku."

KE-ESA-AN ILAHI.
Kapan pun Junaid berbicara tentang ke-Esa-an Ilahi, tiap kali ia memulai dengan ungkapan yang berbeda yang tak dapat dimengerti oleh seorang pun.
Suatu hari, Syibli berada di majelis Junaid dan mengucapkan kata 'Allah'.
Junaid berkata, "Jika Tuhan tidak hadir, menyebut 'Yang tidak hadir' adalah tanda ketidak hadiran (maksudnya, ketidak hadiran Tuhan di hati), dan ketidak hadiran adalah suatu hal yang terlarang. Jika Tuhan hadir, maka menyebut nama-Nya saat membayangkan-Nya hadir (maksudnya, saat Tuhan hadir di hati) adalah tanda ketidak sopanan."

SAKSI BAJU SENDIRI.
Suatu malam, seorang pencuri memasuki kamar Junaid. setelah melihat bahwa tidak ada apa-apa di dalam kamar itu kecuali sehelai pakaian, pencuri itu pun mengambil pakaian itu lalu pergi.
Keesokan harinya, Junaid melewati pasar dan melihat pakaiannya ada di tangan seorang pedagang yang sedang menawarkannya pada seorang laki-laki.
"Sebelum membelinya, aku ingin engkau menghadirkan seseorang untuk bersaksi bahwa pakaian ini memang benar-benar melikmu." kata si calon pembeli.
Junaid pun mendekat dan berkata, "Aku siap untuk bersaksi bahwa pakaian ini memang benar-benar miliknya."
Akhirnya laki-laki itu pun membeli pakaian tersebut.

Saturday, June 4, 2011

Gus Dur : Tentang tasawuf dan Wihdatul Wujud (Manunggaling kawula lan Gusti)


Di dalam sebuah buku, Alwi Shihab pernah memaparkan bahwa penyebaran Islam di Negeri ini dilakukan antara lain oleh kaum Ulama pesantren. Mereka ini menggunakan tasawuf suni sebagai pegangan dalam penyebaran agama Islam, semenjak beberapa abad yang lalu. Dengan tasawuf tersebut, mereka melawan padangan kaum kebatinan, yang dalam budaya jawa dikenal dengan nama kejawen. Bukti sejarah atas penentangan mereka itu adalah kisah Syeikh Siti Jenar (Syeikh Lemah Abang) sebagai orang yang menyimpang dari tasawuf suni di atas, dan karena itu beliau di hukum mati oleh para Wali Sanga (Wali Sembilan). Mereka yang mengikuti pandangan itu, pada akhirnya mengembangkan paham kebatinan/kejawen di negeri kita.

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menolak anggapan ini (karena memang legenda hukuman mati atas tokoh tersebut dapat ditafsirkan dari sudut pandang yang berbeda-beda), Gus Dur mempunyai anggapan lain, yang tentu merupakan penafsiran beliau sendiri atas “kejadian” tersebut. Dengan mengetahui perbedaan pandangan itu, Gus Dur yakin kekayaan akan “Sejarah Pemikiran” di negeri ini semakin berkembang.

Gus Dur melihat kejadian itu dari sudut pandang yang berbeda. Jika Alwi Shihab menganggap para Ulama di negeri ini menentang kebatinan, berarti para Ulama itu juga menentang salah satu bentuk Wihdatul Wujud (Pantheisme, manungaling kawula lan Gusti), maka Gus Dur memiliki anggapan lain. Dalam pandangan Gus Dur, hukuman mati yang dijatuhkan para Wali Sanga atas Syeikh Siti Jenar, bukanlah karena beliau berpaham Wihdatul Wujud melainkan karena sebab lain. yaitu karena Beliau mengajarkan paham itu kepada orang banyak (yang kebanyakan masih awam).

Dalam pandangan Gus Dur, “dosa” Syeikh Siti Jenar bukan terletak pada penerimaan beliau pada Wihdatul Wujud, melainkan “Sikap gegabah beliau dalam mengajarkan paham tersebut di kalangan orang banyak (yang banyak diantara mereka masih awam)”. Karena itulah, kaum penganjur tarekat (dikenal di sini sebagai kaum tasawuf, sufi) selalu menekankan pentingnya menjalankan syari’at sebelum ber-tasawuf.

Pandangan semacam ini dikenal di kalangan NU (Nahdlatul Ulama) dan kaum tradisionalis lain dengan ungkapan “Man yatakhaqq' wa lam yatasyarra’ fahuwa zindiqum (orang yang berpandangan hakikat dan tidak menjalankan syari’at, adalah orang yang sesat). Kesimpulan dari pandangan ini adalah anggapan para Ulama tradisionalis kita yang tidak menolak Wihdatul Wujud-nya Ibnu ‘Arabi, melainkan melarang penyebarannya di kalangan masyarakat yang masih awam.

Dari kesimpulan tersebut, Gus Dur beranggapan Ulama’ tradisionalis kita banyak yang mengambil ajaran Wihdatul Wujud bagi diri mereka sendiri, karena mereka sudah menguasai syari’at, yang dalam hal ini berbentuk fiqih (Hukum Islam). Dengan kata lain, mereka menolak penyebaran Wihdatul Wujud tersebut di kalangan masyarakat awam, tetapi bagi kepentingan diri mereka sendiri, mereka juga menjalankan ajaran tersebut secara tertutup. Ajaran Wihdatul Wujud yang digunakan itu terutama adalah Wihdatul Syuhud (ajaran mengetahui sesuatu sebelum terjadi –dalam ajaran jawa dikenal dengan nama weruh sedurunge winarah-).

Dengan menggunakan pandangan ini, dapat dilihat bahwa kaum Ulama tradisionalis kita tidak menolak ajaran Wihdatul Wujud itu, melainkan dilarang penyebarannya secara gegabah. Jadi dengan demikian, antara kaum syara’ dan kaum kebatinan memang berbeda tetapi tidak bertentangan. Dengan kata lain pula, bahwa tidak ada pertentangan prinsipal antara kaum Wihdatul Wujud dan kaum syari’at yang menggunakan referensi fiqih. Ini semua, tentu membawa konsekuensi-konsekuensi bagi pengembangan tradisi demokratisasi di negeri kita.

Referensi : Buku "Gus Dur menjawab kegelisahan rakyat"

Sunday, May 29, 2011

Kita sering merasa yakin, tahukah apa itu "Yakin"?


Dan diantara tanda-tanda Ulama’ Akhirat itu ialah sangat bersungguh-sungguh menguatkan keyakinan. Karena keyakinan itu adalah modal Agama. Rasulullah SAW bersabda : “Keyakinan (Al-yaqin) itu adalah iman seluruhnya”.

Maka tidak boleh tidak mempelajari Ilmul Yaqin, yakni sebagian permulaan-permulaannya, kemudian terbukalah jalan bagi hatinya.

Dan karena itulah Rasulullah SAW bersabda : “Pelajarilah keyakinan!”, maksudnya adalah : duduklah bersama orang-orang yang berkeyakinan (Al-Muqinin) dan dengarlah dari mereka ilmul yaqin, biasakanlah mengikuti mereka, supaya kuatlah keyakinanmu, sebagaimana kuatnya keyakinan mereka.

Sedikit keyakinan itu masih lebih baik dari banyaknya amal. Nabi Muhammad SAW bersabda (tatkala dikatakan pada beliau) tentang orang yang baik yakinnya tetapi banyak dosanya dan orang rajin beribadah tetapi sedikit yakinnya, beliau bersabda : “Tak ada anak Adam melainkan mempunyai dosa. Tetapi orang yang berakal dan berkeyakinan, dosana tidaklah mendatangkan kemelaratan padanya. Karena, setiap ia melakukan dosa, ia akan bertaubat, meminta ampun dan menyesal. Maka tertutuplah (terhapuslah) seua dosanya dan tinggalah baginya keutamaan, dimana ia akan masuk surga dengan keutamaan itu”.

Dan jika kita bertanya : Apakah arti yakin itu? Dan apa maksud dari kuat atau lemahnya keyakinan?
Maka hendaklah kita terlebih dahulu memahami “keyakinan” itu, kemudian berusaha mencari dan mempelajarinya.
Perlu kita tahu, bahwa yakin itu suatu perkataan yang berserikat, dipakai oleh dua golongan untuk dua pengertian yang berlainan.
Adapun golongan pemerhati dan Ulama’ Ilmu Kalam memakai kata-kata yakin itu dari ketidak raguan (tidak syak). Karena, condongnya hati pada membenarkan sesuatu itu mempunyai empat tingkat, diantaranya adalah sebagai berikut :

Pertama : seimbang antara membenarkan dan mendustakan. Itulah yang dinamakan ragu (syak), misalnya apabila ditanyakan pada kita tentang seseorang, apakah orng itu disiksa atau tidak oleh Allah Ta’ala, sedangkan kita tidak mengetahui keadaan orang itu. Maka hati kita tidak condong untuk menetapkan ya atau tidak. Tapi kemungkinan dua hal itu ada pada diri kita secara bersamaan. Maka ini dinamakan “Syak” (ragu).

Kedua : condongnya jiwa kita terhadap salah satu dari dua hal tadi (membenarkan dan mendustakan), serta merasa adanya kemungkinan yang sebaliknya. Tetapi kemungkinan itu tidak mencegah kita untuk menguatkan syak (ragu). Misalnya apabila kita ditanya tentang seseorang yang terlihat (dalam kesehariannya) shaleh dan taqwa, bahwa orang itu jika meninggal dunia dalam keadaan yang demikian, adakah ia disiksa? Maka jiwa kita akan condong pada pendapat bahwa orang itu tidak akan disiksa. Yang demikian itu dikarenakan jelasnya tanda-tanda bahwa orang itu bertaqwa dan shaleh. Tetapi bisa saja dan mungkin ada sesuatu hal yang tersembunyi dalam batin atau rahasia pada orang itu (hanya orang itu dan Allah Ta’ala yang tahu) yang mengharuskan ia disiksa.
Kemungkinan tadi datang bersamaan dan seimbang dengan kecondongan hati kita, maka keadaan yang seperti ini dinamakan “Dhan”.

Ketiga : Condongnya hati kita untuk membenarkan sesuatu, dimana hati kita sangat kuat untuk membenarkan suatu hal dan tidak terguris oleh kecondongan hati yang lain. Jika pun terguris, kita enggan menerimanya.
Tetapi yang demikian itu tidaklah disertai dengan kuatnya pengetahuan. Karena jika seseorang yang berada dalam keadaan pada tingkat ini (ketiga) mempergunakan sebuah penelitian dengan sungguh-sungguh dan perhatian yang serius, maka maknanya akan meluas pada ke-boleh saja-an (at-tajwiz). Keadaan tingkat ketiga ini disebut “I’tiqad yang mendekati yakin”. Dan itu adalah I’tiqad orang awam tentang agama seluruhnya apabila I’tiqad itu telah terhujam pada diri seseorang dengan hanya semata-mata mendengar. Sehingga setiap golongan percaya bahwa alirannya (madzhab-nya) lah yang sah. Wallahu a’lam.

Keempat : Ma’rifat yang sebenarnya (ma’rifah haqiqiah), yang diperoleh dengan jalan dalil yang tidak diragukan dan tidak tergambar sebuah keraguan lagi dalam hati seseorang. Apabila tak ada lagi keraguan dan kemungkinan-kemungkinan seperti yang telah disebut diatas, maka disebutlah “yakin” (yang hanya dicapai oleh golongan pemerhati dan Ulama’ ilmu kalam).

Saturday, May 14, 2011

Dari Mujahadah ke Muraqabah, sampailah pada Musyahadah


Mujahadah : Berjihad menumpas hawa nafsu yang menghalangi jiwa untuk dekat kepada Allah Ta’ala.
Muraqabah : Memperhatikan gerak-gerik hati, jangan sampai terpengaruh dengan dunia dan hawa nafsu.
Musyahadah : Menyaksikan dengan jiwa akan kebesaran Allah Ta’ala dan alam ghaib yang penuh dengan keajaiban da kebesaran Allah Ta’ala.

Dan diantara tanda-tanda Ulama’ akhirat itu ialah banyak memperhatikan ilmu batin, dengan muraqabah hati, dengan mengenal jalan akhirat, cara menempuhnya, dan benar-benar berharap menyingkap hal yang demikian itu dengan mujahadah dan muraqabah.

Sesunguhnya mujahadah itu membawa kepada musyahadah dan ilmu hati yang halus-halus, dimana dengan ilmu-ilmu itu terpancarlah segala sumber hikmat dari hati.

Adapun kitab-kitab dan segala pengajaran, tidaklah mencukupi untuk kita mendekatkan diri pada Allah Ta’ala. Tetapi hikmat yang diluar hinggaan dan tak terhitung itu hanya terbuka dengan mujahadah, muraqabah, langsung mengerjakan amalan dzahir dan amalan batin dan duduk beserta Allah Ta’ala dalam sebuah khilwah (persemadian), serta menghadirkan hati (jiwa) dengan pikiran yang putih bersih, terputus dari yang lain dan langsung kepada Allah Ta’ala.
Itulah kunci ilham dan sumber kasyaf (terbukanya hijab).

Berapa banyak pelajar yang sudah lama belajar tetapi sanggup menangkap sepatah katapun dari apa yang didengarnya. Dan berapa banyak pelajar memilih yang penting-penting saja dalan pelajarannya, menyenpurnakan amal dan muraqabah hati, tapi dibukakan oleh Allah Ta’ala kepadanya ilmu-ilmu hikmat yang sangat halus, yang mengherankan akal orang-orang yang bermata hati.

Dan karena itulah Nabi Muhammad SAW bersabda : “Barangsiapa mengerjakan sesuatu yang diketahuinya, niscaya diberikan oleh Allah Ta’ala kepadanya ilmu pengetahuan yang belum pernah diketahuinya”.

Pada sebagian kita-kitab lama menyebutkan : “Hai Bani Israil, janganlah mengatakan ilmu itu ada dilangit, lantas siapakah yang menurunkannya ke bumi? Janganlah kamu mengatakan ilmu itu ada di perut bumi, lantas siapakah yang mengeluarkannya ke atas bumi? Dan janganlah kamu mengatakan ilmu itu ada di seberang lautan, lantas siapakah yang membawanya kemari? Ilmu itu dijadikan di dalam hatimu. Beradablah dihadapkanKu dengan adab orang-orang ruhaniah (ruhaniyyin), berbudi pekertilah kepadaKu dengan budi pekerti shiddiqin, maka akan Aku lahirkan ilu itu di dalam hatimu sehingga menutupimu dengan kebaikan dan kelebihan ilmu”.

Berkata Sahl bin Abdullah At-Tusturi r.a.: “Keluarlah orang-orang yang berilmu (Ulama’), orang-orang ahli ibadah (Ubbad), dan orang-orang zuhud (Zuhhad) dari dunia ini. Hati mereka terkunci dan tidak terbuka selain kepada orang-orang shiddiqin dan syuhada’ (orang-orang syahid)”. Kemudian Sahl membaca firman Allah Ta’ala : “Wa ‘indahu mafatihul ghaib, la ja’lamuha illa hu”. (Dan disisi Allah kunci-kunci perkara yang ghaib, tidak ada yang tahu, selain Allah) –S. Al-An’am, ayat: 59.

Jika bukan pengetahuan hati dari orang-orang yang memiliki nur kebatinan, yang menjadi hakim atas ilmu-ilmu dzahir, tentu tidaklah Rasulullah SAW bersabda : “Mintalah fatwa kepada hatimu, walaupun orang lain telah berfatwa kepadamu..telah berfatwa kepadamu..telah berfatwa kepadamu!”.

Rasulullah SAW bersabda akan wahyu yang diriwayatkan dari Tuhannya Yang Maha Tinggi : “Senantiasalah hambaKu mendekatkan dirinya kepadaKu dengan amal ibadah sunnat, sehingga Aku sayang kepadanya. Apabila Aku telah saying kepadanya, maka adalah Aku pendengarnya, dimana ia mendengar dengan pendengaran itu”.

Berapa banyak pengertian-pengertian yang halus dari rahasia-rahasia Al-Qur-an yang terguris dalam hati orang-orang yang berdzikir dan berfikir kepada Tuhan semata, yang tidak disebutkan dalam kitab-kitab tafsir dan tidak sampai kepadanya pandangan ahli-ahli tafsir yang utama.
Apabila terbuka hal yang demikian itu bagi murid yang ber-muraqabah, lalu dikemukakannya kepada Ulama’-ulama’ tafsir, niscaya mereka akan menerimanya dengan baik. Dan mereka itu mengetahui bahwa yang demikian itu adalah diantara pemberitahuan hati yang suci dan Rahmat Allah Ta’ala dengan cita-cita yang tinggi yang dicurahkan kepada murid tersebut.

Dan begitu pula tentang ilmu mukasyafah dan segala rahasia ilmu mu’amalah serta bisikan-bisikan hati yang halus. Maka tiap-tiap ilmu dari ilmu-ilmu ini adalah ibarat lautan yang tak terduga dalamnya. Kebanyakan orang hanya berkecimpung sekedar yang ia lihat dengan mata mereka, mereka seperti sekedar memakan buah saja tapi tak mau memikirkan dari mana asal buah itu

Monday, May 2, 2011

"Aku tidak tahu"


Dan diantara tanda-tanda Ulama akhirat adalah tidak tergesa-gesa dalam memberikan fatwa, tetapi berdiri teguh menjaga diri dari memberi fatwa selama masih ada jalan untuk melepaskan diri.

Jika ia ditanya tentang apa yang diketahuinya benar-benar dengan dalil (nash) Kitabullah atau Hadits atau Ijma’ atau Qiyas yang nyata, niscaya ia akan berfatwa. Dan jika ditanya tentang sesuatu yang meragukannya, maka ia akan menjawab : “saya tidak tahu (La adri)”. Tapi jika ia ditanya tentang sesuatu persoalan yang hampir diyakininya berdasarkan ijtihad dan terkaannya, maka dalam hal ini ia akan berhati-hati, mempertahankan diri dan menyerahkan jawabannya kepada orang lain yang sekiranya lebih dalam menguasai ilmu tentang persoalan tersebut.

Inilah yang dinamakan berhati-hati, karena ikut-ikutan berijtihad (mengatakan persoalan dengan kehendaknya sendiri tanpa didasari oleh Al-Qur’an dan Hadits) adalah besar sekali bahayanya. Karena “ilmu itu adalah Kitab yang berbicara dan Sunnah yang berdiri tegak”.

Asy-Sya’bi berkata : La adri (saya tidak tahu) adalah setengah ilmu. Barangsiapa berdiam diri (karena Allah Ta’ala) tentang sesuatu yang tidak diketahuinya, maka tidaklah mengurangi pahalanya daripada orang yang berkata-kata. Karena mengaku bodoh adalah suatu yang sangat berat bagi (kebanyakan) jiwa manusia, dan juga berat untuk dikatakan pada orang lain”.
Begitulah kebiasaan para Sahabat dan para Ulama salaf

Ibnu Umar apabila ditanyakan tentang fatwa, maka beliau menjawab : “Pergilah kepada amir itu yang menerima pikulan tanggung jawab segala urusan manusia (maksudnya : yang lebih menguasai), maka letakkannlah urusan itu ke pundaknya”.

Berkata Ibrahim Bin Adham r.a : “Tidak ada yang lebih menyulitkan bagi setan selain orang alim yang berkata dengan ilmunya, dan berdiam diri dengan ilmunya”. Setan itu akan berkata : “lihatlah kepada orang alim ini.!! Diamnya lebih sulit bagiku daripada ia berkata-kata”.

Sebagian Ulama’ men-sifatkan Wali Abdal (Al-abdal) --orang shaleh yang selalu ada di dunia ini, yang selalu digantikan oleh Tuhan apabila ada yang meninggal-- dengan mengatakan : “Orang shaleh itu makannya seperlunya saja, tidurnya kalau terpaksa, dan kata-katanya kalau sudah penting, artinya : mereka tidak berbicara sebelum ditanya, dan apabila ditanya lantas ada seseorang yang lebih mampu mencukupkan hajat mereka (yang bertanya), maka ia akan berdiam diri. Dan jika diperlukan, barulah ia berkata”.

Orang-orang shaleh itu memandang bahwa memulai berbicara sebelum ditanya adalah termasuk sebagian dari hawa nafsu (suka berbicara) yang tersembunyi.
Syaidina Ali r.a dan Syaidina Abdullah r.a melewati seorang laki-laki yang sedang berbicara di hadapan orang banyak, lalu berkatalah Syaidina Ali r.a : “Orang itu nanti akan mengatakan ‘kenalilah diriku’.!!“.

Sebagian Ulama’ juga mengatakan bahwa orang berilmu itu apabila ditanya suatu masalah, seperti dicabut giginya. Ibnu Umar berkata : “Kamu bermaksud menjadikan kami jembatan, yang akan kamu pakai menuju neraka jahannam”. Sekilas kata-kata tersebut memang sulit diterima akal sehat, tapi jika kita mengerti arti sejati dari diam, maka apa yang dikatakan beliau itu adalah benar adanya.

Abu Hafash An-Naisaburi berkata : “Orang alim itu ialah orang yang takut pada pertanyaan, dimana nanti ia akan ditanya pada hari Qiamat –dari manakah kamu peroleh jawaban itu?-”.
Adalah Ibrahim At-Taimi apabila ditanyakan tentang suatu masalah, lalu menangis seraya berkata : “Apakah tuan-tuan tidak mendapati orang lain yang lebih menguasainya, sehingga tuan-tuan mendesak?”.

Tatkala Rasulullah SAW ditanyakan tentang tempat yang terbaik dan yang terburuk dibumi, maka beliau menjawab : “La adri (saya tidak tahu)”. Lalu datanglah Malalikat Jibril a.s, lantas ditanyakan hal itu pada Malaikat Jibril a.s, Malaikat Jibril menjawab : “La adri (saya tidak tahu)”. Sehingga ia diberitahu oleh Allah Ta’ala, bahwa tempat yang terbaik (di bumi) adalah Masjid, dan tempat yang terburuk (di bumi) adalah pasar”.